Perbedaan Ulama Adalah Rahmat? Ini Penjelasan Dalilnya

Perbedaan Ulama Adalah Rahmat? Ini Penjelasan Dalilnya

๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—•๐—˜๐——๐—”๐—”๐—ก ๐——๐—œ ๐—”๐—ก๐—ง๐—”๐—ฅ๐—” ๐—จ๐—Ÿ๐—”๐— ๐—” 

๐—”๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—› ๐—ฅ๐—”๐—›๐— ๐—”๐—ง

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq 

Ketika disebutkan bahwa ada perbedaan yang (bisa) menjadi rahmat, sebagian pihak kemudian menyanggah dengan mengatakan: “Kalau begitu berarti persatuan itu azab?” 

Cara memahami seperti ini sebenarnya tidak tepat dan lahir dari kekeliruan dalam membedakan antara jenis-jenis perbedaan itu sendiri. Tidak semua perbedaan berada dalam satu kategori yang sama, sebagaimana tidak semua kesepakatan juga memiliki konsekuensi yang sama dalam setiap kondisi.

Persatuan pada dasarnya adalah sesuatu yang terpuji dan diperintahkan dalam syariat, sedangkan perbedaan pada asalnya bukanlah tujuan yang dikehendaki, tetapi bisa terjadi karena adanya perbedaan pemahaman, kemampuan, dan cara berijtihad. Lalu syariat memberikan toleransi dan kelapangan dalam masalah yang diperbedakan, sehingga itu menjadi kemudahan bagi umat.

Demikian juga dengan adanya ungkapan yang dikira hadits: “ikhtilafu ummatฤซ raแธฅmah” (perbedaan umatku adalah rahmat), ini memang telah dijelaskan oleh para ulama bahwa riwayat ini tidak sahih dari Nabi ๏ทบ dan tidak memiliki dasar yang kuat. 

Namun demikian, kelemahan sebuah riwayat tidak otomatis mengharuskan penolakan terhadap makna yang benar yang terkandung di dalamnya, apabila makna tersebut didukung oleh dalil-dalil syariat yang lain dan prinsip-prinsip umum agama. Banyak makna yang benar dalam ucapan-ucapan yang tersebar, meskipun tidak sebagai hadits.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

ู…ุง ูŠุณุฑู†ูŠ ุฃู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุญู…ุฏ ู„ู… ูŠุฎุชู„ููˆุง ู„ุฃู†ู‡ู… ู„ูˆ ู„ู… ูŠุฎุชู„ููˆุง ู„ู… ุชูƒู† ุฑุฎุตุฉ

“Aku tidak suka apabila para sahabat Muhammad ๏ทบ  tidak berbeda pendapat. Sebab, seandainya mereka tidak berbeda pendapat, niscaya tidak akan ada keluasan (keringanan).”[1]

Al imam Malik rahimahullah berkata:

ุฅู†َّ ุงุฎุชู„ุงู ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑุญู…ุฉ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ، ูƒู„ٌّ ูŠุชุจุน ู…ุง ุตุญَّ ุนู†ุฏู‡، ูˆูƒู„ู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู‡ุฏู‰، ูˆูƒู„ٌّ ูŠุฑูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

"Sesungguhnya perbedaan pendapat di kalangan para ulama adalah rahmat dari Allah kepada umat ini. Masing-masing mengikuti apa yang dianggap benar menurutnya, dan semua berada di atas petunjuk, serta masing-masing ingin meraih keridhaan Allah."[2]

Al imam Abu Yazid al Busthami rahimahullah berkata:

ุนู…ู„ุช ููŠ ุงู„ู…ุฌุงู‡ุฏุฉ ุซู„ุงุซูŠู† ุณู†ุฉ، ูู…ุง ูˆุฌุฏุช ุดูŠุฆًุง ุฃุดุฏَّ ู…ู† ุงู„ุนู„ู… ูˆู…ุชุงุจุนุชู‡، ูˆู„ูˆู„ุง ุงุฎุชู„ุงู ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู„َุดู‚ูŠุชُ، ูˆุงุฎุชู„ุงู ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑุญู…ุฉٌ

“Aku telah berjuang dalam mujahadah selama tiga puluh tahun, namun tidak menemukan sesuatu yang lebih berat daripada ilmu dan mengikutinya. Seandainya tidak ada perbedaan para ulama, niscaya aku akan celaka. Perbedaan ulama adalah rahmat.”[3]

Al imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ูˆุฌุนู„ ููŠ ุณู„ู ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ ุฃุฆู…ุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุนู„ุงู…، ู…ู‡ุฏ ุจู‡ู… ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู…، ูˆุฃูˆุถุญ ุจู‡ู… ู…ุดูƒู„ุงุช ุงู„ุฃุญูƒุงู…، ุงุชูุงู‚ู‡ู… ุญุฌุฉ ู‚ุงุทุนุฉ، ูˆุงุฎุชู„ุงูู‡ู… ุฑุญู…ุฉ ูˆุงุณุนุฉ، ุชุญูŠุง ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ุจุฃุฎุจุงุฑู‡ู…، ูˆุชุญุตู„ ุงู„ุณุนุงุฏุฉ ุจุงู‚ุชูุงุก ุขุซุงุฑู‡ู…، ุซู… ุงุฎุชุต ู…ู†ู‡ู… ู†ูุฑุง ุฃุนู„ู‰ ุฃู‚ุฏุงุฑู‡ู… ูˆู…ู†ุงุตุจู‡ู… ูˆุฃุจู‚ู‰ ุฐูƒุฑู‡ู… ูˆู…ุฐุงู‡ุจู‡ู… ูุนู„ู‰ ุฃู‚ูˆุงู„ู‡ู… ู…ุฏุงุฑ ุงู„ุฃุญูƒุงู…، ูˆุจู…ุฐุงู‡ุจู‡ู… ูŠูุชูŠ ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ุฅุณู„ุงู…

"Allah menjadikan pada generasi awal umat ini para imam besar yang menjadi tokoh-tokoh utama, melalui mereka Allah menegakkan kaidah-kaidah Islam dan menjelaskan permasalahan- permasalahan hukum. 

Kesepakatan mereka adalah hujjah yang pasti, sedangkan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas. Dengan berita-berita tentang mereka hati menjadi hidup, dan kebahagiaan diperoleh dengan mengikuti jejak mereka.

Kemudian Allah mengkhususkan di antara mereka sejumlah tokoh yang ditinggikan derajat dan kedudukannya, serta diabadikan sebutan dan madzhab mereka. Maka berdasarkan pendapat merekalah hukum-hukum dijadikan pijakan, dan dengan mazhab merekalah para fuqaha umat Islam berfatwa.”[4]

Al imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ูˆู‚ูˆุนُ ุงู„ุงุฎุชู„ุงู ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ ุฃู…ุฑ ุถุฑูˆุฑูŠ ู„ุง ุจุฏ ู…ู†ู‡؛ ู„ุชูุงูˆุช ุฅุฑุงุฏุชู‡ู… ูˆุฃูู‡ุงู…ู‡ู…، ูˆู‚ูˆู‰ ุฅุฏุฑุงูƒู‡ู…، ูˆู„ูƒู† ุงู„ู…ุฐู…ูˆู… ุจَุบْูŠُ ุจุนุถู‡ู… ุนู„ู‰ ุจุนุถ ูˆุนุฏุงูˆุชู‡

“Terjadinya perbedaan di antara manusia adalah perkara yang niscaya, karena perbedaan kehendak, pemahaman, dan kemampuan akal mereka. Namun yang tercela adalah kedzhaliman dan permusuhan di antara mereka.”

Al imam Munawi rahimahullah berkata:

ุทุงู‚ุฉ ู„ู‡ู… ุจู‡ ุชูˆุณุนุฉ ููŠ ุดุฑูŠุนุชู‡ู… ุงู„ุณู…ุญุฉ ุงู„ุณู‡ู„ุฉ ูุงุฎุชู„ุงู ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ู†ุนู…ุฉ ูƒุจูŠุฑุฉ ูˆูุถูŠู„ุฉ ุฌุณูŠู…ุฉ ุฎุตุช ุจู‡ุง ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ

“Sebagai bentuk kelapangan bagi mereka dalam syariatnya yang mudah dan penuh kemudahan, maka perbedaan mazhab adalah nikmat besar dan keutamaan yang agung yang Allah khususkan bagi umat ini.”[5]

Al imam Suyuthi rahimahullah berkata:

ุงุนู„ู… ุฃู† ุงุฎุชู„ุงู ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ููŠ ุงู„ู€ู…ู„ุฉ ู†ุนู…ุฉ ูƒุจูŠุฑุฉ ูˆูุถูŠู„ุฉ ุนุธูŠู…ุฉ، ูˆู„ู‡ ุณุฑ ู„ุทูŠู ุฃุฏุฑูƒู‡ ุงู„ุนุงู„ู€ู…ูˆู† ูˆุนู…ูŠ ุนู†ู‡ ุงู„ุฌุงู‡ู„ูˆู†

“Ketahuilah, sesungguhnya perbedaan pandangan antar madzhab dalam agama adalah nikmat yang besar dan keutamaan yang agung. Di dalamnya terdapat rahasia yang halus, yang diketahui oleh orang-orang berilmu tapi biasanya tidak oleh orang - orang bodoh.”[6]

Dan jelas yang dimaksud oleh para ulama ketika menyebut adanya rahmat dalam perbedaan adalah jenis perbedaan tertentu, khususnya perbedaan ijtihadi dalam masalah-masalah cabang yang tidak memiliki dalil yang qath‘i.

Dalam konteks ini, keluasan pendapat dari ulama dalam menyimpulkan hukumnya dapat menjadi bentuk kemudahan bagi umat dalam menjalankan perintah agama. 

Simak lengkapnya di https://astofficial.id

 _________

[1] Al Furu’ (11/104)

[2] Hasyiah Ibnu Abidin (1/68)

[3] Thabaqat ash Shufiyah hlm. 70

[4] Al Mughni (1/4)

[5] Faidh al Qadir (1/209)

[6] Jazil al Mawahib hlm. 20 

Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Perbedaan Ulama Adalah Rahmat? Ini Penjelasan Dalilnya". Semoga Allah ๏ทป senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.