Fikih Klasik Menjawab Problem Kekinian Umat Islam

Fikih Klasik Menjawab Problem Kekinian Umat Islam

Fikih Klasik Dan Problem Kekinian 

Alhamdulillah saya sangat bersyukur ketika Pondok Pesantren Syaikhona Kholil mengadakan kajian keilmuan yang menghadirkan banyak ulama dari Timur Tengah. Kita tidak repot-repot pergi ke sana, karena dengan hadirnya beliau ke Indonesia membawa banyak ilmu yang sudah menginternalisasi dalam jiwa yang soleh.

Kali ini adalah Syekh Umar Al-Khatib, Ketua bidang Fatwa di Pesantren Darul Musthofa yang didirikan oleh Sayidi Al Habib Umar bin Hafidh. Tema kali ini tentang "Peran Kitab-kitab Salaf Dalam Menghadapi Problem Kekinian". Saya sangat antusias dengan tema seperti ini sebab sosok seperti beliau inilah yang mampu menjadi jembatan fikih klasik dengan santri-santri kita hari ini, yang kelak mereka akan menghadapi situasi yang jauh berbeda. Sebagai pengamal Islam melalui jalur Mazhab jangan sampai santri masa depan kita lepas dari rel Mazhab.

Beliau menjelaskan bahwa kitab-kitab klasik, sebagian besar isinya masih relevan, karena ulama kita memiliki imajinasi hukum yang mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi di masa berikutnya. Saya 'sarikan' mukadimah beliau, kurang lebih seperti berikut:

الخيال في الفقه الإسلامي من العلماء القدمى فقه التوقع من اخر الصحابة واول التابعين يقال الافتراضي 

Fikih Imajiner sudah berlangsung sejak masa ulama terdahulu, di akhir masa Sahabat dan awal masa Tabiin. Fikih ini juga disebut dengan “Fikih Prediksi”.

Beliau mencontohkan sosok Imam Nawawi yang lahir pada tahun 1234 M. Masa itu belum ada mesin untuk mempercepat perjalanan. Anehnya di kitabnya, beliau menjelaskan bila jarak jauh dapat ditempuh dalam waktu singkat maka boleh salat Qasar. Berikut teksnya:

وَطَوِيلُ السَّفَرِ ثَمَانِيَةٌ وَأَرْبَعُونَ مِيلاً وَالْبَحْرُ كَالْبَرِّ فَلَوْ قَطَعَ الْأَمْيَالَ فِيهِ فِي سَاعَةٍ قَصَرَ

Perjalanan jauh yang membolehkan salat Qasar adalah 48 mil (perhitungan ulama saat ini sekitar 85 KM). Perjalanan laut sama seperti darat. Jika seseorang bisa melewati jalan bermil-mil dalam 1 jam maka boleh Qasar” (Minhaj, 1/56)

Hari ini, sesudah 900 tahun, sudah benar-benar terjadi. Perjalanan 1 jam pesawat atau kereta cepat mampu menempuh ratusan kilo meter, meski tidak sampai melelahkan sudah diperbolehkan untuk Qasar.

Contoh lain adalah penggunaan Ilmu Hisab untuk penentuan Ramadan. Di masa sekarang ilmu ini diidtilakan juga dengan ilmu astronomi. Menurut Imam As-Subki yang wafat 1370 M Ilmu Hisab dapat dijadikan penentu dalam kesaksian hilal Ramadan. Ketika terjadi pertentangan antara Hisab dan Rukyat, Imam Subki memilih Hisab. Berikut penjelasannya:

قال السبكي: لا تقبل هذه الشهادة، لان الحساب قطعي والشهادة ظنية، والظن لا يعارض القطع. والمعتمد قبولها، إذ لا عبرة بقول الحساب اهـ

“As-Subki berkata bahwa kesaksian ini ditolak. Sebab hisab sifatnya adalah pasti dan kesaksian adalah prakiraan. Hal yang sifatnya perkiraan tidak bisa mengalahkan yang pasti. Namun pendapat yang kuat adalah menerima kesaksian tersebut, karena pendapat ahli hisab tidak diterima”

Ulama yang dimaksud menolak Hisab adalah Imam Ar-Ramli dan ayahnya. Sementara jalan tengah disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar yang sangat relevan di masa sekarang. Berikut uraiannya: 

وفصل في التحفة فقال: الذي يتجه أن الحساب إن اتفق أهله على أن مقدماته قطعية وكان المخبرون منهم بذلك عدد التواتر، ردت الشهادة، وإلا فلا. اهـ

Ibnu Hajar memerinci dalam Tuhfah, bahwa jika perhitungan para ahli hisab telah menetapkan secara pasti, para ilmuan ahli hisab mencapai hitungan mutawatir (3 metode yang berbeda) maka kesaksian ditolak (Ianah, 2/243)

Beliau memberi ulasan yang sangat luas dengan beberapa contoh pendapat ulama klasik yang banyak terjadi di masa sekarang. Ini menunjukkan bahwa bacaan kitab-kitab fikih beliau sangat luas dan lintas Mazhab. Bahkan saat merinci pendapat ulama beliau mampu menyebut nama satu-persatu ulama tersebut.

Pada sesi tanya jawab, Alhamdulillah, ada seorang ustaz bertanya dan ada kaitan dengan kriteria yang saya tunggu sejak dulu. Yakni realitas fikih di Indonesia, yang diamalkan Nahdliyin dan kiai-kiai pesantren, terkadang mengambil pendapat kedua (lemah. Pas nulis ini saya ingat Mas Dosen Yaser Muhammad Arafat  yang pernah mengeluh lemah syawwat). Beliau menjelaskan kriterianya:

يجوز العمل في القول الضعيف بثلاثة شروط ان يكون القول موجودا في المذهب وان تكون حاجة الناس واضحة وان يكون اكثر العلماء يقولون به كحكم نقل الزكاة من بلد الى بلد وكحم صرف الزكاة  الى صنف واحد

“Ada 3 syarat dalam pengamalkan pendapat daif dalam Mazhab Syafii. Pertama, pendapat tersebut ada dalam koridor Mazhab. Kedua, keperluan umat Islam terhadap pendapat ini nampak jelas. Ketiga, pendapat ini disampaikan oleh banyak ulama. Seperti hukum kebolehan distribusi zakat ke daerah lain, menyerahkan zakat pada 1 golongan saja.”

Sumber FB Ustadz : Ma'ruf Khozin

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Fikih Klasik Menjawab Problem Kekinian Umat Islam". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit