Anjuran Syariat untuk Berkumpul dalam Dzikir dan Dalil-dalilnya

Anjuran Syariat untuk Berkumpul dalam Dzikir dan Dalil-dalilnya

Anjuran Syariat untuk Berkumpul dalam Dzikir dan Dalil-dalilnya

Telah datang perintah syariat untuk berdzikir kepada Allah Ta‘ala. Telah ditetapkan dalam kaidah bahwa perintah yang bersifat mutlak mencakup seluruh waktu, tempat, orang, dan keadaan. Maka perintah tersebut bersifat luas. Apabila Allah Subhanahu wa Ta‘ala mensyariatkan suatu perintah secara mutlak, dan perintah itu memungkinkan untuk dilakukan dengan lebih dari satu cara dan bentuk pelaksanaan, maka ia diambil sesuai dengan kemutlakan dan keluasan maknanya. Tidak sah membatasinya pada satu cara tertentu tanpa adanya dalil.

Telah datang dalil-dalil syar‘i dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang saling menguatkan dalam menganjurkan majelis-majelis dzikir dan berkumpul di dalamnya. Di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala kepada Nabi-Nya yang mulia ﷺ:

 “Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Dan tidaklah samar bahwa pelaksanaan perintah untuk bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah terwujud dengan ikut serta secara berjamaah dalam doa dan dzikir.

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنهما, keduanya bersaksi bahwa Nabi ﷺ bersabda:

 “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah عز وجل, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari para ahli dzikir. فإذا mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling menyeru: ‘Marilah menuju kebutuhan kalian.’ Lalu para malaikat mengelilingi mereka dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia…”

(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Darul Ifta

Dalil-dalil Berkumpul untuk Dzikir dan Mengeraskannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Allah berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu majelis, Aku mengingatnya dalam majelis yang lebih baik darinya.”

Dan dzikir di dalam majelis tidak terjadi kecuali dengan suara keras.

Dari Jabir رضي الله عنه, ia berkata:

 “Nabi ﷺ keluar menemui kami lalu bersabda: ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah memiliki pasukan-pasukan dari malaikat yang singgah dan berhenti di majelis-majelis dzikir di bumi. Maka berbahagialah kalian di taman-taman surga.’

Mereka bertanya: ‘Di manakah taman-taman surga itu?’

Beliau menjawab: ‘Majelis-majelis dzikir. Maka pergilah pagi dan sore dalam dzikir kepada Allah.’”

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai mereka mengatakan: dia gila.” ([1])

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik mengatakan: sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang riya.”

Sisi pendalilan dari dua hadits ini adalah bahwa ucapan semacam itu hanya muncul ketika dzikir dilakukan dengan suara keras, bukan secara pelan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah taman-taman surga itu?”

Beliau menjawab: “Halaqah-halaqah (lingkaran-lingkaran) dzikir.”

Dari Abu ‘Ubaid, ia berkata:

 “Sesungguhnya jika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi berseru: ‘Hamba Allah yang mukmin telah meninggal.’ Maka bumi dan langit menangisinya. Lalu Ar-Rahman berfirman: ‘Mengapa kalian menangisi hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah ia berjalan di suatu tempat pun melainkan ia selalu berdzikir kepada-Mu.’”

Sisi pendalilan darinya adalah bahwa didengarnya dzikir oleh bumi dan gunung-gunung tidak terjadi kecuali dengan suara keras. ([2])

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Allah Ta‘ala berfirman: Wahai hamba-Ku, jika engkau mengingat-Ku dalam kesendirian, Aku mengingatmu dalam kesendirian. Dan jika engkau mengingat-Ku dalam suatu majelis, Aku mengingatmu dalam majelis yang lebih baik dan lebih banyak.”

Ibnu Al-Adra‘ berkata:

 “Aku berjalan bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Lalu beliau melewati seorang lelaki di masjid yang mengeraskan suaranya. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, semoga dia ini orang yang riya.’ Beliau bersabda: ‘Tidak, tetapi dia adalah orang yang banyak mengeluh dan merendahkan diri kepada Allah (awwāh).’”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang seorang lelaki bernama Dzul-Bijadain:

 “Sesungguhnya dia adalah seorang awwāh, karena dia banyak berdzikir kepada Allah.” ([3])

Dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, bahwa ada seorang lelaki yang mengeraskan suaranya dalam dzikir. Maka seseorang berkata: “Seandainya dia merendahkan suaranya.” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Biarkan dia, karena dia adalah awwāh.” ([4])

Dari Syaddad bin Aus رضي الله عنه, ia berkata:

 “Kami sedang bersama Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: ‘Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkan: Laa ilaaha illallah.’ Maka kami mengangkat tangan-tangan kami. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan kalimat ini, memerintahkanku dengannya, dan menjanjikanku surga atasnya. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Bergembiralah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.’” ([5])

Dari Abu Razin Al-‘Uqaili رضي الله عنه:

 “Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu pokok perkara yang dengannya engkau memperoleh kebaikan dunia dan akhirat?’ Ia menjawab: ‘Tentu.’ Beliau bersabda: ‘Hendaklah engkau menghadiri majelis-majelis dzikir. Dan jika engkau menyendiri, maka gerakkanlah lisanmu dengan dzikir kepada Allah.’” ([6])

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata:

 “Mengeraskan suara dalam dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardhu adalah pada masa Nabi ﷺ. Ibnu Abbas berkata: Aku mengetahui mereka telah selesai jika aku mendengarnya.” ([7])

Dari As-Sa’ib رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jibril datang kepadaku lalu berkata: Perintahkanlah para sahabatmu agar mereka mengeraskan suara mereka dalam takbir.” ([8])

Dari Mujahid, bahwa Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah رضي الله عنهما datang ke pasar pada hari-hari sepuluh (Dzulhijjah), mereka bertakbir. Mereka tidak datang ke pasar kecuali untuk itu. Diriwayatkan pula dari ‘Ubaid bin ‘Umair bahwa Umar رضي الله عنه bertakbir di dalam kemahnya, lalu ahli masjid bertakbir, lalu ahli pasar bertakbir, hingga Mina bergemuruh dengan suara takbir. ([9])

Diriwayatkan pula dari Maimun bin Mihran, ia berkata:

 “Aku mendapati manusia, mereka bertakbir pada hari-hari sepuluh itu hingga aku menyamakannya seperti ombak karena banyaknya.”

Imam An-Nawawi berkata:

 “Ketahuilah bahwa sebagaimana dzikir itu dianjurkan, demikian pula dianjurkan duduk dalam halaqah-halaqah para ahli dzikir. Dalil-dalil tentang hal itu telah saling menguatkan. Cukuplah dalam hal ini hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Jika kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.’

Mereka bertanya: ‘Apa itu taman-taman surga wahai Rasulullah?’

Beliau menjawab: ‘Halaqah-halaqah dzikir. Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling mencari halaqah-halaqah dzikir. Jika mereka mendatangi mereka, mereka mengelilingi mereka.’” ([10])

Dalam hadits dari Ya‘la bin Syaddad, ia berkata:

 “Ayahku Syaddad menceritakan kepadaku, dan ‘Ubadah bin Ash-Shamit hadir membenarkannya. Ia berkata: Kami bersama Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: ‘Apakah ada orang asing (Ahlul Kitab) di sini?’ Kami menjawab: ‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Maka beliau memerintahkan agar pintu ditutup, lalu bersabda: ‘Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkan: Laa ilaaha illallah.’ Maka kami mengangkat tangan-tangan kami. Kemudian beliau meletakkan tangannya dan bersabda: ‘Segala puji bagi Allah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan kalimat ini, memerintahkanku dengannya, dan menjanjikanku surga atasnya. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Ketahuilah, bergembiralah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.’” ([11])

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1H9GwuQAGp/?mibextid=wwXIfr

Teks asli:

‎حث الشرع الشريف على الاجتماع للذكر والأدلة على ذلك

‎ورد الأمر الشرعي بذكر الله تعالى، ومن المقرر أن الأمر المطلق يستلزم عموم الأزمنة والأمكنة والأشخاص والأحوال؛ فالأمر فيه واسعٌ، وإذا شرع الله سبحانه وتعالى أمرًا على جهة الإطلاق وكان يحتمل في فعله وكيفية إيقاعه أكثر من وجهٍ، فإنه يؤخذ على إطلاقه وسعته، ولا يصح تقييده بوجهٍ دون وجهٍ إلا بدليل.

‎وقد جاءت الأدلة الشرعيَّة من القرآن الكريم والسُّنَّة النبوية متضافرةً في الحثِّ على مجالس الذِّكر والاجتماع عليها؛ ومن ذلك قول الله تعالى مخاطبًا نبيه الكريم صلى الله عليه وآله وسلم: ﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ﴾ [الكهف: 28] ، ولا يخفى أن امتثال الأمر بمعية الداعين لله يحصل بالمشاركة الجماعية في الدعاء.

‎وعن أبي هريرة وأبي سعيد الخدري رضي الله عنهما أنهما شَهِدَا على النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه قال: «لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ» أخرجه الإمام مسلم في "الصحيح".

‎وعن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وآله وسلم قال: «إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ. قَالَ: فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا.. الحديث» رواه الإمام البخاري في "الصحيح".

‎دار الإفتاء 

‎أدلة الاجتماع على الذكر والجهر به

‎قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “يقول الله: أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا ذكرني فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي وإن ذكرني في ملا ذكرته في ملا خير منه” والذكر في الملاً لا يكون إلا عن جهر.

‎عن جابر قال: “خرج علينا النبـي صلى الله عليه وسلم فقال: “يا أيها الناس إن لله سراياً من الملائكة تحل وتقف على مجالس الذكر في الأرض فارتعوا في رياض الجنة”، قالوا: وأين رياض الجنة؟ قال: “مجالس الذكر فاغدوا وروحوا في ذكر الله”.

‎قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “أكثروا ذكر الله حتى يقولوا مجنون” ([1])

‎قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “أكثروا ذكر الله حتى يقول المنافقون إنكم مراؤون”

‎ووجه الدلالة من هذا والذي قبله أن ذلك إنما يقال عند الجهر دون الإسرار“

‎قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا” قالوا: يا رسول الله وما رياض الجنة؟ قال: “حلق الذكر”.

‎عن أبـي عبيد قال: إن المؤمن إذا مات نادت بقاع الأرض عبد الله المؤمن مات فتبكي عليه الأرض والسماء فيقول الرحمن: ما يبكيكما على عبدي؟ فيقول ربنا لم يمش في ناحية منا قط إلا وهو يذكرك. وجه الدلالة من ذلك أن سماع الجبال والأرض للذكر لا يكون إلا عن الجهر به ” ([2]).

‎ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “قال الله تعالى: عبدي إذا ذكرتني خالياً ذكرتك خالياً، وإن ذكرتني في ملأ ذكرتك في ملأ خير منهم وأكثر”.

‎قال ابن الأدرع: “انطلقت مع النبي صلى الله عليه وسلم ليلة فمر برجل في المسجد يرفع صوته قلت: يا رسول الله عسى أن يكون هذا مرائياً؟ قال: “لا ولكنه أواه”

‎روى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لرجل يقال له ذو البجادين، إنه أواه وذلك أنه كان يذكر الله” ([3])

‎عن جابر بن عبد الله أن رجلاً كان يرفع صوته بالذكر فقال رجل: لو أن هذا خفض من صوته فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “دعه فإنه أواه”. ([4])  .

‎عن شداد بن أوس قال: “إنا لعند النبي صلى الله عليه وسلم إذ قال: ارفعوا أيديكم فقولوا لا إله إلا الله ففعلنا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “اللهم إنك بعثتني بهذه الكلمة وأمرتني بها ووعدتني عليها الجنة إنك لا تخلف الميعاد ثم قال: أبشروا فإن الله قد غفر لكم”. ([5]).

‎عن أبـي رزين العقيلي “أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له: ألا أدلك على ملاك الأمر الذي تصيب به خيري الدنيا والآخرة؟ قال: بلى، قال: عليك بمجالس الذكر وإذا خلوت فحرك لسانك بذكر الله”. ([6])

‎عن ابن عباس قال: إن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، قال ابن عباس: كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته([7]).

‎عن السائب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “جاءني جبريل فقال: مر أصحابك يرفعوا أصواتهم بالتكبير”. ([8])  .

‎عن مجاهد أن عبد الله بن عمر، وأبا هريرة كانا يأتيان السوق أيام العشر فيكبران لا يأتيان السوق إلا لذلك، وأخرج أيضاً عن عبيد بن عمير قال: كان عمر يكبر في قبته فيكبر أهل المسجد فيكبر أهل السوق حتى ترتج منى تكبيراً. ([9])

‎وأخرج أيضاً عن ميمون بن مهران قال: أدركت الناس وأنهم ليكبرون في العشر حتى كنت أشبهها بالأمواج من كثرتها.”

‎يقول الإِمام النَّوَوي: ” اعلم أنه كما يُستحبُّ الذكر يُستحبُّ الجلوس في حِلَق أهله، وقد تظاهرت الأدلة على ذلك، ويكفي في ذلك حديث ابن عمر رضي اللّه عنهما قال: قال رسول اللّهصلى الله عليه وسلم : “إذا مَرَرْتُمْ بِرِياضِ الجَنَّةِ فارْتَعُوا. قالُوا: وَمَا رِياضُ الجَنَّةِ يا رَسُولَ اللّه؟! قالَ: حِلَقُ الذّكْرِ، فإنَّ للّه تعالى سَيَّارَاتٍ مِنَ المَلائِكَةِ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذّكْرِ، فإذَا أَتَوْا عَليْهِمْ حَفُّوا بِهِمْ”. ([10])  .

‎وفي الحديث عن يعلى بن شداد قال: حدثني أبي شداد وعبادة بن الصامت حاضر يصدقه. قال: كنا ثم النبي صلى الله عليه وسلم فقال غريب يعني أهل الكتاب. قلنا: لا يا رسول الله فأمر بغلق الباب، وقال: “ارفعوا أيديكم وقولوا لا إله إلا الله، فرفعنا أيدينا ساعة ثم وضع –صلى الله عليه وسلم يده ثم قال: الحمد لله اللهم إنك بعثتني بهذه الكلمة وأمرتني بها ووعدتني عليها الجنة إنك لا تخلف الميعاد: ثم قال: ألا أبشروا فإن الله قد غفر لكم” ([11])

‎([1])  رواه أحمد وابن حبان والحاكم وابن السنى وغيرهم

‎([2])  أخرجه ابن أبـي الدنيا .

‎([3])  أخرجه البيهقي عن عقبة بن عامر

‎([4])  وأخرج البيهقي

‎([5])  أخرجه الحاكم .

‎([6])  أخرجه الأصبهاني في الترغيب

‎([7])  أخرجه الشيخان

‎([8])  أخرجه أحمد، وأبو داود، والترمذي وصححه، والنسائي، وابن ماجه

‎([9])  أخرج المروزي في كتاب العيدين

‎([10])  الإمام النووى في كتابه الأذْكَار .

‎([11])  أخرجه أحمد والطبراني والبزار ورجاله موثقون

‎#صوت_الأزهريين 

‎@أبرز المعجبين 

Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Anjuran Syariat untuk Berkumpul dalam Dzikir dan Dalil-dalilnya". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit