Ciri-Ciri Wahabi Menurut Ulama Aswaja

Ciri-Ciri Wahabi Menurut Ulama Aswaja

Istilah “Wahabi” dalam khazanah keilmuan Islam tidak sekadar menunjuk pada sebuah nama, tetapi merujuk pada sebuah corak pemahaman keagamaan yang memiliki karakteristik tertentu. Para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) sejak dahulu telah mengkaji fenomena ini secara ilmiah, bukan dengan emosi, tetapi dengan neraca dalil, kaidah ushul, dan pengalaman sejarah umat. Karena itu, pembahasan tentang ciri-ciri Wahabi menurut ulama Aswaja penting agar kaum Muslimin mampu membedakan antara manhaj Ahlussunnah yang lurus dengan pemahaman yang menyimpang atau berlebihan dalam sebagian prinsipnya.

Dalam tradisi Aswaja, istilah Wahabi umumnya disandarkan kepada gerakan yang dinisbatkan kepada Muhammad bin عبد الوهاب di Jazirah Arab. Gerakan ini dikenal dengan semangat pemurnian tauhid, namun dalam praktiknya sering disertai dengan sikap keras dalam menghukumi amalan kaum Muslimin, mudah menuduh bid’ah, bahkan dalam sejarahnya sampai pada pengkafiran dan penghalalan darah sebagian umat Islam. Ulama Aswaja memandang bahwa problem utama bukan pada seruan kembali kepada tauhid, karena itu adalah inti dakwah para nabi, melainkan pada metodologi pemahaman dan penerapan dalil yang keluar dari manhaj jumhur ulama.

Memahami Istilah Wahabi dalam Kacamata Ulama

Para ulama Ahlussunnah menjelaskan bahwa penyebutan “Wahabi” bukan sekadar persoalan nama, tetapi menunjuk kepada pola pikir dan manhaj. Ciri utamanya adalah memahami nash secara sangat tekstual tanpa memperhatikan penjelasan para ulama mu’tabar, konteks dalil, serta kaidah-kaidah istinbath yang telah dibangun oleh para imam besar. Akibatnya, banyak persoalan khilafiyah yang sejak ratusan tahun diperselisihkan secara ilmiah, tiba-tiba diputuskan secara hitam-putih: siapa yang berbeda dianggap melakukan kesyirikan atau bid’ah sesat.

Dalam literatur Aswaja, pendekatan semacam ini dinilai berbahaya karena menutup pintu keluasan fiqih dan merusak adab ikhtilaf. Padahal, para imam mazhab sendiri berbeda pendapat dalam banyak masalah cabang, namun tetap saling menghormati dan tidak saling menyesatkan. Sikap mudah membid’ahkan dan menyesatkan inilah yang oleh banyak ulama disebut sebagai salah satu ciri utama manhaj Wahabi.

Sikap Keras dalam Masalah Khilafiyah

Ulama Aswaja menegaskan bahwa perbedaan pendapat dalam masalah cabang adalah keniscayaan. Namun dalam corak Wahabi, perbedaan ini sering tidak diperlakukan sebagai wilayah ijtihad, melainkan sebagai penyimpangan. Amalan yang telah dipraktikkan oleh mayoritas kaum Muslimin selama berabad-abad, seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dengan adab syar’i, seringkali langsung dicap sebagai bid’ah bahkan syirik tanpa menimbang dalil dan penjelasan para imam Ahlussunnah.

Padahal, dalam metodologi Aswaja, suatu amalan tidak boleh dihukumi sesat hanya karena tidak dipraktikkan oleh satu kelompok, selama memiliki dasar dari dalil umum, atsar sahabat, atau qiyas yang sah, serta dipahami oleh ulama mu’tabar. Mengabaikan warisan keilmuan ini dan langsung memvonis dengan satu sudut pandang dianggap sebagai bentuk penyempitan agama.

Pemahaman Tauhid yang Kaku dan Kurang Seimbang

Ulama Aswaja juga mengkritik cara sebagian kelompok Wahabi dalam membagi tauhid secara kaku dan menjadikan pembagian tersebut sebagai alat untuk menuduh syirik. Dalam pandangan Ahlussunnah, tauhid memang harus dijaga kemurniannya, tetapi pemahamannya harus mengikuti penjelasan ulama salaf dan khalaf yang lurus. Menisbatkan kesyirikan kepada kaum Muslimin hanya karena mereka melakukan tawassul atau memuliakan para wali dengan adab yang benar, dinilai sebagai bentuk ghuluw dalam memahami tauhid.

Aswaja memandang bahwa inti tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, keyakinan, dan ketergantungan hati. Selama seorang Muslim meyakini bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat secara hakiki, maka bentuk perantara dalam doa atau penghormatan kepada orang saleh tidak otomatis keluar dari tauhid, sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh para imam dalam kitab-kitab aqidah dan fiqih.

Mengabaikan Otoritas Ulama Mazhab

Salah satu ciri lain yang sering disorot ulama Ahlussunnah adalah sikap meremehkan otoritas para imam mazhab. Dalam tradisi Wahabi, sering muncul anggapan bahwa mengikuti mazhab adalah bentuk taqlid buta, sehingga setiap orang merasa berhak langsung mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah tanpa melalui metodologi para mujtahid. Padahal, para imam mazhab adalah ulama besar yang menguasai bahasa Arab, ilmu hadits, ushul fiqih, nasikh-mansukh, dan berbagai disiplin ilmu yang menjadi syarat ijtihad.

Aswaja memandang bahwa mengikuti mazhab bukan berarti menutup pintu dalil, tetapi justru mengikuti pemahaman dalil melalui jalur keilmuan yang aman. Mengabaikan mazhab dan merasa cukup dengan pemahaman pribadi berpotensi melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang keliru dan bertentangan dengan ijma’ kaum Muslimin.

Mudah Membid’ahkan dan Menyesatkan Amalan Kaum Muslimin

Di antara ciri yang paling sering disorot oleh ulama Ahlussunnah Wal Jamaah adalah sikap sebagian kalangan Wahabi yang sangat longgar dalam melabeli bid’ah, bahkan syirik, terhadap amalan yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka. Banyak praktik keagamaan yang telah dikenal luas dalam tradisi Islam, diajarkan oleh para ulama, dan diamalkan oleh mayoritas kaum Muslimin, namun tetap divonis sebagai kesesatan hanya karena tidak ditemukan secara eksplisit dalam bentuk praktik yang sama pada masa awal Islam.

Ulama Aswaja menegaskan bahwa bid’ah dalam pengertian syar’i harus ditimbang dengan kaidah yang ketat, bukan sekadar berdasarkan perasaan atau sempitnya pemahaman. Tidak setiap perkara baru otomatis sesat, selama berada dalam koridor dalil umum dan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Cara pandang yang terlalu sempit inilah yang dinilai melahirkan kegaduhan di tengah umat dan merusak persatuan.

Sikap Keras dalam Berdakwah dan Berinteraksi

Aswaja juga mengkritik metode dakwah yang cenderung kasar, mudah menyalahkan, dan minim adab terhadap sesama Muslim. Padahal, para ulama menekankan bahwa kelembutan, hikmah, dan kesabaran merupakan bagian penting dari dakwah Nabi dan para sahabat. Ketika dakwah disampaikan dengan nada merendahkan, memvonis, dan menutup ruang dialog, maka yang lahir bukan perbaikan umat, melainkan perpecahan.

Dalam sejarah, pendekatan keras ini bahkan pernah berkembang menjadi tindakan fisik, penyerangan terhadap wilayah kaum Muslimin, dan pengkafiran massal. Ulama Ahlussunnah memandang bahwa kekerasan semacam ini bukanlah cerminan manhaj salaf yang sejati, karena para salaf sangat menjaga darah, kehormatan, dan persatuan umat.

Memisahkan Diri dari Jamaah Kaum Muslimin

Ciri lain yang disorot para ulama adalah kecenderungan memisahkan diri dari arus besar umat Islam. Manhaj Ahlussunnah menekankan pentingnya tetap bersama jamaah, mengikuti mayoritas ulama mu’tabar, dan tidak membuat barisan eksklusif yang merasa paling benar sendiri. Ketika suatu kelompok mengklaim bahwa hanya merekalah yang bertauhid murni sementara mayoritas umat dianggap terjatuh dalam kesyirikan atau bid’ah, maka sikap ini bertentangan dengan prinsip jamaah yang diajarkan dalam tradisi Aswaja.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah, ciri-ciri Wahabi dapat diringkas dalam beberapa poin utama: memahami dalil secara kaku tanpa merujuk secara utuh kepada metodologi para imam, mudah membid’ahkan dan menyesatkan amalan kaum Muslimin, bersikap keras dalam masalah khilafiyah, meremehkan otoritas mazhab, serta cenderung memisahkan diri dari jamaah besar umat Islam. Kritik ini bukan didorong oleh kebencian, tetapi oleh tanggung jawab ilmiah untuk menjaga kemurnian manhaj salaf yang sejati, yang dibangun di atas ilmu, adab, keseimbangan, dan persatuan.


Daftar Sumber

  1. Kajian tentang Pendaku Salafi
  2. Kajian tentang Wahabi
  3. Kajian tentang Takfiri
  4. Persamaan Wahabi Taymiy dengan Ateisme
  5. Sikap Ulama Aswaja terhadap Wahabi
© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ciri-Ciri Wahabi Menurut Ulama Aswaja". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit