
Sikap Ulama Hanabilah terhadap firqoh Wahhabiyah
Adapun para ulama Hanabilah, maka merekalah termasuk golongan yang paling banyak membantah Wahhabiyah, bahkan mereka adalah yang pertama melakukannya. Hal ini karena firqoh Wahhabiyah mengaku-ngaku bermazhab Hanbali, dan berusaha memasarkan metode mereka kepada masyarakat dengan mengatasnamakan bahwa mereka adalah Hanabilah yang menisbatkan diri kepada Imam Ahmad rahimahullah . Maka apabila ada orang yang mengingkari mereka, mereka berkata: “Ini adalah mazhab Ahmad.”
Siapa ulama Hanabilah pertama yang membantah mereka?
1. Syaikh ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali at-Tamimi an-Najdi
(ayah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab)
Syaikh Ibnu Humaid, Mufti Hanabilah di Makkah al-Mukarramah, berkata dalam biografi beliau — yaitu ayah Muhammad pemilik dakwah yang api fitnahnya telah menyebar ke berbagai penjuru — bahwa antara ayah dan anak itu terdapat perbedaan yang nyata, dan bahwa Muhammad tidak menampakkan dakwahnya kecuali setelah wafatnya sang ayah.
Sebagian orang yang aku temui mengabarkan dari para ulama yang sezaman dengan Syaikh ‘Abdul Wahhab ini, bahwa:
“Sesungguhnya beliau marah kepada putranya Muhammad, karena putranya tidak suka menyibukkan diri dengan fikih sebagaimana para leluhurnya dan orang-orang di negerinya. Beliau telah menilai akan muncul darinya suatu perkara, sehingga beliau sering berkata kepada orang-orang: ‘Kalian akan melihat banyak keburukan dari Muhammad.’”
Maka Allah pun mentakdirkan terjadinya apa yang telah terjadi.
Demikian pula putranya Sulaiman (saudara Muhammad), ia juga menentang dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik.
(Lihat: as-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, jilid 3, hlm. 675–677)
Ibnu Dawud berkata tentang orang yang tertipu ini (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab):
“Pertama kali tampak darinya tanda-tanda bid‘ah, ayahnya mengingkarinya, mendoakannya (dengan keburukan), dan sangat murka kepadanya. Tidak tersembunyi bahwa doa orang tua untuk atau atas anaknya adalah mustajab. Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka-Nya tergantung pada murka keduanya, terlebih lagi jika ayahnya termasuk ulama yang mengamalkan ilmunya dan orang-orang saleh yang arif.”
Dan termasuk juga bahwa pamannya mengingkarinya dengan sangat keras.
(Lihat: ash-Shawa‘iq wa ar-Ru‘ud, hlm. 89–90)
2. Syaikh Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Husain bin ‘Affaliq al-Ahsa’i
(wafat 1164 H)
Beliau membantah Ibnu ‘Abdul Wahhab dengan sebuah kitab berjudul:
“Tahakkum al-Muqallidin bi-Mudda‘i Tajdid ad-Din”
dan menampakkan kelemahan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu mereka jawab.
Penulis as-Suhub al-Wabilah menyebutnya sebagai ulama besar yang sangat cerdas, mahir dalam fikih, ushul, bahasa Arab, dan berbagai disiplin ilmu, serta mengajarkan seluruh cabang ilmu.
(Jilid 3, hlm. 927–928)
3. Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim al-‘Anazi an-Najdi
(Imam Riyadh, wafat 1181 H)
Beliau termasuk musuh paling keras Wahhabiyah, menulis risalah bantahan dan mengirimkannya kepada masyarakat Najd, para ulama, juga ke al-Ahsa dan Bashrah. Ibnu ‘Abdul Wahhab membalasnya dengan banyak celaan dan makian.
4. Syaikh Syamsuddin Abu al-‘Aun Muhammad bin Ahmad as-Saffarini
(wafat 1188 H)
Beliau membantah mereka di banyak tempat, di antaranya dalam risalah “al-Ajwibah an-Najdiyyah”, serta jawabannya terhadap orang yang mengingkari penggunaan kitab-kitab fikih.
5. Syaikh Sulaiman bin ‘Abdul Wahhab
(wafat 1208 H), saudara kandung Muhammad bin ‘Abdul Wahhab
Beliau adalah qadhi di Huraimila’, dan menulis kitab bantahan berjudul:
“Fashl al-Khithab fi ar-Radd ‘ala Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.”
Kitab ini sangat mengganggu Wahhabiyah, hingga mereka berusaha mengingkarinya atau mengklaim bahwa penulisnya telah rujuk.
6. Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Fairuz al-Ahsa’i at-Tamimi
(wafat 1216 H)
Beliau, yang disebut sebagai Syaikh Hanabilah di zamannya, bahkan Syaikhul Islam, mencela Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dengan celaan yang sangat keras dalam muqaddimah kitab ash-Shawa‘iq wa ar-Ru‘ud.
7. Syaikh ‘Abdullah bin Dawud az-Zubairi at-Tamimi
(wafat 1225 H)
Murid Ibnu Fairuz, penulis kitab besar:
“ash-Shawa‘iq wa ar-Ru‘ud fi ar-Radd ‘ala Ibn Su‘ud”,
yang termasuk kitab terpenting dalam masalah ini.
8. ‘Utsman bin Manshur at-Tamimi
(wafat 1282 H), Qadhi Sudair
Beliau menulis beberapa kitab bantahan, menyesatkan Ibnu ‘Abdul Wahhab, dan menggolongkannya sebagai Khawarij.
9. Mufti Makkah, Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah bin Humaid
(wafat 1295 H)
Permusuhannya terhadap mereka sangat terkenal. Dalam kitabnya as-Suhub al-Wabilah, beliau penuh mencela Wahhabiyah dan bahkan menyatakan bahwa mereka bukan Hanabilah sejati, serta menyebut mereka sebagai Khawarij.
10. Syaikh Mustafa bin Ahmad bin Hasan asy-Syatthi
Mufti Hanabilah di Damaskus (wafat 1348 H)
Beliau menulis kitab bantahan berjudul:
“an-Nuqul asy-Syar‘iyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.”
Penutup
Jika kita tidak menerima perkataan seluruh ulama ini tentang Ibnu ‘Abdul Wahhab, lalu menuduh mereka jahil terhadap keadaannya, atau hanya mengikuti isu, atau karena hasad dan iri — sebagaimana jawaban Wahhabiyah biasanya — padahal mereka berasal dari berbagai mazhab, negeri, dan di antara mereka ada yang sezaman dengannya, mengenal langsung keadaannya, bahkan ada yang kerabatnya sendiri, maka dengan logika ini kita harus meruntuhkan seluruh bangunan ilmu jarh wa ta‘dil dan menggugurkan kepercayaan terhadap seluruh penilaian tentang mazhab dan firqah.
Yang mengherankan, Salafiyah Wahhabiyah tidak mempercayai puluhan ulama ini dalam kritik mereka terhadap Ibnu ‘Abdul Wahhab dan para pengikutnya — padahal mereka adalah jamaah besar yang mustahil bersepakat di atas kebohongan — namun mereka justru menerima ucapan Wahhabiyah tentang para ulama tersebut, mencela mereka dan mencemarkan kehormatan mereka. Padahal Wahhabiyah, meskipun banyak, pada hakikatnya adalah satu kelompok dengan satu manhaj, berbeda dengan para penentangnya yang berasal dari berbagai mazhab yang beragam.
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/18Ay2tfDqY/?mibextid=wwXIfr
Teks asli:
موقف علماء الحنابلة من (الوهابية):
أما الحنابلةُ فهم من أكثر الناس رَدّاً على الوهَّابيَّة، وأولُهم؛ لأنَّهم انتحلوا مذهبَهم، وأرادوا أن يروِّجُوا طريقتَهم على الناس من جهة كونهم حنابلةً منتسبينَ إلى الإمام أحمدَ رحمه الله تعالى، فإذا أنكرَ عليهم مُنكِرٌ قالوا: هذا مذهبُ أحمدَ.
