Insafnya Ulama Islam: Objektivitas Ilmu di Atas Fanatisme

Insafnya Ulama Islam

๐—œ๐—ป๐˜€๐—ฎ๐—ณ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—จ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—œ๐˜€๐—น๐—ฎ๐—บ

Oleh : Muhammad zulfa

  Dalam dunia keilmuan Islam, tidak ada istilah kawan kalau si kawan salah, tidak ada kata saudara bila dia keliru, tidak ada pembelaan mati- matian atas suatu kelompok jika telah terbukti bahwa mereka salah. Karena agama tegak dengan ilmu, maka semua harus diukur dengan ilmu. Barang sudah maklum tentunya, jika dalam dunia ilmiah tidak ada istilah ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ alias basa-basi.

  Begitulah adanya, seluruh tubuh Islam dilengkapi dengan ilmu. Karena itu, sebagai agama ilmiah, Islam akan selalu kuat sekalipun umat Islam lemah dan Islam akan selalu bertahan sekalipun badai Barat menghantamnya. Dakwaan ini bukan hanya omongan belaka. Kita dapat menilik langsung karya-karya para tokoh-tokoh utama Islam saat mereka menjelaskan tentang Islam. Sikap objektif para ulama saat menilai suatu permasalahan membuat Islam mampu bertahan hingga sekarang. Tak kisah itu kawan, lawan, tokoh paling berpengaruh, bahkan orang yang menjadi rujukan utama sekalipun jika pendapatnya terbukti keliru maka tetap dianggap keliru dan diberi bantahan, dan tentunya dengan adab yang telah ditetapkan.

  Mari kita contohkan. Siapa yang tak kenal Imam Ghazali. Bagi penggiat Fikh, Tauhid, Filsafat, Usul Fikh, apalagi Tasawuf, sudah pasti mengenal nama ini. Imam Ghazali adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia keilmuan Islam, mungkin dengan julukannya sebagai ๐˜๐˜ถ๐˜ซ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ ๐˜๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ sudah cukup menjadi bukti kebesarannya, ๐˜›๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ง๐˜ถ๐˜ต ๐˜๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ง๐˜ข๐˜ฉ, salah satu karya besar Imam Ghazali yang beliau tulis untuk meruntuhkan beberapa konsep filsafat. Lahirnya karya ini membuat gempar dunia pemikiran Islam kala itu. Namun, satu abad setelah itu, kitab ini malah dikritik oleh seorang filosof Islam asal Spanyol, Ibnu Rusyd, hingga membuat orang bertanya-tanya mana yang benar antara keduanya. Barulah kemudian di masa pemerintahan Sultan Muhammad al-Fatih, dua karya tokoh ini diadili oleh ulama Aswaja.Nah, jika kita perhatikan, karya dari tokoh sekelas Imam Ghazali untuk apa dilibatkan dalam persidangan, padahal cukup kritikan dari Ibnu Rusyd saja. 

   Tidak bisa begitu, sehebat apapun Imam al-Ghazali, sebesar apapun pengaruhnya, yang ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฒ tetap ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฒ. Maka Imam Ghazali beserta Ibnu Rusyd melalui karya mereka disidang oleh ulama Aswaja, di antara mereka paling masyhur adalah Khawajah Zadah dan Alaudin at-Tusi.

๐Š๐ž๐ง๐š๐ฉ๐š ๐ข๐ง๐ข ๐๐ข๐ฅ๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ฎ๐ฅ๐š๐ฆ๐š ๐€๐ฌ๐ฐ๐š๐ฃ๐š?

  Karena ulama kita tidak mau jika orang yang lain yang mengadilinya, biar kita saja yang membuat penghakiman. Sehingga, dengan ini orang di luar Aswaja bisa melihat bagaimana objektifnya ulama Aswaja.Atau kita lihat contoh lain. Zamakhsyari,tokoh penting Mu'tazilah, pemilik karya yang sangat fenomenal, yaitu ๐˜›๐˜ข๐˜ง๐˜ด๐˜ช๐˜ณ ๐˜ข๐˜ญ-๐˜’๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ง. Ulama setelahnya banyak mengkritisi kekeliruannya, baik dari sisi i'rab maupun sisi logika Mu'tazilah yang beliau selipkan dalam ๐˜ข๐˜ญ-๐˜’๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ง antara ulama yang paling banyak menaruh perhatian terhadap ini adalah Ibnu Munir. Melalui al-Intisaf, Ibnu Munir mengkritisi habis-habisan sisi logika Mu'tazilah dari Zamakhsyari.

  Apakah ulama-ulama Aswaja setelahnya menerima begitu saja kritikan Ibnu Munir terhadap Zamakhsyari yang notabenenya seorang Mu'tazilah? Tidak. Al-Iraqi tampil sebagai pengadil antara Zamakhsyari dan Ibnu Munir melalui karyanya yang bernama ๐˜ข๐˜ญ-๐˜๐˜ฏ๐˜ด๐˜ข๐˜ง.. Lagi- lagi, ini yang dilakukan oleh ulama Aswaja. Di sini sangat jelas bagaimana objektifnya ulama Aswaja.

  Contoh terakhir, Imam ar-Razi yang memberi syarahan terhadap salah satu karya Ibnu Sina, ๐˜ข๐˜ญ-๐˜๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ธ๐˜ข ๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต. Syarahan ini menurut Nashiruddin at-Thusi sama sekali bukan memberi penjelasan terhadap kitab Ibnu Sina, tapi malah mengkritisi karyanya. Dari sini, lahirlah syarahan at-Thusi terhadap kitab Ibnu Sina yang pada hakikatnya juga bukan penjelasan terhadap kitab itu, tapi malah mengkritik balik ar-Razi yang telah meretakkan sendi-sendi filsafat.

  Lalu, apakah ulama setelahnya langsung mengimani dengan apa yang disampaikan oleh Imam ar-Razi dan menolak mentah-mentah terhadap argumen at-Thusi, apalagi jika dituduh Thusi sebagai Syiah? Tidak.

  Seorang ulama besar yang dikenal dengan Qutub ar-Razi Tahtani (๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ด๐˜ช๐˜บ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ) membuat kembali sidang antara dua tokoh besar kalam ini. Beliau menulis kitab dengan judul ๐˜”๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ณ-๐˜™๐˜ข๐˜ป๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ข๐˜ต- ๐˜›๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช. Akhir sidang ini, ada hal yang ditolak dari Imam Razi dan ada juga yang diterima dari Thusi.

  Dari beberapa cuplikan di atas, kita bisa melihat bagaimana ulama Aswaja sangat objektif dalam menilai suatu masalah. Makanya, tidak perlu mengajari ulama Aswaja tentang objektivitas. Karena begitulah turunan dan tradisi keilmuan Aswaja, sekalipun sekarang ini merupakan barang yang langka. Wallahu a'lam.

Sumber FB : Serambi Salaf

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Insafnya Ulama Islam: Objektivitas Ilmu di Atas Fanatisme". Semoga Allah ๏ทป senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.