
𝐇𝐚𝐧𝐜𝐮𝐫 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐏𝐮𝐣𝐢𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧: 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐓𝐫𝐚𝐠𝐢𝐬 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐥-𝐐𝐚𝐬𝐞𝐦𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 "𝐊𝐮𝐥𝐭𝐮𝐬 𝐈𝐧𝐭𝐞𝐥𝐞𝐤𝐭𝐮𝐚𝐥" 𝐊𝐨𝐧𝐭𝐞𝐦𝐩𝐨𝐫𝐞𝐫
𝑲𝒊𝒔𝒂𝒉 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑸𝒂𝒔𝒆𝒎𝒊
Abdullah_al-Qasemi adalah salah satu tragedi intelektual paling masyhur sekaligus menjadi peringatan keras (ibrah) di dunia Islam. Perjalanannya dari seorang pembela tauhid yang diagungkan hingga menjadi seorang ateis radikal sering kali dijadikan contoh nyata tentang bagaimana pujian yang berlebihan mampu memupuk kesombongan intelektual yang berujung pada kerapuhan hati manusia.
𝑴𝒂𝒔𝒂 𝑲𝒆𝒆𝒎𝒂𝒔𝒂𝒏: 𝑫𝒊𝒂𝒈𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝑻𝒂𝒏𝒑𝒂 𝑩𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑷𝒂𝒓𝒂 𝑼𝒍𝒂𝒎𝒂
Lahir di Arab Saudi pada tahun 1907, Al-Qasemi tumbuh sebagai pemuda yang luar biasa cerdas. Saat menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir, ia menjadi garda terdepan dalam membela akidah Salafi melalui tulisan-tulisannya yang tajam.
Saking indahnya argumentasi Al-Qasemi dalam membantah para penentang dakwah sunnah, salah seorang gurunya sampai memujinya dengan kalimat yang sangat ekstrem: “𝐁𝐮𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐡𝐚𝐫 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐮𝐫𝐠𝐚”. Komunitas Salafi saat itu menyanjungnya setinggi langit dan melihatnya sebagai aset terbesar yang tak tertandingi.
𝑲𝒆𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉𝒂𝒏 𝑨𝒌𝒊𝒃𝒂𝒕 𝑷𝒖𝒋𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑨𝒎𝒃𝒊𝒔𝒊 𝑹𝒂𝒔𝒊𝒐
Pujian yang bertubi-tubi tanpa kontrol ini perlahan menumbuhkan benih keangkuhan. Al-Qasemi mulai merasa rasionya berada di atas segalanya. Ia mulai menggugat dogma agama dan puncaknya, arah pemikirannya berbalik 180 derajat. Dari seorang pembela ketuhanan, ia menulis buku kontroversial demi mendeklarasikan ateismenya.
Para ulama yang dulu memujinya terhentak dalam penyesalan mendalam. Mereka menyadari bahwa pujian berlebihan yang tidak proporsional ikut andil dalam melahirkan monster kesombongan. Ulama besar Salafi seperti Syekh Shalih al-Fauza kerap mengangkat kisah ini sebagai pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang boleh merasa aman dari akhir hidup yang buruk (suul khatimah). Al-Qasemi akhirnya wafat karena kanker di Kairo pada 1996 tanpa pernah bertobat.
𝑹𝒆𝒇𝒍𝒆𝒌𝒔𝒊 𝑲𝒐𝒏𝒕𝒆𝒎𝒑𝒐𝒓𝒆𝒓: 𝑭𝒆𝒏𝒐𝒎𝒆𝒏𝒂 𝑮𝒆𝒍𝒂𝒓 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒅𝒅𝒊𝒕𝒔 𝑺𝒚𝒆𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒍-𝑨𝒍𝒃𝒂𝒏𝒊
Tragedi Al-Qasemi mengajarkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap budaya mengkultuskan tokoh atau memberikan pujian yang melampaui batas realitas keilmuan objeknya. Pola psikologis serupa hari ini sering terlihat dalam cara sebagian kalangan membela dan melabeli Syeikh Nashiruddin Al-Albani Oleh para pengikutnya, Syeikh Al-Albani kerap diglorifikasi secara berlebihan sebagai "𝗠𝘂𝗵𝗮𝗱𝗱𝗶𝘁𝘀 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗶". Padahal, jika dibedah secara objektif menggunakan indikator ketat ilmu Musthalah Al-Hadits standar ulama Salaf terdahu, beliau dinilai tidak memenuhi kriteria tersebut.
Syeikh Al-Albani secara luas diketahui belajar secara otodidak (baahits) di Perpustakaan Zahiriyah tanpa talaqqi (belajar langsung) dan sanad guru yang kuat. Selain itu, beliau lebih banyak bersandar pada aktivitas penelaahan teks di lembaran kitab (indeksasi/takhrij tertulis) daripada hafalan dada (al-hifzh) yang menjadi syarat mutlak gelar Muhaddits era Salaf.
𝑴𝒂𝒏𝒊𝒇𝒆𝒔𝒕𝒂𝒔𝒊 𝑲𝒆𝒔𝒐𝒎𝒃𝒐𝒏𝒈𝒂𝒏: 𝑺𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒕𝒂-𝑲𝒂𝒕𝒂 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝑷𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑼𝒍𝒂𝒎𝒂 𝑳𝒂𝒊𝒏
Dampak dari pujian berlebihan dan posisi "tanpa cela" yang diberikan oleh para pengikutnya memicu lahirnya rasa percaya diri yang berlebihan pada diri Syeikh Al-Albani. Hal ini tercermin dari cara beliau berinteraksi dengan sesama ulama. Ketika hasil riset mandirinya dikritik, Syeikh Al-Albani sering kali menyerang balik menggunakan diksi-diksi yang tajam, kasar, dan dinilai jauh dari etika akademis Islam (adabul ikhtilaf):
𝗠𝗲𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗠𝗮𝘇𝗵𝗮𝗯: Beliau sering melabeli para fukaha yang mengikuti mazhab (taqlid) dengan sebutan kelompok yang "buta secara intelektual", "bebal", atau menuduh mereka "menyembah para rabi dan rahib" hanya karena mendahulukan pendapat mazhab daripada teks hadis versi saringan beliau.
𝗠𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗛𝗮𝗱𝗶𝘀 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹: Ketika Syeikh Habiburrahman Al-A'zami—ulama hadis raksasa asal India yang diakui dunia karena berhasil mengedit Mushannaf Abdurrazzaq—menulis kritik ilmiah terhadapnya, Al-Albani membalas lewat kitab Al-Anwarul Kasyifah dengan julukan yang sangat kasar seperti "Al-Kadzub" (Pendusta Besar), "Jahil" (Sangat Bodoh), dan "Pendengki".
𝗠𝗲𝗿𝗲𝗺𝗲𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗔𝗵𝗹𝗶 𝗦𝗮𝗻𝗮𝗱: Terhadap Syeikh Abdullah bin Siddiq al-Ghumari (ulama hadis terkemuka asal Maroko), Al-Albani tidak segan melabeli argumen ilmiah lawannya tersebut di dalam kitab-kitabnya sebagai "omong kosong yang kekanak-kanakan", "kebodohan yang nyata", serta "pengkhianatan ilmiah".
𝗠𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗞𝗼𝗹𝗲𝗴𝗮 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗳𝗶: Kelancangan verbal ini bahkan menyasar institusi tempatnya bernaung. Ketika Syeikh Ismail al-Anshari (peneliti senior di Lembaga Fatwa Arab Saudi/Lajnah Daimah) mengkritik fatwa kontroversial Al-Albani mengenai emas melingkar, Al-Albani menyerang balik dengan menyebut argumen Syeikh Ismail sebagai tulisan yang "lahir dari kedunguan" dan "pemahaman yang dangkal".
𝑲𝒆𝒔𝒊𝒎𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏
Ketika para ulama atau akademisi mencoba mendudukkan kapasitas Syeikh Al-Albani secara proporsional—bahwa beliau lebih tepat disebut sebagai Peneliti Hadis (Baahitsul Hadis) dan bukan Muhaddits—sebagian pengikut fanatiknya merespons dengan kemarahan naratif dan pembelaan yang agresif. Mereka merasionalisasi ucapan kasar Al-Albani kepada ulama lain sebagai bentuk "ketegasan dalam membela sunnah".
Menghargai jasa Syeikh Al-Albani dalam menghidupkan literatur hadis adalah hal yang objektif. Namun, menyematkan gelar Muhaddits standar Salaf kepadanya secara paksa—lalu membenarkan segala caci makinya terhadap ulama lain—adalah bentuk kultus individu yang berbahaya. Sejarah Abdullah al-Qasemi telah membuktikan: ketika pujian mengalahkan realitas obyektif dan fanatisme menutup pintu kritik, yang lahir bukanlah pembela agama yang kokoh, melainkan petaka ilmiah dan kesombongan yang bisa meruntuhkan segalanya.
#tribunawswaja #salafiwahabi #albani #muhaddits
Sumber Facebook : Tribun Aswaja