
CARA MENUNTUT ILMU YANG BENAR
Rasulullah SAW bersabda: "Agamamu, agamamu; darahmu dan dagingmu.” Sebagaimana kamu menjaga darah dan dagingmu, maka jagalah juga agamamu, bahkan semestinya melebihi dari yang lain.
Sebab itu, ada beberapa syarat jika ingin menjadikan seseorang sebagai sumber ilmumu:
1. Kamu harus mengetahui siapa saja guru-gurunya dan dia harus mempunyai sanad muttashil (bersambung).
Kalau rujukannya hanya kepada kitab-kitab yang sudah direvisi dan lain-lain. Tidak menjamin sepenuhnya layak. Karena seseorang harus belajar bagaimana cara membacanya. Kalaupun bisa membacanya dengan benar, belum tentu pemahamannya benar semua.
Maka dari itu, inilah yang menjadi sebab musibah masa sekarang. Sudah bisa membaca, menulis dan mempunyai gelar sarjana. Kemudian pergi ke pameran buku, membeli beberapa kitab dan membacanya setiap malam sebelum tidur. Lalu setelah membaca 2 atau 3 kitab, dia langsung menaiki mimbar (berdakwah). Ini musibah, mereka itu yang menyebabkan para khatib menjadi sumber fitnah.
Jadi, kamu harus duduk belajar dengan guru dan mengetahui bahwa guru itu mempunyai sanad juga. Bukan hanya sekedar guru saja. Karena guru itu bukan hanya sekedar mempunyai wibawa, berjanggut, memakai jubah putih, pandai bicara, dst.
Sudah begitu banyak orang yang pandai bicara dan bahasanya bagus. Namun, tidak akan melebihi kehebatan kaum mu'tazilah yang ahli bahasa dan banyak hafal syi'ir. Tapi kenyataannya mereka menjadi fitnah pada zamannya.
Pada tahun 1976 M, kami belajar dengan Syekh Muhammad Hafizh At-Tijani -rahimahullah-, yang hadir hanya 4 orang. Setelah 2 tahun kemudian, bertambah menjadi 15 orang.
Sementara kami melihat masjid yang pengajarnya begitu banyak yang hadir. Bahkan sampai ke luar-luar Masjid. Padahal begitu jauh keilmuannya dengan Syekh Muhammad Hafizh At-Tijani. Pengajar mereka paling hanya membaca 2 kitab atau membacanya sendiri (tanpa guru). Tapi kenyataannya, masyarakat lebih memilihnya dan meninggalkan orang yang berilmu.
Kami juga hadir di majlis Syekh Abdullah Shiddiq al-Ghumari -rahimahullah- dari tahun 1980 M sampai 1993 M. Majlis beliau hanya dihadiri tidak lebih dari 11 atau 12 orang.
Jadi, para ulama besar dan berilmu ditinggalkan, sementara mereka kaum Ruwaibidhah dan yang belum matang keilmuannya, dihadiri banyak orang.
2. Banyak kesaksian akan keshalehannya.
3. Diberikan ijazah (izin mengajar) dari ulama yang lebih mumpuni segi keilmuannya.
Misalnya ada ulama mengatakan: "pergilah belajar kepada si fulan.” Atau kamu bertanya tentang si fulan: "Iya, ambillah ilmu darinya.” Karena ulama itu tidak akan mentahdzir (menasehati untuk meninggalkan) orang yang sudah mumpuni keilmuannya.
Kalau kamu membuka channel TV, lalu menyaksikan seseorang mengajarkan ilmu, maka cari tahu terlebih dahulu tentang dirinya. Apakah mereka mempunyai sanad muttasil (bersambung)? Apakah mereka diakui keshalehan dan diberi ijazah (izin mengajar) oleh ulama sebelumnya? Kalau semua itu sudah ada dalam dirinya, maka cari tau jadwal pengajiannya dan belajarlah dengannya.
Seperti Syekh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Bouthi. Beliau terkenal sebagai sosok yang mempunyai dasar keilmuan, wali yang shaleh, sudah diberikan ijazah, mendidik berbagai generasi dan mempunyai banyak karya tulis.
Para Masyaikh menasehati, jangan mengambil keilmuan dari surat kabar, channel TV dst. Dan jangan juga membaca dari sembarang buku, kalau kamu menemukan buku di rumah yang sampul depannya tidak ada, berarti kamu tidak tau siapa penulisnya. Apakah kamu mau belajar dari seorang yang majhul (yang tidak dikenal)?!
Jadi, dalam menuntut ilmu itu diperlukan kitab, guru, kesabaran dan latihan yang panjang. al-Imam asy-Syafi'i -rahimahullah- menyebutkan "waktu yang lama" karena memang memerlukan tempo yang lama untuk mendapatkan bagaimana suluk (berperilaku), pemahaman, adab, beretika dengan Baginda Nabi SAW, dsb. Bukannya seperti mereka yang sudah besar, tapi belum bisa mencerna perbedaan madzhab dst.
Gelar sarjana tanpa sanad merupakan gelar kejahilan. Gelar itu hanyalah seperti obat penenang agar seseorang merasa telah berilmu. Seperti orang yang terus mengkonsumsi obat penenang, akhirnya mati sebelum berfikir untuk mengobati penyakitnya ke dokter.
Ilmu itu tidak diperoleh dengan gelar. Kita contohkan secara jelas seperti Dr. Ali Jum'ah, Mufti Mesir dan dunia. Beliau tidak menganggap semua itu cukup dengan gelar, tapi gelar hanyalah sesuatu yang 'aridh (mengikuti) dalam kehidupan beliau. Tujuan utama beliau adalah memperoleh ilmu dari masyayikh di zaman beliau.
Beliau mendatangi masyayikh, duduk di bawah kaki mereka, mengkhatamkan kitab bersama mereka, membacakan kitab al-Bukhari, dll. Setiap mendengar ada masyayikh, beliau pergi mendatangi mereka, menemuinya, dan mengambil ilmu dengan talaqqi.
Sebab itu, beliau naik ke permukaan lebih dari yang lainnya, kenapa? Karena yang lain mencukupkan diri dengan yang tertulis. Sementara beliau bergerak dengan manhaj yang benar, menuntut ilmu dengan masyayikh. Mari kita meminta kepada Allah SWT agar selalu dituntun dan dibimbing dalam menuntut ilmu.
Faedah dars Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah, 19 Mei 2007 di Masjid al-Azhar
Ditulis oleh: Ustadzah Dr. Hilma Rasyida Ahmad
Sumber FB Ustadz : Ahbab Maulana Syeikh Yusri Al Hasany