Iman kepada Qadha dan Qadar dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Iman kepada Qadha dan Qadar dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Iman kepada qadha dan qadar merupakan penutup rukun iman sekaligus salah satu pembahasan aqidah yang paling dalam dan halus. Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, iman kepada qadha dan qadar dipahami sebagai keyakinan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi di alam semesta berlangsung dengan ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah ﷻ, tanpa meniadakan peran dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan pilihan.

Pemahaman yang lurus tentang qadha dan qadar menjaga seorang muslim dari dua sikap ekstrem: merasa tidak berdaya sehingga pasrah tanpa usaha, atau merasa sepenuhnya berkuasa atas hidupnya hingga melupakan ketergantungan kepada Allah. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menempatkan iman kepada qadha dan qadar secara seimbang, adil, dan mendidik jiwa.

Makna Qadha dan Qadar

Secara umum, qadha dan qadar merujuk kepada ketetapan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Qadha dipahami sebagai ketetapan Allah yang bersifat menyeluruh sejak azali, sedangkan qadar berkaitan dengan perincian dan realisasi ketetapan tersebut dalam kenyataan yang dialami makhluk pada waktu dan kondisi tertentu.

Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, qadha dan qadar tidak dipisahkan dari sifat ilmu dan kehendak Allah. Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, menetapkannya sesuai hikmah-Nya, dan mewujudkannya tanpa paksaan terhadap makhluk. Keyakinan ini tidak menghilangkan usaha manusia, melainkan menempatkannya dalam koridor yang benar.

Ilmu Allah dan Ketetapan-Nya

Salah satu fondasi iman kepada qadha dan qadar adalah keyakinan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Tidak ada satu peristiwa pun yang luput dari pengetahuan-Nya, sekecil apa pun.

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa pengetahuan Allah tidak bergantung pada terjadinya sesuatu. Allah mengetahui bukan karena peristiwa itu terjadi, tetapi peristiwa itu terjadi sesuai dengan ilmu Allah. Pemahaman ini menjaga aqidah dari anggapan bahwa Allah baru mengetahui sesuatu setelah manusia berbuat.

Kehendak Allah dan Perbuatan Manusia

Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah ﷻ. Namun, kehendak Allah tidak berarti memaksa manusia dalam setiap perbuatannya. Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, manusia memiliki kehendak dan kemampuan yang dianugerahkan Allah, yang dengannya manusia melakukan perbuatan dan karenanya layak mendapatkan pahala atau dosa.

Perbuatan manusia terjadi dengan dua unsur sekaligus: kehendak manusia dan kehendak Allah. Manusia memilih dan berusaha, sementara Allah menciptakan kemampuan dan mewujudkan perbuatan tersebut. Dengan pemahaman ini, tanggung jawab manusia tetap utuh tanpa menafikan kekuasaan Allah.

Jalan Tengah antara Dua Sikap Ekstrem

Dalam sejarah pemikiran Islam, pembahasan qadha dan qadar melahirkan dua kecenderungan ekstrem. Sebagian meniadakan peran manusia hingga menjadikan manusia seperti benda mati tanpa pilihan, sementara sebagian lain menganggap manusia sepenuhnya menciptakan perbuatannya sendiri.

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menempuh jalan tengah yang adil. Manusia bukan makhluk yang dipaksa tanpa kehendak, dan bukan pula makhluk yang berdiri di luar kehendak Allah. Keseimbangan ini menjaga kemurnian tauhid sekaligus menegakkan keadilan tanggung jawab moral.

Hikmah di Balik Qadha dan Qadar

Tidak semua ketetapan Allah dapat dipahami secara langsung oleh akal manusia. Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, diyakini bahwa seluruh qadha dan qadar Allah mengandung hikmah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Musibah, kesulitan, dan ujian hidup bukan tanda ketidakadilan, melainkan bagian dari sunnatullah dalam mendidik hamba-Nya. Dengan iman kepada qadha dan qadar, seorang muslim belajar bersabar saat tertimpa cobaan dan bersyukur saat memperoleh nikmat.

Qadha dan Qadar dalam Kehidupan Sehari-hari

Iman kepada qadha dan qadar membentuk kepribadian yang kuat dan seimbang. Seorang muslim tidak mudah putus asa karena yakin bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan Allah. Pada saat yang sama, ia tidak bersikap pasif, karena menyadari bahwa usaha adalah bagian dari tanggung jawabnya.

Keyakinan ini melahirkan sikap tawakal yang benar, yaitu menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Tawakal bukan alasan untuk meninggalkan usaha, dan usaha bukan alasan untuk melupakan ketergantungan kepada Allah.

Hubungan Qadha dan Qadar dengan Doa dan Amal

Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, doa dan amal merupakan bagian dari qadha dan qadar itu sendiri. Allah menetapkan sesuatu beserta sebab-sebabnya. Doa termasuk sebab yang ditetapkan Allah untuk mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan.

Dengan pemahaman ini, seorang muslim tidak mempertentangkan antara doa dan takdir. Keduanya berjalan seiring. Doa merupakan bentuk penghambaan, sementara takdir adalah realisasi kehendak Allah yang penuh hikmah.

Adab dalam Membahas Qadha dan Qadar

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengingatkan agar pembahasan qadha dan qadar dilakukan dengan adab dan kehati-hatian. Tidak semua perkara qadar dapat dijangkau oleh akal secara rinci. Karena itu, aqidah ini dijaga dari spekulasi berlebihan yang justru menimbulkan kebingungan.

Sikap yang benar adalah beriman secara global terhadap apa yang ditetapkan Allah, memahami sebatas kemampuan, dan menyerahkan hakikat yang tidak terjangkau akal kepada Allah dengan penuh ketundukan.

Penutup

Iman kepada qadha dan qadar dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan puncak keseimbangan iman antara ketundukan kepada Allah dan tanggung jawab manusia. Ia menanamkan keyakinan bahwa hidup berjalan dalam ketetapan Allah tanpa menghilangkan peran usaha dan pilihan manusia.

Dengan iman yang lurus terhadap qadha dan qadar, seorang muslim menjalani kehidupan dengan tenang, sabar, dan penuh harapan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan rendah hati, dan menerima hasil dengan ridha, karena meyakini bahwa seluruh ketetapan Allah adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.


Bagian dari: Pilar Aqidah & Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Iman kepada Qadha dan Qadar dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit