Kisah Ulama Menahan Amarah, Teladan Akhlak yang Menggetarkan

Kisah Ulama Menahan Amarah, Teladan Akhlak yang Menggetarkan

𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗗𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗘𝗡𝗗𝗔𝗟𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗥𝗔𝗛

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Berikut ini adalah beberapa kisah teladan tentang bagaimana keindahan akhlaq dari para ulama dan shalihin dalam mengendalikan emosi atau api amarah yang sedang berkobar, semoga kita bisa meneladinya.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: 'Uyainah bin Hishn datang menemui Amirul Mukminin Umar bin al Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu berkata dengan kasar, "Wahai Ibnu al Khaththab! Demi Allah, engkau tidak memberi kami dengan layak dan tidak pula memutuskan perkara di antara kami dengan adil." 

Umar pun marah hingga hampir menghukumnya. Saat itu al Hurr bin Qais yang ada bersamanya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah berfirman, 

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ 

"Jadilah pemaaf, perintahkanlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil." (QS. al A'raf: 199)

Ibnu Abbas melanjutkan: ‘Demi Allah, Umar tidak melampaui ayat tersebut setelah dibacakan kepadanya. Beliau adalah seorang yang selalu berhenti dan tunduk kepada Kitab Allah.” (HR. Bukhari)

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa seorang pembantu wanita sedang menuangkan air untuk wudhnya al imam Ali bin al Husain rahimahullah. Tiba-tiba bejana yang dipegangnya terjatuh dan mengenai wajah beliau hingga melukainya. Ali bin al Husain pun menatap tajam kepada wanita itu.

Wanita tersebut segera berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman, 

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

'...dan orang-orang yang menahan amarahnya...' (QS. Ali Imran: 134)

Beliau menjawab, 'Aku sedang menahan amarahku.'

Wanita itu melanjutkan bacaannya,

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ 

'...dan memaafkan kesalahan orang lain...'

Beliau menjawab, 'Dan aku telah memaafkanmu.'

Lalu wanita itu kembali melanjutkan bacaan ayatnya,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

'Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.'

Sang imam pun berkata kepada budak wanita tersebut, 'Pergilah, engkau aku merdekakan karena Allah.'"[14]

Al imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam biografi Umar bin Abdul Aziz bahwa suatu hari ada seseorang yang terus-menerus berbicara kepadanya dengan kalimat yang menyakitkan hingga membuat beliau marah. Umar hampir saja menghukumnya, tetapi beliau segera menahan dirinya, lalu berkata,

أردت أن يستفزني الشيطان بعزة السلطان، فأنال منك ما تناله مني غدا، قم عافاك الله، لا حاجة لنا في مقاولتك.

"Engkau ingin agar setan memancingku dengan kemuliaan kekuasaan yang Allah berikan kepadaku, sehingga hari ini aku membalasmu, lalu besok engkau menuntut balas dariku di hadapan Allah. Pergilah, semoga Allah mengampunimu. Aku tidak ingin melayanimu lagi."[15]

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah marah. Putranya, Abdul Malik rahimahumallah, berkata, "Wahai Amirul Mukminin, dengan segala karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepadamu, apakah engkau masih marah seperti ini?"

Umar menjawab, "Apakah engkau sendiri tidak pernah marah, wahai Abdul Malik?"

putranya, Abdul Malik menjawab, 

وما يغني عني سعة جوفي إذا لم أردد فيه

"Lalu apa gunanya Dia melapangkan dadaku jika aku tidak mampu menahan kemarahan yang ada di dalamnya?"[16]

Mendengar nasehat anaknya tersebut, redalah kemarahan sayidina Umar bin Abdul Aziz.

 Dikisahkan bahwa Khalifah al Mahdi pernah sangat marah kepada seseorang, lalu beliau memerintahkan agar cambuk didatangkan. Ketika al imam Syabib melihat betapa besarnya kemarahan al Mahdi, sementara orang-orang hanya tertunduk diam dan tidak seorang pun berani berbicara, ia berkata:

يا أمير المؤمنين، لا تغضبن لله بأشد مما غضب لنفسه

"Wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau marah karena Allah dengan kemarahan yang lebih besar daripada kemurkaan Allah terhadap pelanggaran terhadap hak-Nya sendiri." 

 Mendengar nasehat itu, marah al Mahdi pun langsung mereda, lalu ia berkata, "Lepaskan dia."[17]

Abdullah bin Thahir berkata, "Aku pernah berada di sisi Khalifah al Ma'mun. Beliau berulang kali memanggil, 'Wahai pelayan! Wahai pelayan!' dengan suara keras.

Kemudian datanglah seorang pelayan Turki seraya berkata, 'Apakah seorang pelayan tidak boleh makan, minum, berwudhu, atau salat? Setiap kali kami baru saja keluar dari hadapanmu, engkau selalu memanggil lagi, "Wahai pelayan! Wahai pelayan!" Sampai kapan terus seperti ini?'"

Abdullah bin Thahir berkata, "Saat itu langsung al Ma'mun menundukkan kepalanya cukup lama. Aku mengira ia akan memerintahkan agar pelayan itu dihukum seberat-beratnya."

Namun al Ma'mun justru berkata,

يا عبد الله، إن الرجل إذا حسنت أخلاقه ساءت أخلاق خدمه، وإذا ساءت أخلاقه حسنت أخلاق خدمه، فلا نستطيع أن نسيء أخلاقنا لتحسن أخلاق خدمنا.

"Wahai Abdullah, apabila akhlaq seorang tuan baik, biasanya justru akhlaq para pelayannya menjadi kurang baik. Sebaliknya, apabila akhlaq seorang tuan itu buruk, para pelayannya justru akan menjadi baik. Namun kami tidak mungkin merusak akhlaq kami hanya agar akhlak para pelayan kami menjadi baik."[18]

Wallahu a’lam.

Simak bahasan lengkapnya:

1.  Hakikat sifat marah dan keburukannya

https://astofficial.id/contents/880/keburukan-sifat-marah

2.  Penyebab mudah marah & cara mengobatinya

https://astofficial.id/contents/881/keburukan-sifat-marah-bagian-ii

-------------

[14] Thabaqat al Kubra (9/110)

[15] Al Bidayah wa an Nihayah (12/698)

[16] Jami’ li al Ulum wa al Hikam (1/366)

[17] Mukhtashar Minhaj al Qashidin hlm. 182

[18] Asy Syakwa wa al Itab li Ats Tsaalabi hlm. 45 

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Kisah Ulama Menahan Amarah, Teladan Akhlak yang Menggetarkan". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Lebih lamaTerbaru