WAHABI MENOLAK QOUL ULAMA BERDASAR UCAPAN IMAM MALIK, DAN APAKAH KITA YANG BUKAN MUJTAHID DISURUH MEMAHAMI DALIL LANGSUNG OTODIDAK ??
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sudah lama ya saudara2ku, sahabat Aswaja, saya of dari dunia FB dalam membuat postingan, namun kali ini saya akan menulis terkait diskusi yang sudah dilakukan antara Gus ajir dan pihak Herri pras, yang kemudian juga framing oleh Wahabi tak kalah hebatnya dengan syubhat2 mereka yang sangat ngawur ...
Bisa kita dengar dengan baik, kita simak dengan cukup jelas, apa yg dikatakan oleh ustad Wahabi di video, bahwa mereka menolak Qoul2 ulama yg disajikan oleh Gus ajir dan ustad Faris, mereka ngotot langsung minta dalil dari Al Qur'an dan hadis, ini ngawur jika qoul ulama ditolak dan kita yg bahkan bukan Mujtahid disuruh memahami dalil otodidak versi otak kita sndiri, dan dalam hal itu mereka Wahabi berhujjah dengan ucapan imam Malik
ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم
“Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227).
Padahal Kalimat itu muncul dalam tradisi usul fiqh dan adab ilmiah, maksudnya:
Ulama itu mujtahid dan bisa benar atau salah, maka perkataannya tidak setara wahyu. Yang makrum (tidak boleh) ditolak adalah Nabi ﷺ, karena beliau makshum dan hujjah syar’i.
Jadi konteksnya penegasan maqam Nabi ﷺ sebagai sumber syariat, bukan pembenaran untuk meninggalkan ijma’,
meninggalkan madzhab, merendahkan ulama,mengambil agama tanpa sanad, sehingga langsung memahami Al Qur'an dan hadis secara otodidak sendiri...
Ulama Ahlussunnah itu tidak secara serampangan “ambil atau tinggalkan seenaknya”, tetapi jelas
نأخذ من أقوال العلماء ما وافق الأصول وما عضدته الأدلة وما لم يعارض الإجماع
Ada qaidah, ada sanad, ada metode, ada ijma’, ada qiyas.
bukan free style otodidak saya ini selevel mujtahid loh, jadi gak perlu qoul ulama2... Ini jelas sesat menyesatkan...
Salah seorang guru dari Imam Syafi’i yakni Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran salah seorang Tabi’ut Tabi’in tsiqoh yang sempat bertemu sekitar 87 Tabi’in, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H berkata,
الحديث مضلة إلا الفقهاء
Hadits itu menyesatkan kecuali untuk para fuqaha (ahli fikih)...
Artinya kita yang bukan Mujtahid jangan sok menolak qoul ulama dan langsung terjun minta dalil Al Qur'an dan hadis, Sudah level Mujtahid kah ??
Agama itu perlu sanad, dan sanad kita belajar melewati ulama, tidak bisa kita tolak mentah qoul ulama dan bilang saya tidak perlu pendapat mereka, yg saya perlu adalah dalil Al Qur'an dan hadis, Ahli hadis bukan, ahli fiqih bukan, Mujtahid bukan tp sudah sombong sekali Wahabi ini...
Maka hujjah dari Gus Ajir Ubaidillah sebenarnya sudah sangat kuat kalau kita paham, dimana apa yg beliau jelaskan banyak sekali Qoul2 ulama salaf yg artinya pemahaman Gus ajir dan ustad Faris itu sanadnya jelas dari pada ulama salaf.., tapi justru mereka yg mengaku salaf menolak mentah qoul ulama salaf itu sendiri, ini lah lucunya pemahaman sesat Wahabi ...
Agama itu perlu sanad, tidak mungkin kita paham tanpa ulama, jadi salah besar menolak banyak hujjah dari qoul ulama yg jelas muktabar ..
Sanad Dalam Lisan Al-Arab disebutkan: “Isnad dari sudut bahasa terambil dari fi’il “asnada” (yaitu menyandarkan) seperti dalam perkataan mereka:
”Saya sandarkan perkataan ini kepada si fulan”.
Artinya, menyandarkan sandaran, yang mana ia diangkatkan kepada yang berkata.
Jelas sekali kalau Gus ajir menyandarkan dan memberi paham bahwa ini loh pada ulama, salaf, sahabat pun sudah pernah melakukan... Apa yg kalian larang ternyata justru oleh mayoritas ulama dibolehkan ...
Jadi bisa kita nilai yg sesat adalah memahami langsung ke Al Qur'an dan hadis dan dengan sombongnya menolak Qoul2 ulama...
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa kelak umat Islam jumlahnya banyak namun “bagaikan buih di atas lautan” karena mengikuti orang-orang yang memahami “Al Qur’an dan AS Sunnah” bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dan mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Sejalan dengan hal itu, Rasulullah telah bersabda bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah diambilnya ilmu agama dari al ashaaghir yakni orang-orang yang mendalami ilmu agama secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri.
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Qaasim dan Sa’iid bin Nashr, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Qaasim bin Ashbagh : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil At-Tirmidziy : Telah menceritakan kepada kami Nu’aim : Telah menceritakan kepada kami Ibnul-Mubaarak : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Bakr bin Sawaadah, dari Abu Umayyah Al-Jumahiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat ada tiga macam yang salah satunya adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaaghir (orang-orang kecil / ulama yang baru belajar)”.
Nu’aim berkata : Dikatakan kepada Ibnul-Mubaarak : “Siapakah itu Al-Ashaaghir?”. Ia menjawab : “Orang yang berkata-kata menurut pikiran mereka semata. Adapun seorang yang kecil yang meriwayatkan hadits dari Al-Kabiir (orang yang tua / ulama senior / ulama sebelumnya), maka ia bukan termasuk golongan Ashaaghir itu”.
Jadi apakah Wahabi ini golongan Al ashaaghir yg sangat sombong menolak qoul ulama dan langsung memahami dalil secara otodidak?
Alhamdulillah Ahlu Sunnah Waljamaah yang asli tidak demikian
Wallahu alam
Sumber FB : Aqidah Salaf
