๐๐๐๐๐ฆ๐๐๐๐ก ๐ฃ๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐จ๐ง๐๐ก๐
Oleh Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
Belum bisa membayar hutang karena memang belum mampu, itu bukanlah aib ataupun dosa. Asalkan disampaikan lewat cara yang baik dengan mengemukakan udzur atau alasannya.
Namun sengaja tidak mau membayar hutang misalnya dengan cara menggunakan ajian "menghilang" apa lagi berlaku buruk saat ditagih dengan baik oleh pemiliknya, maka jelas itu adalah bentuk kedzaliman dan pelakunya bisa dihukumi fasiq.
Dan mayoritas ulama berpendapat bahwa orang yang fasiq tidak diterima kesaksiannya. Baik dalam masalah pengadilan, sumpah, nikah dan juga lainnya.
Enggan membayar hutang adalah termasuk dari salah satu dosa besar dalam Islam dan juga kedzaliman yang berat dalam timbangan syariat. Pelakunya tidak akan diampuni meski telah bertaubat, sampai ia mendapatkan keridhaan dari pemilik harta yang telah ia dzalimi tersebut.
Cukuplah bukti beratnya hutang, ketika Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam tidak mau menshalati orang yang masih punya tanggungan hutang, sebagaimana disebutkan dalam hadits :
َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ َูุง ُูุตَِّูู ุนََูู ุฑَุฌٍُู ู َุงุชَ َูุนََِْููู ุฏٌَْูู َูุฃُุชَِู ุจِู َِّูุชٍ ََููุงَู ุฃَุนََِْููู ุฏٌَْูู َูุงُููุง َูุนَู ْ ุฏَِููุงุฑَุงِู َูุงَู ุตَُّููุง ุนََูู ุตَุงุญِุจُِูู ْ
“๐๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ข๐ด๐ถ๐ญ๐ถ๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ ๏ทบ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฉ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐บ๐ช๐ต ๐ฌ๐ฆ ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ข๐ถ ๏ทบ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐บ๐ช๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ : "๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฉ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ๐จ?” ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ธ๐ข๐ฃ, “๐๐ฅ๐ข ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฏ๐ข๐ณ.” ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข, “๐๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช...” (HR. Bukhari)
Padahal di hadits, kasusnya tentu bukan orang tersebut sengaja tidak mau membayar hutangnya dia hanya sial, keburu meninggal sebelum mampu melunasinya.
Jika orang baik yang punya tanggungan hutang saja diperlakukan demikian, lalu kira-kira bagaimana dengan nasib orang-orang fasik yang sengaja tidak mau membayar hutangnya ?
Karena jahatnya perilaku orang yang tak mau membayar hutangnya, sampai sebagian ulama mengatakan sebagaimana yang dinukil dalam kitab an Nihayah : "Siapa yang memiliki piutang, ia berhak untuk mencela orang yang tak mau membayar hutangnya."
baca juga: Hadits Ancaman Enggan Membayar Hutang Menagih Hutang Harus Tetap Dilakukan
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
