๐๐ฎ๐๐น ๐๐บ๐ฎ๐บ ๐๐๐-๐ฆ๐๐ฎ๐ต๐ถ๐ฑ
(๐๐ฒ๐ป๐ผ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐ฆ๐๐ฒ๐ธ๐ต ๐๐น-๐๐ผ๐๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐๐ป๐ถ๐ฎ ๐๐ฒ๐ถ๐น๐บ๐๐ฎ๐ป ๐๐๐น๐ฎ๐บ ๐ ๐ผ๐ฑ๐ฒ๐ฟ๐ป)
Oleh: Fauzan Inzaghi
Syekh al-Bouty tidak melakukan sesuatu yang baru. Apa yang beliau katakan dalam kitabnya, Kubra Yaqiniyat sama dengan apa yang dikatakan oleh para Salaf dan Khalaf umat ini. Beliau hanya memperbarui bahasa syariat agar dipahami oleh umat zamannya, inilah "๐ต๐ข๐ซ๐ฅ๐ช๐ฅ", memperbarui bahasa syariat, bukan memperbarui syariat. Karena syariat dari dulu, ya, sama dan ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ฏ๐บ dengan ๐ฏ๐ข๐ฒ๐ญ, jadi gak ada yang berubah, yang berubah adalah bahasa dan tantangan. Kalau dulu ilmu kalam membersihkan syubhat Mu'tazilah, Karamiyah, Bathiniyah dan filsafat klasik seperti Aristo, dll. Sekarang difokuskan pada pembersihan syubhat Abduhisme, Wahabiyah, Rafidhah dan filsafat modern seperti Kant, dll.
Sekali lagi, membahasakan syariat dengan bahasa yang dipahami umat semasanya, itulah ๐ต๐ข๐ซ๐ฅ๐ช๐ฅ. Maka jangan heran, jika ilmu kalam sebelum Syekh al-Bouty dan sesudahnya sangat berbeda bahasanya, walaupun isinya sama. Inilah salah satu yang membuat Syekh al-Buty menjadi idola ulama Aswaja yang hidup setelah tahun 60-an. Karena beliau dianggap mewakili mereka dalam menjelaskan syariat yang mereka pahami dengan bahasa yang sesuai dengan zamannya. Itu dia yang menjadi alasan kitab modern, Kubra Yaqiniyat menembus pasar kitab turast.
Sekilas info, kitab Kubra Yaqiniyat telah dicetak tidak kurang dari 40 kali, itu baru cetakan pasar, belum lagi cetakan khusus kampus. Karena kitab ini dijadikan kurikulum di beberapa kampus dengan cetakan khusus, ditambah lagi dengan cetakan terjemahannya. Perlu diingat, buku ini berat untuk akademisi, bukan buku sastra dan bukan buku ensiklopedia yang diletakkan di perpustakaan untuk rujukan, tapi buku bacaan. Makanya, jangan lupa beli buku beliau ini dan menikmati buku fenomenal ini, udah ada terjemahan Indonesianya ๐ฌ๐ฐ๐ฌ.
Sumber FB : Serambi Salaf
26 Maret 2022 ·
