Ateisme dan Penolakan terhadap Wahyu: Tantangan Tauhid di Era Modern

Ateisme dan Penolakan terhadap Wahyu: Tantangan Tauhid di Era Modern

Di antara pemikiran menyimpang yang berkembang kuat di era modern adalah ateisme, yaitu paham yang menolak keberadaan Allah dan mengingkari wahyu sebagai sumber kebenaran. Ateisme bukan hanya persoalan filosofis, tetapi juga problem aqidah yang serius dalam pandangan Islam.

Ahlussunnah wal Jama’ah memandang ateisme sebagai penyimpangan mendasar dari fitrah manusia dan pengingkaran terhadap realitas ketuhanan yang telah ditegaskan oleh akal sehat dan wahyu.

Pengertian Ateisme dalam Perspektif Islam

Secara umum, ateisme adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak ada atau tidak dapat dibuktikan. Dalam Islam, ateisme termasuk bentuk kekufuran karena menolak rukun iman yang paling utama, yaitu iman kepada Allah.

Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang mengingkari Allah sebagai mereka yang tertutup hatinya, bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.

Akar Munculnya Ateisme Modern

Ateisme modern sering kali lahir dari dominasi pemikiran materialisme dan sekularisme. Segala sesuatu diukur dengan indera dan eksperimen, sementara hal-hal metafisik dianggap tidak ilmiah.

Pandangan ini bertentangan dengan Islam, yang mengakui keterbatasan akal dan indera manusia. Tidak semua kebenaran dapat ditangkap oleh eksperimen, namun tetap nyata dan benar.

Fitrah Manusia dan Bukti Keberadaan Allah

Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa iman kepada Allah selaras dengan fitrah manusia. Setiap manusia membawa kecenderungan untuk mengakui adanya Sang Pencipta.

Ketertiban alam semesta, hukum sebab-akibat, dan keteraturan ciptaan menjadi tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dipahami oleh akal sehat tanpa harus terjerumus pada spekulasi filsafat yang berlebihan.

Penolakan Wahyu sebagai Konsekuensi Ateisme

Ateisme tidak berhenti pada pengingkaran terhadap Allah, tetapi juga menolak wahyu sebagai pedoman hidup. Akibatnya, manusia menjadi satu-satunya penentu nilai baik dan buruk.

Islam menolak konsep ini. Tanpa wahyu, manusia akan terombang-ambing dalam relativisme moral dan kehilangan arah dalam menentukan tujuan hidup.

Dampak Ateisme terhadap Kehidupan Manusia

Ateisme membawa dampak serius dalam kehidupan individu dan sosial. Hilangnya keyakinan kepada hari akhir mengurangi tanggung jawab moral dan kesadaran akan hisab.

Dalam jangka panjang, ateisme dapat melahirkan kekosongan makna hidup, krisis spiritual, dan kegelisahan eksistensial yang tidak terjawab oleh materi.

Jawaban Islam terhadap Klaim Ateisme

Ahlussunnah wal Jama’ah menjawab ateisme dengan pendekatan ilmiah, rasional, dan spiritual. Islam tidak memaksa iman, tetapi mengajak manusia berpikir dengan jujur dan terbuka.

Keimanan dalam Islam dibangun di atas ilmu, bukan dogma buta. Akal diarahkan untuk mengenal Allah, bukan untuk menolak-Nya.

Peran Pendidikan Aqidah

Menguatnya ateisme menuntut penguatan pendidikan aqidah sejak dini. Umat perlu memahami dasar-dasar tauhid secara benar, proporsional, dan argumentatif.

  • Menanamkan iman berbasis ilmu
  • Mengenalkan bukti rasional dan naqli
  • Menghindari ekstremisme dan pemaksaan
  • Menghidupkan spiritualitas yang sehat

Penutup

Ateisme merupakan tantangan nyata bagi umat Islam di tengah arus modernitas. Namun, Islam memiliki fondasi aqidah yang kokoh untuk menjawab keraguan dan penolakan terhadap wahyu.

Dengan berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, umat Islam dapat menjaga kemurnian tauhid dan tetap teguh dalam keimanan, tanpa kehilangan sikap bijak dan adab dalam berdakwah.

← Kembali ke Pilar Agama & Pemikiran Menyimpang ← Pilar Utama Kajian Ulama
© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Ateisme dan Penolakan terhadap Wahyu: Tantangan Tauhid di Era Modern". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit