Iman kepada Hari Akhir dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Iman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman yang menjadi fondasi utama dalam aqidah Islam. Keyakinan ini menegaskan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir manusia, melainkan fase sementara sebelum memasuki kehidupan yang kekal. Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, iman kepada hari akhir dipahami sebagai keyakinan yang menyeluruh, mencakup seluruh tahapan kehidupan setelah mati sebagaimana ditetapkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah serta dijelaskan oleh para ulama mu‘tabar.
Keimanan terhadap hari akhir memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang seorang muslim terhadap hidup, amal perbuatan, dan tanggung jawab moral. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tidak memandang iman kepada hari akhir sekadar sebagai doktrin teologis, melainkan sebagai prinsip yang hidup dan mengarahkan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Iman kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir adalah keyakinan yang pasti bahwa seluruh makhluk akan mengalami akhir kehidupan dunia, kemudian dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah ﷻ. Hari akhir disebut sebagai hari terakhir karena setelahnya tidak ada lagi kehidupan dunia, melainkan kehidupan akhirat yang bersifat abadi.
Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, keyakinan terhadap hari akhir bersifat qath‘i dan tidak bercampur dengan keraguan. Ia tidak bergantung pada logika semata, tetapi berpijak pada wahyu yang menjadi sumber utama kebenaran. Akal berfungsi untuk memahami dan menguatkan iman, bukan untuk menolak perkara gaib yang telah ditetapkan oleh nash.
Cakupan Iman kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir mencakup seluruh rangkaian peristiwa besar yang akan dialami manusia setelah kematian. Di antaranya adalah keyakinan tentang kematian, alam barzakh, kebangkitan, pengumpulan di padang mahsyar, hisab, penimbangan amal, serta balasan berupa surga atau neraka.
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan bahwa seluruh tahapan tersebut adalah haq dan wajib diimani, baik yang dijelaskan secara rinci maupun secara global. Mengimani hari akhir secara utuh berarti menerima seluruh ketetapan tersebut tanpa menambah-nambahi dengan spekulasi atau menolak sebagian karena dianggap tidak sesuai dengan logika.
Kematian dan Kehidupan Barzakh
Kematian dalam pandangan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah bukanlah akhir dari eksistensi manusia, melainkan pintu menuju kehidupan berikutnya. Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh, yaitu alam penantian sebelum datangnya hari kebangkitan.
Dalam alam barzakh, manusia akan merasakan balasan awal sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Nikmat dan azab kubur merupakan bagian dari keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah yang didasarkan pada dalil-dalil yang sahih. Balasan ini bersifat benar adanya, meskipun hakikat dan bentuknya berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.
Kebangkitan dan Pengumpulan di Padang Mahsyar
Salah satu inti iman kepada hari akhir adalah keyakinan bahwa seluruh manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematian. Kebangkitan ini mencakup jasad dan ruh, sebagaimana dikehendaki oleh Allah ﷻ. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari kebangkitan ini, baik yang hidup di masa awal maupun akhir zaman.
Setelah dibangkitkan, seluruh manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk menjalani hisab. Pada hari itu, setiap individu berdiri sendiri tanpa dapat mengandalkan harta, kedudukan, atau hubungan duniawi. Yang menjadi penentu hanyalah iman dan amal perbuatan.
Hisab dan Keadilan Ilahi
Hisab merupakan proses perhitungan amal perbuatan manusia dengan keadilan Allah yang sempurna. Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, diyakini bahwa Allah Maha Adil dan tidak menzalimi siapa pun. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan diperhitungkan, demikian pula setiap keburukan.
Keadilan pada hari akhir merupakan keadilan hakiki yang tidak selalu tampak di dunia. Banyak kezaliman yang tidak terbalas di dunia akan diselesaikan secara adil di akhirat. Keyakinan ini menanamkan kesadaran bahwa tidak ada perbuatan yang sia-sia di sisi Allah.
Mizan, Shirath, dan Syafa’at
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan adanya mizan, yaitu timbangan amal yang nyata, bukan sekadar simbol. Amal manusia akan ditimbang sesuai dengan ketetapan Allah, dan hasilnya menentukan keselamatan atau kebinasaan seseorang.
Demikian pula keyakinan terhadap shirath, jembatan yang harus dilalui manusia setelah hisab. Keselamatan dalam melewati shirath bergantung pada iman dan amal saleh. Shirath merupakan salah satu ujian terakhir sebelum seseorang sampai kepada balasan akhir.
Ahlussunnah wal Jama’ah juga mengimani adanya syafa’at dengan izin Allah. Syafa’at merupakan bentuk rahmat Allah, namun tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk meremehkan amal atau berbuat maksiat dengan harapan ampunan semata.
Surga dan Neraka sebagai Balasan Akhir
Surga dan neraka adalah tempat balasan akhir yang benar-benar ada. Surga merupakan tempat kenikmatan bagi orang-orang beriman dan bertakwa, sedangkan neraka adalah tempat siksa bagi mereka yang ingkar dan durhaka.
Kenikmatan surga dan azab neraka bersifat nyata, meskipun hakikat detailnya tidak dapat diserupakan dengan kehidupan dunia. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan kewajiban mengimani keduanya tanpa tahrif, ta’thil, atau penakwilan yang menyimpang.
Dampak Iman kepada Hari Akhir dalam Kehidupan
Iman kepada hari akhir membentuk karakter seorang muslim yang bertanggung jawab, jujur, dan berhati-hati dalam bersikap. Kesadaran bahwa seluruh amal akan dipertanggungjawabkan menumbuhkan sikap takut kepada Allah sekaligus harapan akan rahmat-Nya.
Keyakinan ini juga melahirkan ketenangan batin. Seorang muslim memahami bahwa kehidupan dunia penuh dengan ujian dan ketidakadilan sementara, sedangkan keadilan hakiki akan terwujud sepenuhnya di akhirat.
Penutup
Iman kepada hari akhir dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan keyakinan yang mendidik jiwa, menata akal, dan membimbing perilaku. Ia menanamkan kesadaran bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil.
Dengan iman yang lurus terhadap hari akhir, seorang muslim akan menjalani kehidupan secara seimbang: bersungguh-sungguh dalam amal, beradab dalam pergaulan, serta senantiasa mengaitkan setiap langkah hidupnya dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ.
Bagian dari: Pilar Aqidah & Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah