Ketika Ulama Besar Berbeda Pandangan: Kisah Al-Auza’i, Abu Hanifah, dan Abdullah bin Al-Mubarak

Ketika Ulama Besar Berbeda Pandangan: Kisah Al-Auza’i, Abu Hanifah, dan Abdullah bin Al-Mubarak

Menyempurnakan Cerita

Tokoh dalam kisah ini pertama adalah Al Imam Abdul Rahman al Auzā’iyy. Dia adalah tokoh besar di Andalusia, Maghrib dan terutama di Syam (mencakup Siria, Lebanon, Palestina dan Yordania), tempat ia tinggal. Ia lahir di Lebanon, dan punya kesempatan untuk belajar di sejumlah tempat, di antaranya Damaskus, Kufah, Basrah, Makkah dan Madinah. Fikih yang dia ajarkan menjadi mazhab tersendiri di Syam, dan bahkan merambah ke Maghrib dan Andalusia. Ia adalah salah satu tokoh sentral di Syam, bahkan bagi orang Kristiani di Lebanon dia adalah pahlawan karena pembelaannya terhadap ahli dzimmah. Namun dengan segala ketokohannya ini, saat wafat ia hanya meninggalkan 7 dinar dan tanpa punya tanah dan rumah. Ia adalah sang zahid sejati.

Tokoh yang kedua adalah Abu Hanifah. Ia adalah generasi ketiga dalam keluarganya sebagai muslim. Kakeknya adalah generasi pertama yang masuk Islam, ia adalah muallaf. Ayah dan kakeknya adalah para pedagang yang sukses. Abu Hanifah pada mulanya meniti karir sebagai pedagang sebagaimana keluarganya, sebelum bertemu dengan Imam al Sya’biyy yang mengubah orientasinya sehingga menjadi imam besar dalam fikih. Ia adalah si kaya raya yang menginfakkan kekayaannya salah satunya untuk mendidik dan membiayai santri-santrinya. Salah satu kegemarannya adalah membaca Al Quran. Berbagai riwayat menyatakan bahwa ia bahkan bisa mengkhatamkan Al Quran dalam satu salat. 

Tokoh yang ketiga adalah Abdullah bin Al Mubarak. Ia adalah ahli Hadis yang mencintai ilmu dengan sepenuh jiwa. Al Żahabiyy menyebutnya dengan ‘Ālimu zamānih wa amīr al atqiyā`, orang yang sangat alim pada eranya dan pemimpin orang-orang takwa di masanya. Ia juga adalah pedagang yang sukses. Rumahnya di Marwa memiliki pelataran (ṣaḥn) yang cukup besar. Di sini seringkali berkumpul para ulama, ahli ibadah dan mereka yang terpandang secara sosial. Jika Abdullah bin al Mubarak datang maka mereka semua mengitarinya. Namun begitu, di Kufah ia tinggal di rumah yang kecil. “Saya di sini meninggalkan kemewahan (Marwa) yang tampak engkau sukai itu,” katanya kepada si penanya. Suatu saat, ia ikut berkerumun dalam pembagian air minum. Ia terdesak dan bahkan terdorong dalam kerumunan. “Demikiain seharusnya kita menjalani hidup. Tak dikenal dan tak ada penghormatan,” katanya.

Sekarang, mari kita dengarkan penuturan Abdullah bin al Mubarak sebagaimana diriwayatkan oleh Al Khaṭīb al Baġdādiyy dalam Tārīkh-nya:

Saya datang ke Syam mengunjungi Imam Al Auzā’iyy. Saya bertemu dengannya di Beirut. “Wahai orang Khurasan, siapa ahli bid’ah yang muncul di Kufah itu, yang berkunyah Abu Hanifah?” tanya dia (tentang Abu Hanifah). 

Saya pulang ke rumah. Saya membuka buku-buku (karya) Abu Hanifah. Saya pilihkan sejumlah persoalan di antara berbagai persoalan yang mempesona (dari Abu Hanifah). Tiga hari saya mengerjakan itu (memilih sejumlah persoalan dan menuliskannya dalam sebuah risalah). Di hari yang ketiga itu, saya kembali mengunjungi Al Auzā’iyy saat ia berada di masjid yang ia adalah muazzin dan imamnya, sementara buku itu saya pegang di tangan.

“Tentang apa kitab ini?” kata dia. Maka, saya serahkan kitab itu kepadanya. Ia lalu menatap pada sebuat persoalan yang saya beri keterangan: “Al Nu’mān bin Ṭābit berkata.” Ia masih terus berdiri setelah mengumandangkan azan hingga selesai membaca bagian awal buku itu. Selanjutnya, ia meletakkan kitab itu di lengannya lalu mengumandangkan iqamah dan melaksanakan salat. Ia kemudian mengeluarkan kitab itu kembali dan meneruskan membaca persoalan-persoalan tadi.

Ia berkata, “Wahai orang Khurasan, siapa Al Nu’mān bin Ṭābit ini?” Saya menjawab, “Seorang syekh yang saya temui di Irak.” Ia lalu berkata, “Ini orang pintar dan termasuk masyayikh! Pergi temui dia dan perbanyak menimba ilmu darinya.” Saya pun berkata, “Ia adalah Abu Hanifah yang engkau larang (menemui)-nya itu.”[1]

Al Kandahlawiyy menambahkan, “Kemudian, ketika ia (al Auzā’iyy) berjumpa dengan Abu Hanifah di Makkah ia menyampaikan persetujuannya kepadanya dalam persoalan-persoalan tadi. Abu Hanifah lalu menjelaskan dengan lebih detil daripada apa yang dituliskan oleh Ibn al Mubarak. Setelah keduanya berpisah, Al Auzā’iyy, berkata kepada Ibn Al Mubarak, “Saya ‘iri’ kepada dia atas ilmunya yang banyak dan akalnya yang sempurna. Saya memohon ampun kepada Allah Swt. atas kesalahan yang nyata. Sering-sering lah engkau berada di sisinya. Ia tidak seperti kabar yang sampai kepadaku.”[2] 

Kesalah-pahaman bisa terjadi di mana-mana, bahkan di antara orang-orang besar. Saat seperti ini, tokoh-tokoh seperti Abdullah bin Al Mubarak menjadi sangat penting.

Wallahu a'lam

[1] Ahmad bin Ali al Khaṭīb al Baġdādiyy, Tārīkhu Baġdād, jilid 15, hal. 463.

[2] Muhammad Zakariyyā Al Kandahlawiyy, Aujaz al Masālik ilā Muwaṭṭa`i Mālik, jilid 1, hal. 179.

Foto: Bersama guru saya, KH. Kafa Bih bin KH. Mahrus Ali. Foto hasil jepretan Kiai Fajar Abdul Basheer

Sumber FB Ustadz : Abdul Ghofur Maimoen

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ketika Ulama Besar Berbeda Pandangan: Kisah Al-Auza’i, Abu Hanifah, dan Abdullah bin Al-Mubarak". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit