Mengapa Ateis dan Agnostik tetap Menanamkan Nilai Kebaikan?

Mengapa Ateis dan Agnostik tetap Menanamkan Nilai Kebaikan?

Mengapa Ateis dan Agnostik tetap menanamkan nilai kebaikan semisal keadilan, kejujuran, tanggung jawab dan sejenisnya?

Jawabannya, sebab naluri manusia selalu mengarahkannya pada agama. Semua nilai itu adalah nilai yang diajarkan agama dan hanya bisa berfungsi dengan konsisten dalam bangunan agama.

Tanpa agama, tak ada yang berhak mengatur orang lain atau makhluk lain. Atas dasar apa sebagian manusia ngatur-ngatur dan menekankan bahwa nilai ini benar dan nilai itu salah pada manusia lain?

Dalam bangunan logika ateisme dan agnostisisme, manusia hanya salah satu organisme yang tidak berbeda dari organisme lain yang kebetulan muncul dalam rantai evolusi pada waktu tertentu lalu musnah kembali ketika saatnya tiba. Tidak ada bedanya manusia dengan ayam, ikan, harimau, kera dan hewan lain dalam hal ini.

Kalau organisme lain bisa hidup tanpa nilai, manusia juga bisa. Kalau hewan sah memangsa hewan lainnya, bahkan sesamanya, maka manusia harusnya sah juga. Baik dan buruk hanya soal enak dan tidak enak bagi yang lebih berkuasa. Tidak relevan memunculkan diskusi soal benar salah sebagaimana anda tidak bisa berdiskusi soal ini dengan ayam, sapi, babi atau kera. 

Diskusi benar salah atau penerapan nilai-nilai hanya relevan bila manusia didudukkan sebagai hamba Tuhan. Yang menyuruh manusia berbuat adil, baik, jujur dan seterusnya adalah Tuhan selalu pencipta manusia. Yang membuat manusia berbeda dan istimewa sehingga boleh memakan ayam, sapi dan sejenisnya adalah Tuhan Sang Pencipta mereka. Yang melarang manusia menyakiti manusia lain juga Tuhan yang jelas punya otoritas untuk itu. Yang memberi HAM juga Tuhan, bukan manusia. Yang nanti marah dan meminta pertanggung jawaban di akhirat pada para pelanggar aturan adalah Tuhan juga.

Pengakuan terhadap eksistensi Tuhan dan aturan dalam bertuhan (agama) inilah yang menjadi asal muasal semua nilai kebaikan dalam dunia manusia. Kalau ini diabaikan, maka manusia tidak perlu dan tidak relevan dituntut harus begini dan begitu sebab toh akhirnya semua musnah begitu saja tanpa pertanggung jawaban apa-apa setelah itu. Sama seperti kita tidak bisa menyalahkan ikan di kolam karena memakan ikan lainnya atau menyalahkan manusia yang lalu menggoreng ikan tersebut atau menyalahkan cacing yang memakan jasad manusia itu di kuburan. 

Hanya saja, ateis dan agnostik denial dengan semua ini. Mereka sebagai manusia terpaksa mengakui nilai-nilai tapi dengan pongahnya membuang sumber nilai-nilai tersebut. Akhirnya tindakan mereka hambar dan pikirannya juga nggak konek. Selalu ada ruang kosong dalam jiwa manusia dan logika sehat bila sumber nilai itu dibuang. Akhirnya dengan malu-malu kucing nilai-nilai agama tetap diadopsi meski menghadapi inkonsistensi. 

Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Mengapa Ateis dan Agnostik tetap Menanamkan Nilai Kebaikan?". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit