Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah Menurut Ulama

Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah Menurut Ulama

Ahlussunnah Wal Jamaah adalah istilah yang digunakan oleh para ulama untuk menyebut golongan kaum Muslimin yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah ﷺ dan tetap berada di atas jalan jamaah kaum beriman sebagaimana yang ditempuh oleh para sahabat, tabi’in, serta para imam mujtahid. Istilah ini tidak muncul sebagai sekadar nama kelompok, tetapi sebagai penanda manhaj (metodologi) dalam memahami agama, baik dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak.

Dalam tradisi keilmuan Islam, Ahlussunnah Wal Jamaah dipahami sebagai mereka yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama, lalu memahaminya dengan penjelasan para sahabat dan ulama mu’tabar. Jalan ini menjaga umat dari sikap berlebih-lebihan dalam beragama, sekaligus melindungi dari sikap meremehkan ajaran syariat. Karena itu, para ulama menyebut manhaj ini sebagai jalan pertengahan yang lurus, tidak ekstrem dan tidak pula longgar.

Makna Ahlussunnah dan Makna Jamaah

Kata Ahl berarti pengikut atau orang-orang yang memiliki keterikatan. Sunnah berarti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan. Sedangkan Jamaah bermakna kumpulan kaum Muslimin yang bersatu di atas kebenaran, mengikuti para sahabat dan para imam yang lurus. Dengan demikian, Ahlussunnah Wal Jamaah adalah mereka yang mengikuti Sunnah Nabi ﷺ dan tetap bersama jamaah kaum Muslimin yang berpegang pada kebenaran.

Para ulama menjelaskan bahwa makna “jamaah” bukan sekadar berkumpul secara jumlah, tetapi bersatu di atas aqidah dan manhaj yang benar. Karena itu, seseorang bisa saja hidup di tengah mayoritas, tetapi jika menyelisihi pokok ajaran yang telah disepakati para ulama, maka ia tidak termasuk dalam makna jamaah yang dimaksud.

Landasan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Dalam masalah aqidah, Ahlussunnah Wal Jamaah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah dan tanpa mengurangi. Mereka beriman kepada Allah dengan sifat-sifat yang Dia tetapkan dalam wahyu, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolaknya. Jalan ini ditempuh oleh para sahabat, lalu diteruskan oleh para imam besar dari kalangan salaf dan khalaf.

Para ulama Ahlussunnah menegaskan bahwa akal memiliki kedudukan penting dalam memahami dalil, namun akal tidak boleh dijadikan hakim yang mengalahkan nash. Akal berfungsi sebagai alat untuk memahami, bukan sebagai penentu kebenaran yang berdiri sendiri. Dengan prinsip ini, aqidah Islam tetap terjaga dari penyimpangan, baik yang bersumber dari pemikiran filsafat yang berlebihan maupun dari pemahaman tekstual yang kaku.

Kedudukan Para Imam dalam Menjaga Manhaj Aswaja

Dalam sejarah Islam, muncul para imam besar yang membela aqidah Ahlussunnah dan merumuskannya dalam bentuk ilmu yang terstruktur. Di antaranya adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Keduanya bukan pembuat aqidah baru, tetapi penjelas aqidah salaf dengan metode ilmiah yang mampu menjawab berbagai syubhat pada zamannya.

Melalui jasa para imam inilah, aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah tersusun rapi dalam kitab-kitab tauhid dan ilmu kalam yang lurus. Para ulama setelah mereka, baik dari kalangan ahli hadits, fuqaha, maupun mufassir, berada di atas manhaj yang sama, meskipun berbeda dalam rincian metode dan istilah.

Peran Ulama dalam Menjaga Kesatuan Jamaah

Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah memiliki peran besar dalam menjaga umat agar tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka mengajarkan adab dalam berbeda pendapat, membedakan antara masalah pokok yang tidak boleh diperselisihkan dan masalah cabang yang lapang untuk khilaf. Dengan cara ini, persatuan umat tetap terjaga tanpa harus mengorbankan prinsip kebenaran.

Manhaj ini mengajarkan bahwa perselisihan yang dibangun di atas hawa nafsu dan fanatisme kelompok adalah sumber perpecahan, sedangkan perbedaan yang lahir dari ijtihad ilmiah dengan adab yang benar adalah rahmat dan kekayaan khazanah Islam.

Posisi Ahlussunnah Wal Jamaah di Tengah Berbagai Aliran

Sejak masa awal Islam hingga sekarang, umat ini selalu dihadapkan pada munculnya berbagai aliran pemikiran. Sebagian di antaranya muncul karena semangat beragama yang tidak diimbangi dengan ilmu, sebagian lagi karena pengaruh filsafat, politik, atau hawa nafsu. Di tengah semua itu, Ahlussunnah Wal Jamaah berdiri sebagai penjaga keseimbangan antara dalil naqli dan dalil aqli, antara nash dan pemahaman para ulama.

Ulama Aswaja menegaskan bahwa kebenaran tidak diukur dengan tokoh atau kelompok, melainkan dengan kesesuaian kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini. Prinsip inilah yang membuat Ahlussunnah Wal Jamaah tidak mudah terombang-ambing oleh wacana baru yang bertentangan dengan kaidah agama, namun juga tidak menutup diri dari penjelasan ilmiah yang sahih.

Ahlussunnah Wal Jamaah dan Empat Mazhab Fikih

Dalam bidang fikih, mayoritas ulama Ahlussunnah mengikuti salah satu dari empat mazhab yang masyhur: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Keempat mazhab ini berdiri di atas dasar yang sama, yaitu Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas, serta dihormati oleh para ulama sepanjang sejarah. Perbedaan di antara mereka adalah perbedaan dalam metode istinbath, bukan perbedaan dalam pokok agama.

Kesetiaan kepada mazhab bukanlah fanatisme buta, melainkan bentuk penghormatan kepada disiplin ilmu dan sanad keilmuan yang bersambung hingga generasi salaf. Dengan mengikuti mazhab, umat terjaga dari penafsiran serampangan terhadap dalil dan dari kecenderungan mengambil hukum hanya berdasarkan selera pribadi.

Akhlak dan Sikap Ahlussunnah Wal Jamaah

Salah satu ciri penting Ahlussunnah Wal Jamaah adalah keseimbangan antara keteguhan dalam prinsip dan kelembutan dalam akhlak. Mereka tegas dalam menjaga aqidah dan syariat, namun tetap menjunjung tinggi adab, hikmah, dan kasih sayang dalam berdakwah. Ulama Aswaja mengingatkan bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa adab dapat berubah menjadi sumber fitnah dan perpecahan.

Dalam menghadapi penyimpangan, Ahlussunnah Wal Jamaah menempuh jalan ilmiah, dengan hujjah yang jelas dan penjelasan yang adil. Mereka tidak mudah mengkafirkan, tidak tergesa-gesa membid’ahkan, dan tidak menjadikan perbedaan ijtihad sebagai alasan untuk memutus ukhuwah. Sikap inilah yang diwariskan oleh para imam besar dan menjadi ciri khas manhaj Aswaja sepanjang masa.

Kesimpulan

Ahlussunnah Wal Jamaah adalah jalan umat Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan ulama mu’tabar. Ia bukan sekadar nama, tetapi manhaj yang mencakup aqidah, ibadah, fikih, dan akhlak. Di atas jalan inilah para imam besar, para ahli hadits, para fuqaha, dan para ulama tafsir berjalan, menjaga agama ini dari penyimpangan dan perpecahan.

Dengan mengikuti manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, seorang Muslim tidak hanya menjaga kemurnian keyakinannya, tetapi juga menjaga persatuan umat, menghormati perbedaan ijtihad, serta menapaki jalan tengah yang lurus sebagaimana diwariskan oleh generasi terbaik umat ini.

Daftar Sumber

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah Menurut Ulama". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit