
Hubungan antara Syaikh Abdullah bin Baz dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani merupakan cerminan nyata dari tradisi keilmuan Islam yang sehat yang berlandaskan pada penghormatan yang mendalam, namun tetap menyisakan ruang bagi perbedaan pendapat akademis (ikhtilaf). Meskipun keduanya merupakan figur sentral dalam dakwah Salafiyah kontemporer, perbedaan latar belakang disiplin ilmu dan pendekatan metodologis melahirkan dinamika hukum yang menarik di antara keduanya.
Syaikh Bin Baz, yang tumbuh dan menjabat sebagai mufti di Arab Saudi, memiliki kecenderungan metodologis yang lebih akomodatif terhadap warisan fikih klasik, khususnya Mazhab Hanbali yang telah lama mengakar kuat di wilayah tersebut. Dalam menetapkan suatu hukum, beliau tidak hanya berfokus pada keabsahan suatu riwayat secara parsial, tetapi juga mempertimbangkan konsensus mayoritas ulama (jumhur), fatwa-fatwa sahabat, serta tradisi fikih yang telah teruji dan teratur lintas generasi.
Sebaliknya, Syaikh Al-Albani bergerak dengan pendekatan maddah haditsiyyah yang sangat independen. Sebagai seorang pengkaji hadis (Bahits), beliau memfokuskan kaji pemikirannya pada murni pengujian sanad dan matan riwayat secara langsung. Jika sebuah riwayat dinilai tidak memenuhi kriteria kesahihan menurut penelitian kritisnya, Syaikh Al-Albani tidak ragu untuk mengesampingkan pandangan mazhab maupun pendapat jumhur yang berlandaskan pada riwayat tersebut.
Hukum bersedekap setelah iktidal
Sebagai contoh, mengenai hukum bersedekap setelah iktidal, Syaikh Bin Baz menegaskan kesunahannya dalam Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah:
َูุงْูู َุดْุฑُْูุนُ ِْููู ُุตَِّูู ุญَุงَِูู ุงَِْูููุงู ِ َูุจَْู ุงูุฑُُّْููุนِ َูุจَุนْุฏَُู ุฃَْู َูุถَุนَ َูุฏَُู ุงُْููู َْูู ุนََูู َِِّููู ุงُْููุณْุฑَู ุนََูู ุตَุฏْุฑِِู...
"Disyariatkan bagi orang yang salat ketika berdiri sebelum rukuk dan sesudahnya untuk meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan kirinya di atas dadanya..."
Sebaliknya, Syaikh Al-Albani menganggap perbuatan tersebut tidak memiliki landasan dalil eksplisit. Dalam karyanya mengenai tata cara salat, Ashlu Sifati Shalatin-Nabi SAW, beliau menuliskan:
ََููุณْุชُ ุฃَุดَُّู ِูู ุฃََّู َูุถْุนَ ุงَْููุฏَِْูู ุนََูู ุงูุตَّุฏْุฑِ ِูู َูุฐَุง ุงَِْูููุงู ِ ุจِุฏْุนَุฉٌ ุถَูุงََูุฉٌ؛ِุฃََُّูู َูู ْ َูุฑِุฏْ ู ُุทًَْููุง ِูู ุดَْูุกٍ ู ِْู ุฃَุญَุงุฏِْูุซِ ุงูุตَّูุงَุฉِ
"Aku tidak ragu bahwa meletakkan kedua tangan di atas dada pada berdiri yang ini (setelah iktidal) adalah bid'ah yang sesat, karena hal itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali dalam satu pun hadis tentang salat."
Hukum Melingkar bagi Wanita (Emas Melingkar):
Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa perhiasan emas yang berbentuk melingkar atau melingkar sempurna—seperti gelang, cincin, dan kalung—harom hukumnya bagi wanita. Beliau mendasarkan pandangannya pada analisis takhrij terhadap beberapa riwayat hadis khusus yang menurut penelitiannya berstatus shahih atau hasan, serta tidak bernasikh (tidak dihapus hukumnya). Dalam karya beliau Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthahharah (hlm. 236–237), Syaikh Al-Albani menuliskan:
ََููุฐِِู ุงูุฃَุญَุงุฏِْูุซُ ุชَุฏُُّู ุฏَูุงََูุฉً ุธَุงِูุฑَุฉً ุนََูู ุญُุฑْู َุฉِ ุงูุฐََّูุจِ ุงْูู ُุญََِّูู ุนََูู ุงِّููุณَุงุกِ، َููุงَ ََููุงِูู َูุฐَุง ู َุงุฌَุงุกَ ِูู ุจَุนْุถِ ุงูุฃَุญَุงุฏِْูุซِ ู ِْู ุฅِุจَุงุญَุฉِ ุงูุฐََّูุจِ ِِّْูููุณَุงุกِ، ِูุฃََّู َูุฐِِู ู َุดْุฑُْูุทَุฉٌ ุจِุฃَْู ูุงَ ََُْูููู ู ُุญًََّููุง
"Maka hadis-hadis ini menunjukkan indikasi yang jelas atas keharaman emas yang melingkar bagi wanita. Hal ini tidak bertentangan dengan apa yang tercantum dalam sebagian hadis tentang kebolehan emas bagi wanita, karena kebolehan tersebut diikat oleh syarat selama emas itu tidak berbentuk melingkar."
Di antara dalil yang dijadikan pijakan oleh Syaikh Al-Albani adalah riwayat dari Tsauban RA, di mana Rasulullah SAW bersabda ketika melihat putri beliau, Fatimah RA, mengenakan kalung emas (HR. Ahmad dan An-Nasa'i):
ุฃََูุณُุฑُِّู ุฃَْู ََُْูููู ุงَّููุงุณُ: َูุฐِِู َูุงุทِู َุฉُ ุจِْูุชُ ู ُุญَู َّุฏٍ، ِูู َูุฏَِูุง ุณِْูุณَِูุฉٌ ู ِْู َูุงุฑٍ؟
"Apakah engkau suka jika orang-orang berkata: 'Ini Fatimah putri Muhammad, di tangannya terdapat rantai dari api neraka?'"
Sebaliknya, Syaikh Abdullah bin Baz memfatwakan kebolehan perhiasan emas bagi wanita secara mutlak, baik yang berbentuk melingkar maupun tidak. Syaikh Bin Baz menilai bahwa hadis-hadis larangan yang dibawakan oleh Syaikh Al-Albani berstatus syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat), telah dinasikh (dihapus hukumnya), atau diinterpretasikan secara keliru karena bertentangan dengan keumuman Al-Qur'an dan Sunnah Al-Mutawatirah. Dalam Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah (Jilid 19, hlm. 121), Syaikh Bin Baz menegaskan landasan kebolehannya:
َูุฏْ ุฃَุฌْู َุนَ ุนَُูู َุงุกُ ุงูุฅِุณْูุงَู ِ ุนََูู ุฌََูุงุฒِ ุงูุชَّุญَِّูู ุจِุงูุฐََّูุจِ ِِّْูููุณَุงุกِ، ََََูููู ุงูุฅِุฌْู َุงุนَ ุบَْูุฑُ ูุงุญِุฏٍ ู َِู ุงูุฃَุฆِู َّุฉِ... َูุงูุฏَُِّْููู ุนََูู ุฐََِูู ุฃَْูุถًุง ุนُู ُْูู ُ ุขَูุงุชٍ ู َِู ุงُْููุฑْุขِู ุงَْููุฑِْูู ِ َูุฃَุญَุงุฏِْูุซَ َูุซِْูุฑَุฉٍ ุตَุญِْูุญَุฉٍ
"Sungguh para ulama Islam telah sepakat (ijmak) atas kebolehan berhias dengan emas bagi wanita, dan konsensus ini dinukil oleh lebih dari satu imam... Dalil atas hal tersebut juga mencakup keumuman ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim serta banyak hadis sahih."
Syaikh Bin Baz merujuk pada ayat Al-Qur'an sebagai dalil umum kebolehan perhiasan bagi wanita, yaitu Firman Allah SWT dalam Surah Az-Zukhruf ayat 18:
ุฃََูู َْู َُููุดَّุฃُ ِูู ุงْูุญَِْููุฉِ ََُููู ِูู ุงْูุฎِุตَุงู ِ ุบَْูุฑُ ู ُุจٍِูู
"Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak mampu memberi alasan yang tegas dalam pertengkaran?"
Selain itu, Syaikh Bin Baz juga mengutip landasan ijmak klasik dari kitab-kitab perbandingan mazhab, seperti perkataan Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab (Jilid 6, hlm. 40):
ุฃَุฌْู َุนَ ุงْูู ُุณِْูู َُْูู ุนََูู ุฅِุจَุงุญَุฉِ ุญَِْูู ุงูุฐََّูุจِ َูุงِْููุถَّุฉِ ِِّْูููุณَุงุกِ... ุณََูุงุกٌ ِูู ุฐََِูู ุงูุตَِّูุงุฑُ َูุงَูุทَُّْูู َูุงْูุฎَุงุชَู ُ َูุงْูุฎِْูุฎَุงُู َูุงูุณِّْูุณَِูุฉُ...
"Para ulama kaum muslimin telah sepakat (ijmak) atas kebolehan perhiasan emas dan perak bagi wanita... baik itu berupa gelang tangan, kalung, cincin, gelang kaki, maupun rantai/kalung..."
Zakat Perhiasan Simpanan:
Perbedaan pandangan antara Syaikh Abdullah bin Baz dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengenai hukum zakat perhiasan emas dan perak yang disimpan maupun dipakai merupakan salah satu diskursus Fikih dan Hadis yang sangat dinamis. Perbedaan ini bersumber dari cara pandang metodologis (manhaj) kedua ulama dalam menilai derajat riwayat-riwayat khusus zakat perhiasan serta penerapannya terhadap keumuman dalil zakat emas.
Syaikh Bin Baz memfatwakan bahwa perhiasan emas dan perak yang disimpan maupun yang dipakai secara rutin oleh wanita tetap wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahun, apabila nilainya telah mencapai nisab (85 gram emas) dan berlalu masa satu tahun (haul). Beliau mendasarkan pandangannya pada keumuman ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis umum mengenai ancaman bagi pemilik emas yang tidak menunaikan zakat, serta menguatkan riwayat-riwayat khusus tentang zakat perhiasan. Dalam Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah (Jilid 14, hlm. 125), Syaikh Bin Baz menjelaskan:
ุงูุตَّุญِْูุญُ ู ِْู ََِْูููู ุงْูุนَُูู َุงุกِ ุฃََّู ุงูุฒََّูุงุฉَ ุชَุฌِุจُ ِูู ุงْูุญُِِّูู ู َِู ุงูุฐََّูุจِ َูุงِْููุถَّุฉِ ุฅِุฐَุง ุจََูุบَุชِ ุงِّููุตَุงุจَ َูุญَุงَู ุนَََْูููุง ุงْูุญَُْูู، َูุฅِْู َูุงَูุชْ ِููุงِุณْุชِุนْู َุงِู؛ ِูุนُู ُْูู ِ ุงูุฃَุฏَِّูุฉِ ุงูุฏَّุงَّูุฉِ ุนََูู ُูุฌُْูุจِ ุงูุฒََّูุงุฉِ ِูู ุงูุฐََّูุจِ َูุงِْููุถَّุฉِ
"Pendapat yang benar dari dua pendapat ulama adalah bahwa zakat wajib dikeluarkan pada perhiasan emas dan perak apabila telah mencapai nisab dan berlalu satu tahun, meskipun perhiasan tersebut dipergunakan untuk perhiasan sehari-hari; hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya zakat pada emas dan perak..."
Di antara dalil khusus dari Sunnah yang dijadikan pegangan utama oleh Syaikh Bin Baz adalah riwayat dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash RA (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i):
ุฃََّู ุงู ْุฑَุฃَุฉً ุฃَุชَุชِ ุงَّููุจَِّู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ َูู َุนََูุง ุงุจَْูุฉٌ ََููุง َِููู َูุฏِ ุงุจَْูุชَِูุง ู َุณََูุชَุงِู ุบَِْููุธَุชَุงِู ู ِْู ุฐََูุจٍ، ََููุงَู ََููุง: ุฃَุชُุนْุทَِْูู ุฒََูุงุฉَ َูุฐَุง؟ َูุงَูุชْ: ูุงَ. َูุงَู: ุฃََูุณُุฑُِّู ุฃَْู ُูุณَِّูุฑَِู ุงُููู ุจِِูู َุง َْููู َ ุงَِْูููุงู َุฉِ ุณَِูุงุฑَِْูู ู ِْู َูุงุฑٍ؟
"Bahwa seorang wanita mendatangi Nabi SAW bersama putrinya, dan di tangan putrinya terdapat dua buah gelang emas yang tebal. Beliau bertanya: 'Apakah engkau menunaikan zakat ini?' Wanita itu menjawab: 'Tidak.' Beliau bersabda: 'Apakah engkau senang jika Allah memakaikan kepadamu pada hari kiamat dua gelang dari api neraka karena keduanya?'"
Pendekatan Syaikh Al-Albani dalam persoalan zakat perhiasan berangkat dari prinsip maddah haditsiyyah (penelitian riwayat secara langsung). Beliau meyakini kewajiban zakat perhiasan secara umum, namun menolak klaim kebebasan zakat perhiasan yang dianut oleh jumhur ulama mazhab. Beliau merumuskan batasan dan perincian hukum berdasarkan penilaian kritis terhadap keabsahan sanad dan tekstualitas dalil.
Dalam metodologi Syaikh Al-Albani, status kepemilikan dan bentuk perhiasan sangat memengaruhi konstruksi hukumnya. Sejalan dengan fatwa beliau yang mengharamkan emas melingkar (adzh-dzahab al-muhallaq) seperti gelang, cincin, dan kalung utuh bagi wanita, posisi hukum perhiasan tersebut berada dalam kategori barang terlarang (muharram). Dalam kaidah Fikih dan Usul, harta yang diperoleh atau dibentuk dari hal yang haram tidak gugur hak zakatnya, melainkan wajib ditindaki secara hukum atau dikeluarkan zakatnya sebagai bentuk pembersihan dosa barang simpanan (kanz). Syaikh Al-Albani menegaskan posisi perhiasan terlarang ini dalam kitab beliau Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthahharah (hlm. 234):
َูุฅِุฐَุง ุนَุฑَْูุชَ َูุฐَุง؛ ุชَุจَََّูู ََูู ุฃََّู ุงูุนَูุงََูุฉَ ุจََْูู ุฃุญَุงุฏِْูุซِ ุชَุญْุฑِْูู ِ ุงูุฐََّูุจِ ุงْูู ُุญََِّูู َูุฃَุญَุงุฏِْูุซِ ุฅِْูุฌَุงุจِ ุงูุฒََّูุงุฉِ ِِْููู ุฃَู ْุฑٌ ุธَุงِูุฑٌ، َُُّููู ุฐََูุจٍ َูุงَู َْููุฒًุง ุฃَْู ِูู ุญُْูู ِ ุงَْูููุฒِ - َูุงْูู ُุญََِّูู - َูุฌَุจَุชْ ِِْููู ุงูุฒََّูุงุฉُ
"Apabila engkau telah memahami hal ini, maka menjadi jelas bagimu bahwa hubungan antara hadis-hadis yang mengharamkan emas melingkar dengan hadis-hadis yang mewajibkan zakat padanya adalah perkara yang terang. Setiap emas yang berstatus simpanan (kanz) atau berada dalam hukum simpanan—seperti emas melingkar—maka wajib dikeluarkan zakat padanya."
Mayoritas ulama dari Mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali membebaskan perhiasan pakai yang mubah dari zakat berdasarkan riwayat popular: "Tidak ada zakat pada perhiasan". Syaikh Al-Albani melakukan takhrij mendalam terhadap riwayat ini dan menyimpulkan bahwa riwayat tersebut batil secara marfu' (tidak bersambung ke Nabi SAW) dan tidak bisa dijadikan hujah untuk membatalkan keumuman dalil kewajiban zakat emas. Syaikh Al-Albani memaparkan penilaian sanadnya dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah wal-Mawdhu'ah (Jilid 1, hlm. 301, Hadis No. 162):
ุญَุฏِْูุซُ: «َْููุณَ ِูู ุงูุญُِِّูู ุฒََูุงุฉٌ»؛ ุจَุงุทٌِู ูุงَ ุฃَุตَْู َُูู ู َุฑُْْููุนًุง... َูุฅَِّูู َุง َูุฑِِْْููู ุงูุนََّูุงู ُ ุจُْู ุญَْูุดَุจٍ ุนَْู ุนَู ْุฑِู ุจِْู ุฏَِْููุงุฑٍ ุนَْู ุฌَุงุจِุฑٍ ู َุฑُْْููุนًุง، َูุงูุนََّูุงู ُ ุซَِูุฉٌ ََُِّูููู ุชََูุฑَّุฏَ ุจِِู ู َุฑُْْููุนًุง، َูุฃَุฎْุทَุฃَ ِِْููู، َูุงูุตََّูุงุจُ ุฃََُّูู ู ٌَُْْูููู ุนََูู ุฌَุงุจِุฑٍ
"Hadis: 'Tidak ada zakat pada perhiasan' adalah batil dan tidak memiliki asal-usul secara marfu'... Riwayat itu hanya diriwayatkan oleh Al-'Awwam bin Hausyab dari 'Amr bin Dinar dari Jabir secara marfu'. Al-'Awwam adalah perawi tsiqah, namun ia menyendiri dalam menyandarkannya secara marfu' dan ia keliru di dalamnya. Yang benar, riwayat tersebut berstatus mauquf (hanya perkataan Sahabat Jabir RA)."
Oleh karena riwayat pembebas zakat itu dinilai cacat (ma'lul), Syaikh Al-Albani mengembalikan hukum perhiasan emas kepada keumuman hadis-hadis sahih yang mewajibkan zakat atas emas yang memenuhi kriteria. Syaikh Al-Albani menggarisbawahi bahwa kewajiban zakat perhiasan emas tidak berlaku secara sporadis pada setiap perhiasan kecil, melainkan terikat ketat oleh syarat nisab murni (20 Dinar / 85 Gram emas murni) serta berlalu masa kepemilikan satu tahun (haul). Perhiasan yang wajib dizakati adalah perhiasan yang secara riil menumpuk sebagai simpanan (kanz) atau perhiasan yang jumlahnya melampaui batas kewajaran pemakaian (at-ta'addi). Syaikh Al-Albani menjelaskan kriteria nisab dan batasan ini dalam Tamam al-Minnah fi al-Ta'liq 'ala Fiqh al-Sunnah (hlm. 369):
َูุงูุญَุงุตُِู ุฃََّู ุงูุฒََّูุงุฉَ ุฅَِّูู َุง ุชَุฌِุจُ ِูู ุงูุญُِِّูู ุฅِุฐَุง ุจََูุบَ ِูุตَุงุจًุง - ََُููู ุนِุดْุฑَُْูู ุฏَِْููุงุฑًุง - َูุญَุงَู ุนََِْููู ุงูุญَُْูู، َูุฅِْู َูุงَู ุฏَُْูู ุงِّููุตَุงุจِ َููุงَ ุฒََูุงุฉَ ِِْููู، ุณََูุงุกٌ َูุงَู ِููุงِุณْุชِุนْู َุงِู ุฃَْู ِููุชِّุฌَุงุฑَุฉِ ุฃَْู َْููุฒًุง، َِِِْููููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ: «َْููุณَ ِْููู َุง ุฏَُْูู ุฎَู ْุณِ ุฃَََููุงٍู ุตَุฏََูุฉٌ»
"Kesimpulannya, bahwasanya zakat itu hanya wajib pada perhiasan apabila telah mencapai nisab—yaitu 20 dinar (85 gram)—serta telah berlalu atasnya satu haul (tahun). Jika kurang dari nisab maka tidak ada zakat padanya, baik perhiasan itu untuk dipakai, untuk diperdagangkan, maupun disimpan; hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW: 'Tidak ada zakat pada perak yang kurang dari 5 uqiyah'."
Dalam karya beliau Ahkam al-Jana'iz dan penjelasannya dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah (Jilid 1, hlm. 301), Syaikh Al-Albani mengkritik hadis pembebasan zakat perhiasan:
ุญَุฏِْูุซُ «َْููุณَ ِูู ุงูุญُِِّูู ุฒََูุงุฉٌ» ุจَุงุทٌِู ูุงَ ุฃَุตَْู َُูู ู َุฑُْْููุนًุง، َูุฅَِّูู َุง َูุฑِِِْููู ุจَุนْุถُُูู ْ ู ًَُْْููููุง، َูุงูุฃَุญَุงุฏِْูุซُ ุงูุตَّุญِْูุญَุฉُ ุงูู َุฑُْْููุนَุฉُ ุชَุฏُُّู ุนََูู ُูุฌُْูุจِ ุงูุฒََّูุงุฉِ ِูู ุงูุญُِِّูู ุฅِุฐَุง ุจََูุบَ ุงِّููุตَุงุจَ
"Hadis 'Tidak ada zakat pada perhiasan' adalah batil dan tidak memiliki asal-usul secara marfu' (tersambung ke Nabi). Riwayat itu hanya diriwayatkan oleh sebagian ulama secara mauquf (berhenti pada sahabat). Sedangkan hadis-hadis shahih yang marfu' menunjukkan wajibnya zakat pada perhiasan apabila mencapai nisab."
Pada akhirnya, perbedaan-perbedaan tersebut menjadi bukti sahih bahwa keilmuan di antara para tokoh ulama besar tidak pernah bersifat tunggal atau monolitik. Kenyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa bahkan di dalam satu manhaj yang sama—seperti Manhaj Salafi—tetap menyimpan keberagaman dan dinamika perbedaan pendapat di antara para ulamanya. Perdebatan antara Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Albani murni berdiri di atas pijakan ijtihad ilmiah, di mana perbedaan kesimpulan hukum justru memperkaya khazanah fikih Islam tanpa sedikit pun merusak ikatan ukhuwah dan rasa saling menghargai di antara mereka. Keteladanan inilah yang semestinya menjadi cermin bagi umat hari ini: bahwa kelapangan dada dalam menerima perbedaan pendapat (adabul ikhtilaf) adalah puncak dari kematangan ilmu dan kebenaran akhlak.
Jika terhadap sesama yang berada dalam satu kelompok saja mereka mampu saling menghargai dan bertoleransi, maka kelapangan dada yang sama mestinya juga diulurkan kepada kelompok lain. Kedepankanlah sikap toleran tanpa perlu mencaci atau merendahkan. Sebab sebagaimana petuah para ulama, akhlak mulia senantiasa berada di atas ilmu
++++++
KH. Wahyudi Sarju Abdurrahimn, Lc, M.M (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung)
No kontak: 081328096425
Wakaf dan sedekah untuk pembangunan Pondok melalui LazisMu:
No rek:
BSI: 7890090073
Sumber Facebook Ustadz : Wahyudi Abdurrahim