Andai Tuhan Ber-Manhaj Salafi: Refleksi Cara Beragama

Pendahuluan: Kritik terhadap manhaj salafi dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah

Benarkah memahami agama harus selalu kaku dan tanpa ruang perbedaan? Mengapa dalam praktiknya, sebagian umat Islam justru lebih mudah menilai sesat, bid’ah, bahkan membatalkan amalan sesama Muslim? Pertanyaan-pertanyaan ini semakin sering muncul di tengah perdebatan tentang manhaj salafi, terutama ketika pendekatan yang digunakan dinilai terlalu sempit dalam memahami keluasan ajaran Islam.

Dalam konteks ini, perdebatan tentang manhaj salafi sering kali berkaitan dengan cara memahami bid’ah, ijtihad, serta praktik keagamaan dalam Islam. Perbedaan pendekatan antara kelompok yang lebih tekstual dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi salah satu sebab munculnya perbedaan penilaian terhadap amalan umat.

Di sisi lain, Islam sendiri mengajarkan tentang luasnya rahmat Allah, pentingnya husnuzan kepada-Nya, serta penerimaan terhadap amal hamba meskipun penuh kekurangan. Lalu, bagaimana sebenarnya keseimbangan antara mengikuti sunnah dan memahami realitas umat? Apakah semua yang tidak dilakukan Nabi otomatis dianggap salah, atau justru ada ruang ijtihad yang diakui para ulama dalam memahami ajaran agama?

Tulisan ini mengangkat sudut pandang yang jarang dibahas secara terbuka, yaitu bagaimana persepsi terhadap Tuhan bisa terbentuk dari cara kita memahami agama itu sendiri. Dengan pendekatan reflektif dan kritis, pembaca diajak merenungkan kembali apakah cara beragama yang kaku benar-benar mencerminkan rahmat Allah, atau justru membatasi keluasan yang telah Dia tetapkan.

Pembahasan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai bahan renungan ilmiah dalam menyikapi perbedaan. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, perbedaan adalah bagian dari khazanah keilmuan, bukan alasan untuk memutus ukhuwah, tetapi kesempatan untuk memperdalam pemahaman dengan ilmu, adab, dan kebijaksanaan.

Berikut adalah tulisan asli yang kami sajikan tanpa perubahan:

ANDAI TUHAN BER-MANHAJ SALAFI?

ANDAI TUHAN BER-MANHAJ SALAFI … ?

Allah ta’ala berfirman: Aku bergantung prasangka hamba-Ku. Maka jangan sekali-sekali kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku — qudsi

*^^^^*

Kaidahnya adalah:

Salaf jelas bukan salafi.

Salafi bermimpi ingin menjadi Salaf.

Abai terhadap kekafiran orang kafer beneran. Salafi justru mengkaferkan orang yang sudah beriman. Dakwah Salafi konsen pada umat Islam yang dianggap menyimpang. Membatalkan iman. Membid’ahkan nderes al Qur’an d malem jemuah. Menyesatkan jamaah yasinan. Pengamal tahlilan. Pengirim hadiah pahala dan pengamal lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan yang dicontohkan Nabi saw. Meski pada kenyataannya mereka juga tidak pernah ketemu Nabi saw secara langsung. Tidak pernah mendengar nabi, kecuali dari : katanya. 

Siapapun disasar sesat karena dianggapnya bid’ah. Bahkan dikaferkan atau dibatalkan imannya meski sudah bersyahahat berkali-kali dalam sehari. Salafi paling rajin mengkaferkan menyesatkan dan menyasar bid’ah sesama mukmin yang tidak sepandangan. 

Betapa sedikitnya umat Islam jika dipahami seperti indikator yang mereka tetapkan. Bersyahadat tak cukup. Shalat tak cukup. Puasa tak cukup. Haji tak cukup. Sedekah tak cukup. Berjilbab tak cukup. Bersarung apalagi tambah tak cukup. 

Meng-idealkan tata-hidup seperti nabi saw. Dari takbir hingga salam harus seperti Nabi saw meski saya tak yaqin mereka bisa.  Dari sendal gamis bahkan tidur seperti Nabi saw  meski saya juga tak yaqin bisa seindah Nabi saw.

Salafi meprasangkai Tuhan sangat rigit, kaku dan formal, tak ada ruang untuk bercanda. Tuhan yang sukar memaafkan dan susah diajak kompromi. 

******

Apapun bentuk ibadah goalnya adalah surga. Pembunuh 100 orang masuk surga karena hendak bertobat. Pelacur masuk surga karena memberi minum anjing haus. Setiap yang mengucap laailaha illa allah bakal masuk surga meski mencuri dan berzina. Ketiga orang ini belum ada yang sempat shalat … ! 

Ada ribuan bahkan jutaan hingga tidak terhitung cara masuk surga. Pohon yang kita tanam Insya Allah mengantar ke surga: daunnya jika di makan ulat. Buahnya jika dimakan burung atau oksigen yang dihasilkannya adalah sedekah tiada terputus.

*******

Abu Nawas ulama cerdas nan alim itu pernah bersenandung jenaka meski paradoks: Tuhan aku tak pantas masuk surga-Mu. Tapi tak kuat masuk neraka-Mu.

Abu Yazid Al Bhusthami pernah dengan cemas tapi penuh harap: Tuhan jika tak Kau maafkan salahku. Lantas kepada siapa aku minta maaf. Jika Kau tolak amalku kepada siapa amalku aku tujukan. 

Tuhan membuka tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang berbuat dosa di siang hari. Tuhan membuka tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba-Nya yang berbuat dosa di malam hari. 

Tuhan menggenggam jiwa setiap hamba agar mengakui dosa kemudian memaafkannya tanpa sisa. 

Nabi saw berkata: Semua umatku bakal masuk surga kecuali yang enggan — 

*^^^^*

Gusti Allah sayang padaku. Memaafkan kesalahanku.

Memaklumi jika shalatku, puasaku, hajiku, bacaan qur’anku tidak sesuai sunah, bahkan menerima amalku meski bercampur riya dan kurang iklas — itulah prasangkaku kepada Tuhanku. .. Rabbku sangat baik kepadaku .. ♥️♥️♥️🙏🏻

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar 

Sumber FB Ustadz : Nurbani Yusuf

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Andai Tuhan Ber-Manhaj Salafi: Refleksi Cara Beragama". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.