Menjawab Kritik Ibnu Taimiyah Tentang Penetapan Kenabian Menurut Asy'ariyah

Menjawab Kritik Ibnu Taimiyah Tentang Penetapan Kenabian Menurut Asy'ariyah

Syaikh Ibnu Taimiyah dalam beberapa karyanya berulang mengkritik Asy'ariyah karena menurutnya membatasi kepercayaan pada Nabi hanya karena faktor mukzijat. Dia berkata tentang para Asy'ariyah dan Imam al-Baqillani secara khusus seperti berikut:

قَوْلُ مَنْ يَقُولُ لَوْ لَمْ تَدُلَّ الْمُعْجِزَةُ عَلَى الصِّدْقِ لَلَزِمَ عَجْزُ الْبَارِئِ عَنْ تَصْدِيقِ رَسُولِهِ وَالْعَجْزُ مُمْتَنِعٌ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ لَا طَرِيقَ إِلَى التَّصْدِيقِ إِلَّا بِالْمُعْجِزَةِ وَهَذِهِ طَرِيقَةُ كَثِيرٍ مِنْ أَصْحَابِ الْأَشْعَرِيِّ وَمَنْ وَافَقَهُمْ وَهِيَ طَرِيقَةُ الْقَاضِي أَبِي بَكْرٍ وَالْقَاضِي أَبِي يَعْلَى وَغَيْرِهِمَا

"Perkataan orang yang berkata: 'Seandainya mukjizat tidak menunjukkan kejujuran, niscaya konsekuensinya Sang Pencipta tidak mampu membenarkan rasul-Nya, padahal ketidakmampuan mustahil bagi-Nya, sebab tidak ada jalan untuk membenarkan (rasul) kecuali dengan mukjizat.' Ini adalah jalan banyak dari kalangan pengikut al-Asy'ari dan orang-orang yang sepaham dengan mereka, dan ia adalah jalan al-Qadhi Abu Bakar, al-Qadhi Abu Ya'la, dan selain keduanya." (Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqdh Kalam asy-Syi'ah al-Qadariyyah, tahqiq Muhammad Rasyad Salim, Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M, juz 3, hlm. 94)

Menurutnya, jalan untuk mengetahui bahwa seorang nabi itu benar ada banyak, tidak terbatas pada mukjizat saja. Dia berkata:

وَبَيَّنَّا أَنَّ الطَّرِيقَ إِلَى مَعْرِفَةِ صِدْقِ الرَّسُولِ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَأَنَّ طَرِيقَ الْمُعْجِزَاتِ طَرِيقٌ مِنَ الطُّرُقِ وَأَنَّ مَنْ قَالَ مِنَ النُّظَّارِ إِنَّ تَصْدِيقَ الرَّسُولِ لَا يُمْكِنُ إِلَّا بِالْمُعْجِزَةِ كَانَ كَمَنْ قَالَ إِنَّ مَعْرِفَةَ الصَّانِعِ لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالْمَعْرِفَةِ بِحُدُوثِ الْعَالَمِ

"Dan telah kami jelaskan bahwa jalan untuk mengetahui kejujuran seorang rasul itu sangat banyak, bahwa jalan mukjizat hanyalah salah satu di antara jalan-jalan tersebut, dan bahwa siapa pun dari kalangan ahli nazhar yang berkata bahwa membenarkan rasul tidak mungkin kecuali dengan mukjizat, maka ia seperti orang yang berkata bahwa mengenal Sang Pencipta tidak diperoleh kecuali dengan mengetahui barunya alam." (Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, tahqiq Muhammad Rasyad Salim, Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M, juz 8, hlm. 207)

Dari uraiannya terlihat bahwa dalam benak Ibnu Taimiyah, mukjizat adalah hal-hal luar biasa semisal terbelahnya bulan, munculnya air dari telapak tangan dan hal "sakti-sakti" semacam itu yang biasanya ditampakkan seorang nabi. Meskipun ia mengakui bahwa itu adalah salah satu tanda kebenaran para nabi, tapi baginya keimanan pada seorang nabi tidak bergantung pada ditunjukkannya hal-hal khawariq (luarbiasa) semacam itu. Dia  memberi contoh keimanan para Khulafaur Rasyidin dan para sahabat yang masuk islam di generasi awal yang mana mereka beriman kuat tanpa pernah menyaksikan hal-hal luar biasa seperti itu. Dia menulis:

كَمَا أَنَّ صِدِّيقَ الْأُمَّةِ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيًّا وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرَ وَأَمْثَالَهُمْ مِنَ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ لَمَّا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّ مُحَمَّدًا - ﷺ - رَسُولُ اللَّهِ آمَنُوا بِهِ وَلَمْ يَحْتَاجُوا مَعَ ذَلِكَ مِنَ الْخَوَارِقِ إِلَى مَا احْتَاجَ إِلَيْهِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ كَمَعْرِفَتِهِمْ

"Sebagaimana ash-Shiddiq umat ini, Abu Bakar, juga Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan orang-orang semisal mereka dari kalangan as-sabiqun al-awwalun, ketika telah jelas bagi mereka bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah, mereka pun beriman kepadanya, dan bersamaan dengan itu mereka tidak membutuhkan hal-hal luar biasa sebagaimana dibutuhkan oleh orang yang tidak mengenal (beliau) seperti pengenalan mereka." (Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqdh Kalam asy-Syi'ah al-Qadariyyah, tahqiq Muhammad Rasyad Salim, Jami'ah al-Imam Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M, juz 8, hlm. 207)

Bagi Ibnu Taimiyah, tanda kebenaran seorang Rasul juga dapat diketahui dari akhlak mulianya, perkataannya yang bijak, keadaan umatnya, dan lain-lain. Berikut adalah teks pernyataannya:

وَسِيرَةُ الرَّسُولِ وَأَخْلَاقُهُ وَأَقْوَالُهُ وَأَفْعَالُهُ وَشَرِيعَتُهُ مِنْ آيَاتِهِ وَأُمَّتُهُ مِنْ آيَاتِهِ وَعِلْمُ أُمَّتِهِ وَدِينُهُمْ مِنْ آيَاتِهِ وَكَرَامَاتُ صَالِحِ أُمَّتِهِ مِنْ آيَاتِهِ

"Perjalanan hidup rasul, akhlaknya, perkataannya, perbuatannya, dan syariatnya adalah bagian dari tanda-tandanya; umatnya adalah bagian dari tanda-tandanya; ilmu umatnya dan agama mereka adalah bagian dari tanda-tandanya; dan karamah orang-orang saleh dari umatnya adalah bagian dari tanda-tandanya." (Ibnu Taimiyah, al-Jawab ash-Shahih li man Baddala Din al-Masih, Dar al-'Asimah, cet. 2, 1419 H/1999 M, juz 5, hlm. 437)

Jadi, inti kritik Syaikh Ibnu Taimiyah pada Asy'ariyah adalah anggapan bahwa Asy'ariyah hanya membatasi bukti kebenaran seorang nabi sehingga bisa dipercayai validitas klaimnya hanya pada ada tidaknya mukjizat berupa hal-hal yang luar biasa dan melanggar hukum alam (khawariq). Menurutnya ada banyak hal lain yang juga bisa menjadi bukti kebenaran seorang Rasul. 

Sepintas logika yang ditawarkan Ibnu Taimiyah memang masuk akal, tapi sebetulnya kritiknya lemah karena kritik tersebut salah sasaran sebab sebenarnya Asy'ariyah tidak berpendapat seperti itu. 

Ibnu Taimiyah sebenarnya hanya salah paham saja terhadap teks-teks ulama Asy'ariyah sebab tidak membacanya secara utuh. Kita lihat misalnya bagaimana sebenarnya pendapat Imam al-Baqillani yang disinggung Ibnu Taimiyah di atas. Memang benar, seperti halnya para ulama lainnya, Imam al-Baqillani pernah berkata bahwa kebenaran klaim kenabian hanya bisa dibuktikan dengan mukjizat saja, namun ia tidak berhenti di situ. Al-Baqillani menjelaskan bahwa akhlak mulia, track record, keadaan umat dan sebagainya itu termasuk mukjizat juga. Ia menegaskan:

وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلنَّبِيِّ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، آيَةٌ سِوَى مَا ظَهَرَ مِنْ أَخْلَاقِهِ وَسِيرَتِهِ، وَمَا هَيَّأَهُ اللهُ، سُبْحَانَهُ، لَهُ وَأَتَاحَهُ وَيَسَّرَهُ لَهُ مِنْ بَسْطِ سُلْطَانِهِ وَعُلُوِّ كَلِمَتِهِ وَانْتِشَارِ دَعْوَتِهِ وَكَثْرَةِ الْأُمَمِ الدَّاخِلَةِ فِي شَرِيعَتِهِ، وَقَتْلِ أَهْلِ الْحِجَى وَالْأَحْلَامِ الْآبَاءَ وَالْأَوْلَادَ فِي طَاعَتِهِ وَنُصْرَتِهِ، وَمُفَارَقَتِهِمُ الدُّنْيَا وَالْعَادَاتِ، وَإِبْطَالِهِمُ الْمَنَاكِحَ وَالْعُقُودَ الَّتِي كَانَتْ بَيْنَهُمْ، وَقَطْعِهِمُ الْعِصْمَةَ، وَإِنْفَاقِ الْأَمْوَالِ، وَالصَّبْرِ عَلَى الذُّلِّ وَأَلَمِ الْجِرَاحِ فِي اتِّبَاعِهِ، وَكَوْنِهِمْ رَعِيَّةً بَعْدَ أَنْ كَانُوا قُدْوَةً وَأَئِمَّةً، وَبِزَوَالِ الْمَمَالِكِ فِي إِقَامَتِهِ بِدَعْوَتِهِ، وَاقْتِسَامِ صَحَابَتِهِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ الْبِلَادَ، وَتَمَوُّلِهِمُ الْأَمْوَالَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا بَشَّرَ بِهِ، فَإِنَّ هَذَا أَجْمَعَ قَدِ اتَّفَقَ لَهُ مِنْ غَيْرِ آيَةٍ أَتَى بِهَا وَلَا حُجَّةٍ أَظْهَرَهَا وَلَا أَمْرًا وَجَبَ الِانْقِيَادُ لَهُ، فَذَلِكَ أَيْضًا آيَةٌ مُعْجِزَةٌ عَجِيبَةٌ وَأَمْرٌ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ.

"Seandainya Nabi ‘alaihissalam tidak memiliki tanda (kenabian) apa pun selain apa yang tampak dari akhlak dan perjalanan hidupnya, serta apa yang Allah subhanahu persiapkan, sediakan, dan mudahkan baginya, berupa meluasnya kekuasaannya, tingginya kalimatnya, tersebarnya dakwahnya, banyaknya umat yang masuk [243a] ke dalam syariatnya, orang-orang berakal dan berpikiran lurus yang rela membunuh bapak-bapak dan anak-anak mereka demi ketaatan dan pembelaan kepadanya, mereka meninggalkan dunia dan adat kebiasaan, membatalkan pernikahan dan akad-akad yang dahulu ada di antara mereka, memutus ikatan ‘ishmah, menginfakkan harta, bersabar atas kehinaan dan sakitnya luka dalam mengikutinya, serta menjadi rakyat setelah sebelumnya menjadi panutan dan pemimpin, lenyapnya kerajaan-kerajaan dalam rangka tegaknya dakwahnya, pembagian negeri-negeri oleh para sahabatnya dan para imam sesudahnya, serta limpahan harta yang mereka kuasai, dan hal-hal lain yang telah ia kabarkan; maka sesungguhnya semua ini terjadi padanya tanpa ada tanda yang ia datangkan, tanpa hujjah yang ia tampilkan, dan tanpa perkara yang mewajibkan ketundukan kepadanya. Maka hal itu pun merupakan tanda mukjizat yang menakjubkan dan perkara yang menyalahi kebiasaan." (Abu Bakr Muhammad bin al-Thayyib al-Baqillani, Hidayat al-Mustarsyidin, hlm. 460)

Nah jelas bukan bahwa kritik Ibnu Taimiyah salah sasaran. Ketika Ibnu Taimiyah hendak menekankan bahwa akhlak dan semacamnya adalah juga bukti kenabian, bukan hanya hal-hal yang melanggar hukum alam saja, lalu mengkritik Imam al-Baqillani karena dianggap hanya mengakui hal-hal luar biasa saja, ternyata Imam al-Baqillani juga sama mengakui hal itu. Bedanya, Imam al-Baqillani menyebut akhlak, kondisi umat dan semacamnya itu juga bagian dari mukjizat sebab memang itu semua ketika berkumpul lengkap pada satu orang juga merupakan hal yang luar biasa, tidak dapat ditiru. Jadi, cakupan makna mukjizat yang luas ini yang tidak dipahami oleh Ibnu Taimiyah.

Soal keimanan Abu Bakar, Umar dan para sahabat generasi pertama yang oleh Ibnu Taimiyah diklaim terjadi tanpa melihat mukjizat, Imam al-Baqillani ternyata juga sudah menjawabnya sebagai berikut:

وَمِمَّا يُؤَكِّدُ هَذَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَدْ دَعَا الْآحَادَ إِلَى الْإِسْلَامِ مُحْتَجًّا عَلَيْهِمْ بِالْقُرْآنِ، لأنا نعلم ضرورة أنه لم يلزمهم تصديقه تقليدًا ونعلم أن السابقين الاولين إلى الاسلام لم يقلدوه إنما دخلوا على بصيرة ولم نعلمه قال لهم إرجعوا إلى جميع الفصحاء فإن عجزوا عن الاتيان بمثله فقد ثبت حجتي بل لما رآهم يعلمون إعجازه ألزمهم حكمه فقبلوه وتابعوا الحق وبادروا إليه مستسلمين ولم يشكوا في صدقه ولم يرتابوا في وجه دلالته فمن كانت بصيرته أقوى ومعرفته أبلغ كان إلى القبول منه أسبق ومن اشتبه عليه وجه الاعجاز أو خفى عليه بعض شروط المعجزات وأدلة النبوات - كان أبطأ إلى القبول حتى تكاملت أسبابه واجتمعت له بصيرته وترادفت عليه مواده

"Di antara yang menguatkan hal ini adalah bahwa Nabi ﷺ menyeru individu-individu kepada Islam dengan berhujjah kepada mereka menggunakan al-Qur'an, karena kita mengetahui secara pasti bahwa beliau tidak mewajibkan mereka membenarkannya secara taklid, dan kita mengetahui bahwa as-sabiqun al-awwalun kepada Islam tidak bertaklid kepada beliau, mereka masuk Islam dengan bashirah. Kita juga tidak mengetahui bahwa beliau berkata kepada mereka: 'Kembalilah kepada seluruh orang yang fasih; jika mereka tidak mampu mendatangkan yang semisalnya, maka telah tetap hujjahku.' Bahkan ketika beliau melihat mereka mengetahui kemukjizatannya, beliau mewajibkan hukumnya kepada mereka, lalu mereka menerimanya, mengikuti kebenaran, bergegas kepadanya dengan berserah diri, tidak meragukan kejujuran beliau dan tidak ragu pada sisi penunjukan dalilnya. Maka siapa yang bashirahnya lebih kuat dan pengetahuannya lebih mendalam, ia lebih dahulu menerimanya; dan siapa yang sisi kemukjizatan samar baginya, atau sebagian syarat mukjizat dan dalil-dalil kenabian tersembunyi darinya, ia lebih lambat menerimanya hingga sebab-sebabnya sempurna, bashirahnya terkumpul, dan bahan-bahannya saling menyusul padanya." (al-Baqillani, I'jaz al-Qur'an, tahqiq as-Sayyid Ahmad Saqr, Dar al-Ma'arif, Mesir, cet. 5, 1997 M, juz 1, hlm. 25)

Jadi Ibnu Taimiyah salah besar kalau menyangka bahwa generasi muslim awal beriman tanpa melihat mukjizat, justru faktanya mereka melihat mukjizat yang nyata berupa al-Quran yang mereka sadari betul-betul bahwa itu adalah hal yang luar biasa tidak mampu ditiru. Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah orang-orang yang masuk Islam dengan bashirah (kesadaran dan pertimbangan penuh) pada aspek mukjizat yang ditampakkan, bukan orang yang asal percaya saja tanpa pertimbangan apa pun. Hanya saja, kadar bashirah ini berbeda-beda antar individu sehingga ada yang langsung menyadari bahwa al-Qur'an dan track record Nabi Muhammad adalah mukjizat dan ada yang lambat baru sadar belakangan sehingga masuk Islamnya belakangan pula.

Masuk islam berdasarkan bashirah ini sesuai dengan instruksi Allah berikut:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

"Katakanlah (Muhammad), Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan kesadaran penuh (bashirah).  Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik." (QS. Surat Yusuf: 108)

Kemudian, pengakuan terhadap aspek-aspek selain hal yang melanggar hukum alam itu juga sama dijelaskan oleh Imam Asy'ariyah lain, bukan hanya Imam al-Baqillani. Sebagai contoh, Imam al-Ghazali misalnya juga berkata bahwa Syama'il (sifat-sifat ) serta Ahwal (kodisi Nabi) sendiri adalah salah satu bukti qath'i (meyakinkan) atas klaim kenabiannya, jadi bukan hanya yang "sakti-sakti" saja. Berikut penjelasannya::

بَلْ كَانَتْ شَمَائِلُهُ وَأَحْوَالُهُ شَوَاهِدَ قَاطِعَةً بِصِدْقِهِ حَتَّى إِنَّ الْعَرَبِيَّ الْقُحَّ كَانَ يَرَاهُ فَيَقُولُ وَاللَّهِ مَا هَذَا وَجْهُ كَذَّابٍ فَكَانَ يَشْهَدُ لَهُ بِالصِّدْقِ بِمُجَرَّدِ شَمَائِلِهِ

"Bahkan perangai dan keadaan beliau merupakan bukti-bukti pasti atas kejujurannya, sampai-sampai orang Arab asli yang murni melihat beliau lalu berkata: 'Demi Allah, ini bukan wajah pendusta.' Maka ia bersaksi atas kejujuran beliau hanya dengan melihat perangai beliau." (al-Ghazali, Ihya' 'Ulum ad-Din, Dar al-Ma'rifah, Beirut, juz 2, hlm. 383)

Di tempat lain, Imam Ghazali menjelaskan lebih detail apa saja faktor-faktor yang bisa membuat seseorang mempercayai klaim kenabian Nabi Muhammad, ketika ia menegaskan bahwa dalil-dalil ilmu kalam bukan satu-satunya metode untuk itu. Ia menjelaskan sebagai berikut:

وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ مَدْرَكَ الْإِيمَانِ الْكَلَامُ وَالْأَدِلَّةُ الْمُحَرَّرَةُ وَالتَّقْسِيمَاتُ الْمُرَتَّبَةُ فَقَدْ أَبْعَدَ لَا بَلِ الْإِيمَانُ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي قَلْبِ عَبْدِهِ عَطِيَّةً وَهِدَايَةً مِنْ عِنْدِهِ تَارَةً بِتَنَبُّهٍ فِي الْبَاطِنِ لَا يُمْكِنُ التَّعْبِيرُ عَنْهُ وَتَارَةً بِسَبَبِ رُؤْيَا فِي الْمَنَامِ وَتَارَةً بِمُشَاهَدَةِ حَالِ رَجُلٍ مُتَدَيِّنٍ وَسِرَايَةِ نُورِهِ إِلَيْهِ عِنْدَ صُحْبَتِهِ وَمُجَالَسَتِهِ وَتَارَةً بِقَرِينَةِ حَالٍ، فَقَدْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ جَاحِدًا لَهُ مُنْكِرًا، فَلَمَّا وَقَعَ بَصَرُهُ عَلَى طَلْعَتِهِ الْبَهِيَّةِ وَغُرَّتِهِ الْغَرِيرَةِ السَّنِيَّةِ فَرَآهَا يَتَلَأْلَأُ مِنْهَا نُورُ النُّبُوَّةِ قَالَ: وَاللَّهِ مَا هَذَا وَجْهُ كَذَّابٍ، وَسَأَلَهُ أَنْ يَعْرِضَ عَلَيْهِ الْإِسْلَامَ فَأَسْلَمَ. وَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ: أَنْشُدُكَ اللَّهَ، بَعَثَكَ اللَّهُ نَبِيًّا؟ فَقَالَ ﷺ: بَلَى، إِنِّي وَاللَّهِ اللَّهُ بَعَثَنِي نَبِيًّا، فَصَدَّقَهُ بِيَمِينِهِ وَأَسْلَمَ. فَهَذَا وَأَمْثَالُهُ مِنْ أَنْ يُحْصَى، وَلَمْ يَشْتَغِلْ وَاحِدٌ مِنْهُمْ قَطُّ بِالْكَلَامِ وَتَعَلُّمِ الْأَدِلَّةِ.

"Siapa yang mengira bahwa sumber capaian iman adalah ilmu kalam, dalil-dalil yang tersusun rapi, dan pembagian-pembagian yang tertata, sungguh ia telah jauh menyimpang. Bukan demikian. Iman adalah cahaya yang Allah Ta'ala lemparkan ke dalam hati hamba-Nya sebagai anugerah dan petunjuk dari sisi-Nya. Kadang berupa kesadaran batin yang tak bisa diungkapkan, kadang lewat mimpi, kadang karena menyaksikan keadaan orang yang taat beragama dan merambatnya cahayanya kepada dirinya saat bersahabat dan bermajelis dengannya, dan kadang karena indikasi keadaan. Pernah seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan mengingkari dan menolak beliau. Ketika pandangannya jatuh pada wajah beliau yang berseri dan dahi beliau yang cemerlang lagi mulia, ia melihat cahaya kenabian memancar darinya, lalu berkata: 'Demi Allah, ini bukan wajah pendusta.' Ia meminta agar beliau menawarkan Islam kepadanya, lalu ia masuk Islam. Datang pula yang lain dan berkata: 'Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah mengutusmu sebagai nabi?' Beliau ﷺ menjawab: 'Ya, demi Allah, Allah yang mengutusku sebagai nabi.' Maka ia membenarkan beliau berdasarkan sumpah itu dan masuk Islam. Kejadian seperti ini dan semisalnya terlalu banyak untuk dihitung, dan tak seorang pun dari mereka pernah sama sekali menyibukkan diri dengan ilmu kalam dan mempelajari dalil-dalil." (al-Ghazali, Faishal at-Tafriqah bayna al-Islam wa az-Zandaqah, sebagaimana dinukil dalam al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, tahqiq 'Ali 'Abd al-Bari 'Athiyyah, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, cet. 1, 1415 H/1994 M, juz 13, hlm. 219)

Keterangan Hujjatul Islam di atas sekaligus menjewab sindiran Ibnu Taimiyah sebelumnya yang mengesankan bahwa Asy'ariyah mewajibkan mempelajari dalil-dalil argumen ilmu kalam dan seolah iman seseorang bergantung pada itu. Kenyataannya sama sekali tidak demikian sebab iman bisa datang dari berbagai sumber.

Jadi kesimpulannya, kritiknya terhadap Asy'ariyah terbukti tidak tepat sebab apa yang ia kritikkan ternyata sudah diakui juga oleh Asy'ariyah. 

Semoga bermanfaat. 

Sumber Facebook Ustadz : Abdul Wahab Ahmad

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Menjawab Kritik Ibnu Taimiyah Tentang Penetapan Kenabian Menurut Asy'ariyah". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#asyariyah #ibnu taimiyah