
Antara Dakwah Nabi dan Fenomena Klaim "Salafy" Hari Ini
Belakangan ini, sering kita jumpai poster di media sosial yang menyamakan penolakan masyarakat terhadap kelompok dakwah tertentu dengan penolakan kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Narasinya sederhana: "Nabi dulu dimusuhi karena tauhid, maka kalau kami dimusuhi sekarang, itu tandanya kami di jalan Nabi." Namun, benarkah analogi ini bisa ditegakkan secara ilmiah dan sejarah? Jika kita bedah lebih dalam, ada beberapa kerancuan logika yang perlu kita luruskan agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan umat.
Pertama, soal siapa yang menentang. Kita harus jujur melihat sejarah: yang menentang dakwah Rasulullah adalah kaum yang belum beriman (kafir), bukan pengikut beliau. Sedangkan hari ini, perselisihan yang terjadi seringkali muncul di internal umat Islam sendiri. Menyamakan penolakan sesama Muslim dengan perlawanan kaum musyrikin Mekah adalah sebuah lompatan logika yang berisiko. Menolak gaya dakwah seseorang bukan berarti menolak tauhid; bisa jadi yang ditolak adalah cara penyampaiannya, sikap eksklusifnya, atau tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada sesama ahli kiblat.
Kedua, tentang klaim kepemilikan istilah "Salaf". Secara bahasa dan sejarah, "Salaf" adalah masa keemasan tiga generasi awal Islam. Warisan mereka tidak jatuh ke satu tangan saja. Umat Islam yang mengikuti empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) pada hakikatnya adalah pewaris manhaj Salaf yang sah secara sanad dan keilmuan. Ketika ada satu kelompok di zaman ini yang mengklaim bahwa hanya merekalah yang "paling Salaf" sementara yang lain dianggap melenceng, di situlah letak masalahnya. Klaim sepihak ini justru seringkali menjauhkan kita dari semangat Salaf yang asli, yang justru sangat menghargai perbedaan pendapat di antara para ulama.
Ketiga, dakwah itu soal isi dan cara. Banyak orang hari ini tidak membenci ajaran tauhid atau Sunnah Nabi, sebab setiap Muslim pasti mencintai keduanya. Yang menjadi titik konflik biasanya adalah perilaku oknum yang mengaku pengikut Salaf, namun cara berdakwahnya jauh dari sifat lembut dan bijak (hikmah) yang dicontohkan Salafus Shalih. Dakwah yang terlalu mudah menyalahkan, membid'ahkan, bahkan menganggap tradisi baik sebagai kesyirikan tanpa diskusi yang jernih, itulah yang memicu resistensi.
Inilah fenomena yang sering membuat masyarakat awam bingung. Di akhir zaman ini, fitnah sering kali dibungkus dengan jargon-jargon agama yang suci. Kita perlu lebih jeli: apakah seseorang sedang mendakwahkan agama untuk merangkul, atau hanya sedang memvalidasi kelompoknya sendiri dengan merasa menjadi "orang asing" (al-ghuraba) yang terzalimi?
Terakhir, menjadi pengikut Sunnah bukan sekadar soal jargon atau poster. Ia adalah tentang bagaimana kita menghidupkan tauhid dengan akhlak yang mulia, menghormati warisan ulama mazhab, dan memastikan bahwa dakwah kita membawa kedamaian, bukan perpecahan di tengah umat yang sudah bersyahadat.
Sumber FB Ustadz : Pardi Syahri