Ringan Vonis Bid‘ah, Tapi Paling Doyan Sarapan Bid‘ah

RINGAN VONIS BID‘AH, TAPI PALING DOYAN SARAPAN BID‘AH

KAUM SALAPI WAHABI:

RINGAN VONIS BID‘AH, TAPI PALING DOYAN SARAPAN BID‘AH

(Sebuah Kajian Ilmiah atas Tantangan @Nafti Muyadi Cs)

#MER

Salafi–Wahabi menantang:

“Berikan satu hujjah saja dari Hadits Nabi atau Al-Qur’an tentang TAHLILAN.

Silakan mau bikin video atau tulisan segede gaban juga boleh, tapi isinya singkat saja—cukup satu hadis yang kuat atau satu ayat Al-Qur’an.”

Jawaban Aswaja:

Begini, Pi…

Sebelum kami menjawab dengan ayat dan hadits, ada baiknya kita bereskan dulu kebohongan metodologis dan kontradiksi internal fatwa Salapi Wahabi, agar diskusi ini tidak cacat sejak akarnya.

1. Klaim Manis vs Praktik Getir

Ust. Dr. Syafiq Risa Basalamah, LC, MA dengan nada menggebu menegaskan bahwa shalawat paling mulia adalah shalawat Ibrahimiyah, dan shalawat lain yang berkembang di masyarakat perlu “diluruskan” karena tidak bersumber dari Nabi.

Beliau bahkan mengimbau agar umat Islam hanya bershalawat dengan shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Fakta lapangan:

Dalam khutbah Jum‘at, beliau membaca shalawat dengan redaksi:

 صلوات ربي وسلامه وبركاته عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين

Pertanyaan ilmiahnya sederhana dan memalukan:

Apakah Nabi Muhammad pernah mengajarkan redaksi shalawat ini?

Jawabannya: TIDAK.

Tidak ada satu pun riwayat shahih yang memuat redaksi tersebut secara tekstual.

Artinya apa?

◇ Beliau menyusun sendiri redaksi shalawat.

Padahal, di mimbar yang sama, beliau menolak shalawat yang tidak dicontohkan Nabi.

Maka pertanyaan logisnya tak terelakkan:

• Mengapa beliau sendiri melakukannya?

• Apakah shalawat karangannya lebih afdhal dari shalawat Nabi?

• Atau bid‘ah hanya haram jika dilakukan selain Salapi Wahabi?

2. Pola yang Sama, Bukan Kasus Tunggal

Ust. Dr. Firanda Andirja, LC, MA juga kerap membaca shalawat dengan redaksi non-ma’tsur seperti:

 وأصلي وأسلم … إلخ

Sekali lagi:

tidak pernah diajarkan Nabi secara redaksi.

3. Syekh Rujukan Mereka Sendiri “Ikut Bid‘ah”?

Syekh Ibnu Baz, ikon Wahabi dan anggota Lajnah Daimah Saudi, membuka banyak fatwanya dengan redaksi:

 والصلاة والسلام على من لا نبي بعده

Apakah redaksi ini berasal dari Nabi ?

Jawabnya tetap sama: TIDAK.

Kalau standar Wahabi konsisten, maka:

• fatwa Ibnu Baz harus ditolak,

• dan beliau harus divonis pelaku bid‘ah.

Tapi faktanya? Mereka diam.

Karena ini “bid‘ah versi syekh”.

4. Masjid Nabawi: Bid‘ah atau Bumerang?

Lebih ironis–dan ini fakta lapangan,

di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, setiap takbiran Idul Fitri dan Idul Adha, dilantunkan shalawat dengan redaksi:

 وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

Apakah Nabi pernah mengajarkan redaksi ini?

Jawabannya lagi-lagi: TIDAK.

Lalu mengapa:

• diamalkan di dua kota suci,

• dipimpin ulama Saudi,

• tanpa ada yang berani menyebut bid‘ah?

Jika kaidah Wahabi benar bahwa

“setiap yang tidak dicontohkan Nabi adalah bid‘ah,”

maka secara logika internal mereka sendiri: para khatib Masjid Nabawi, ulama Saudi, dan ustadz Wahabi adalah pemakan bid‘ah harian.

Ini bukan cercaan,

ini konsekuensi logis dari kaidah mereka sendiri.

5. Fatwa Syekh Mereka: Menghancurkan Narasi Wahabi

Syekh Shalih Al-Munajjid (ulama Salafi Saudi kontemporer) menegaskan:

 لا حرج في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بأي لفظ يؤدي المعنى …

وأفضل صلاة عليه وأكملها هي الصلاة الإبراهيمية

Artinya:

Tidak berdosa bershalawat dengan lafaz apa pun selama maknanya benar,

Shalawat Ibrahimiyah paling afdhal dan paling sempurna,

bukan satu-satunya, dan bukan ukuran bid‘ah.

Sumber: Fatwa IslamQA nomor 209135

(disusun di bawah supervisi Syekh Salih Al-Munajjid, pendiri IslamQA).

Tulisan beliau:

• tidak memvonis bid‘ah,

• tidak mengharamkan,

• tidak menyesatkan.

Lalu pertanyaannya:

• Mengapa fatwa syekh ini tidak divonis bid‘ah?

• Mengapa justru Aswaja yang dituding?

Jawabannya pahit: karena ini tidak lagi soal sunnah, tapi selera.

6. Kesimpulan Sederhana tapi Mematikan

Bid‘ah versi Wahabi bukanlah “yang tidak dicontohkan Nabi”,

melainkan “yang tidak mereka sukai”.

Dan semakin terang:

Salapi Wahabi Indonesia kerap menyelisihi syekh-syekh Salapi Saudi yang mereka klaim sebagai figur rujukan.

Pertanyaan Pamungkas

Wahai Kaum Salapi Wahabi:

Antum mau ikut Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan ulama mu‘tabar,

atau ikut ustadz Salapi Wahabi Indonesia kelas standar—

kurang ngopi,

atau sudah ngopi tapi kurang kentel?

Bersambung…

@sorotan Yys Nurul Jadid Ahdi Afandi Abi Hamdan Maesa Rahman 

Sumber FB : Maesa Rahman

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ringan Vonis Bid‘ah, Tapi Paling Doyan Sarapan Bid‘ah". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit