
Mengembalikan Makna "Sunnah" dan "Salaf" untuk Menjaga Ukhuwah
Sejarah peradaban Islam pernah mencatat sebuah ironi besar yang meruntuhkan imperium paling megah di bumi Eropa. Di Andalusia, kejayaan Islam selama hampir delapan abad perlahan ambruk bukan semata karena hantaman pedang musuh dari luar, melainkan akibat keroposnya tiang dari dalam. Ego sektarian, fanatisme golongan, dan perpecahan akut menjadi racun paling mematikan yang menghancurkan persatuan umat.
Hari ini, sejarah kelam itu tampak terulang kembali dalam bentuk yang lebih sunyi namun sama merusaknya: ego teologis dan monopoli kebenaran atas nama kelompok.
Di tengah dinamika keislaman kontemporer, kita sering kali menyaksikan bagaimana istilah-istilah mulia yang sejatinya milik seluruh umat Islam seperti "Sunnah" dan "Salaf" disempitkan maknanya menjadi label eksklusif. Istilah-istilah ini dibajak untuk membentuk sekat-sekat sosial, menciptakan garis demarkasi tajam yang memisahkan "golongan kami" dan "mereka yang tersesat".
Ketika Label Menjadi Alat Pemecah Belah
Secara bahasa dan historis, Sunnah merujuk pada segala teladan Rasulullah ï·º, sementara Salaf merujuk kepada generasi awal umat Islam yang saleh. Keduanya adalah warisan universal, panduan hidup yang menjadi milik setiap Muslim di muka bumi, tanpa memandang mazhab, organisasi, atau latar belakang sosialnya.
Namun, ketika klaim kepemilikan atas istilah ini jatuh ke tangan kelompok tertentu, yang lahir adalah mentalitas sektarian yang meresahkan. Muncul sebuah premis terselubung: siapa yang tidak bersama kelompok kami, tidak sejalan dengan metode kami, atau tidak menggunakan literatur rujukan pilihan kami, maka ia dianggap jauh dari sunnah.
Dampaknya sangat destruktif bagi tatanan sosial umat:
1. Obral Vonis Sesat dan Bid'ah: Ruang dialog dan adab ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang dulu dijaga ketat oleh para ulama mazhab kini runtuh. Saudara seiman yang bersyahadat sama dengan mudahnya dicap sebagai ahlul bid’ah atau bahkan disesatkan hanya karena berbeda dalam memahami masalah furu'iyah (cabang agama).
2. Reduksi Esensi Agama: Sunnah Nabi ï·º yang sangat luas yang mencakup akhlak mulia, keadilan sosial, kejujuran, kepedulian terhadap sesama, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan direduksi sebatas simbol formal, atribut fisik, atau slogan kelompok semata.
3. Alienasi Umat: Umat Islam arus utama yang berpegang pada tradisi keilmuan mazhab yang sah justru merasa terasing di negeri sendiri, disudutkan oleh klaim-klaim sepihak yang merasa paling murni beragama.
Jebakan Mulukuth Thawaif Modern
Jika ditarik garis lurus dengan keruntuhan Andalusia, apa yang terjadi hari ini adalah bentuk modern dari Mulukuth Thawaif terpecahnya umat Islam menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling curiga dan saling menjatuhkan.
Musuh-musuh Islam tidak perlu repot-repot meruntuhkan bangunan peradaban kita dari luar. Cukup dengan membiarkan kita sibuk bertengkar sesama saudara, saling membid'ahkan di mimbar-mimbar dan media sosial, maka kekuatan kolektif umat Islam akan lumpuh dengan sendirinya. Energi umat habis untuk urusan ego kelompok, sementara persoalan besar umat seperti ketertinggalan pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan terabaikan begitu saja.
SaSudah saatnya umat Islam membuka mata dan mengambil i'tibar (pelajaran) yang dalam dari lembaran sejarah. Kita perlu merobohkan tembok-tembok eksklusivitas yang dibangun atas nama golongan.
1. Rebut Kembali Makna Istilah: Istilah "Sunnah" dan "Salaf" bukanlah hak paten milik kelompok tertentu. Setiap Muslim yang mencintai Nabi dan mengikuti tuntunannya adalah bagian dari pejuang sunnah.
2. Budayakan Kembali Adab Ikhtilaf Perbedaan pendapat dalam memahami agama adalah keniscayaan sejarah. Para imam mazhab besar dulu saling menghormati meski berbeda pandangan. Mengapa generasi hari ini begitu mudah menebar kebencian hanya karena masalah cabang?
3. Utamakan Substansi di Atas Simbol: Beragama bukan sekadar memenangkan perdebatan identitas atau merasa paling suci di atas mimbar. Beragama yang benar adalah bagaimana akhlak kita menyejukkan, merangkul, dan membawa kemaslahatan bagi sesama manusia.
Mari kita sadar sebelum terlambat. Jangan biarkan ego kelompok meruntuhkan ukhuwah Islamiyah yang telah dibangun dengan darah dan air mata para pendahulu kita. Islam itu luas, indah, dan merangkul jangan biarkan ia disempitkan oleh sekat-sekat buatan manusia yang egois.
Tulisan ini penulisannya dirapikan oleh AI namun konsep awalnya tetap dari saya.
Sumber FB Ustadz : Pardi Syahri