من أولُ مَن ردَّ على هؤلاء من علماء الحنابلة؟
أولاً: الشَّيخُ عبدُ الوهَّابِ بنُ سُلَيمانَ بنِ عليٍّ التَّمِيمِيُّ النَّجْدِيُّ (والدُ محمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ). قالَ الشَّيخُ ابنُ حميدٍ مُفْتِي الحنابلةِ بمكَّةَ المُكرَّمةِ في ترجمته - وهوَ والدُ محمَّدٍ صاحبِ الدَّعوةِ التي انتشرَ شَرَارُها في الآفاقِ - لكن بينهما تَبايُنٌ، مع أنَّ محمَّداً لم يَتَظاهَرْ بالدَّعوةِ إلَّا بعدَ موتِ والدهِ. وأخبرني بعضُ مَن لقيْتُه عن بعضِ أهلِ العلمِ عمَّن عاصَرَ الشَّيخَ عبدَ الوهَّابِ هذا: "إنَّه كان غَضْباناً على ولدهِ محمَّدٍ؛ لكونِه لم يَرْضَ أن يشتغلَ بالفقهِ كآسلافِه وأهلِ جِهَتِه، وتَفَرَّسَ فيه أن يَحدثَ منه أمرٌ، فكان يقولُ للناس: ياما تَرَوْنَ من محمَّدٍ من الشَّرِّ". فقَدَّرَ اللهُ أن صارَ ما صارَ.
وكذلكَ ابنُهُ سُلَيمانُ (أخو الشَّيخِ محمَّدٍ) كان مُنافِياً له في دعوتِه، وردَّ عليه ردّاً جيّداً. (يُنظر: "السُّحبُ الوابلةُ على ضَرائحِ الحنابلةِ" للعلاَّمةِ ابنِ حميدٍ، جزءُ 3، ص 675 - 677).
وقالَ العلاَّمةُ ابنُ داوُدَ عن هذا المَغْرورِ (محمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ): "أوَّلُ ما تَبَيَّنَ منه مبادئُ الابتداعِ، أنكرَ عليه والدهُ، ودعا عليه، وغَضِبَ غَضَباً شديداً. ولا يَخفى أنَّ دعاءَ الوالِدِ لولدِه أو على ولدِه مَقبولٌ، وإنَّ رِضَا الرَّبِّ في رِضَا الوالِدَيْنِ وسَخَطُه في سَخَطِهما، سِيَّما ووالدُه منَ العلماءِ العاملينَ والصَّلَحاءِ العارفينَ". ومنها: "إنَّ عمَّه أنكرَ عليه إنكاراً شديداً". (يُنظرُ كتابُ "الصَّواعقُ والرُّعودُ"، ص 89 - 90).
ثانياً: العلاَّمةُ الشَّيخُ مُحَمَّدُ بنُ عبدِ الرَّحْمَنِ بنِ حُسَيْنِ بنِ عَفَّالِقَ الأَحْسَائِيُّ (تُوُفِّيَ سَنَةَ 1164 هـ)، ردَّ على ابنِ عبدِ الوهَّابِ بكتابٍ سمَّاهُ: "تَهَكُّمُ المُقَلِّدِينَ بِمُدَّعِي تَجْدِيدِ الدِّينِ"، وأظهَرَ عَجْزَهُمْ لما سألَه بِسُؤالاتٍ فلم يُحِرْ جواباً. وابنُ عَفَّالِقَ هذا ترجمَ له صاحبُ "السُّحبِ الوابلةِ" ونعَتَهُ بالعلاَّمةِ الفَهَّامةِ المُحَرِّرِ، وأنَّه مَهَرَ في الفقهِ والأصولِ والعربيَّةِ وسائرِ الفنونِ، وأنَّه أَقْرَأَ جميعَ الفنونِ. وذَكَرَ عنهُ قولَهُ لبعضِ تلامذَتِه عندَ موتِهِ: "في صَدْرِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ عِلْماً لم أُسْأَلْ عن مسألةٍ منها قَبْلَكَ". (يُنظر: "السُّحبُ الوابلةُ"، جزءُ 3، ص 927 - 928).
ثالثاً: العلاَّمةُ الشَّيخُ سُلَيْمانُ بنُ مُحَمَّدِ بنِ سُحَيْمٍ العَنَزِيُّ النَّجْدِيُّ، إمامُ أهلِ الرِّياضِ (المتوفَّى سَنَةَ 1181 هـ)، كان من أشدِّ خُصومِ الوهَّابيَّةِ، وكَتَبَ رسالةً في النَّقضِ على ابنِ عبدِ الوهَّابِ، أرسلَها إلى عامَّةِ أهلِ نَجْدٍ وعلمائِهم، وإلى الأَحْساءِ والبَصْرَةِ، وردَّ عليه ابنُ عبدِ الوهَّابِ كثيراً وأَقْذَعَ في سَبِّهِ.
رابعاً: العلاَّمةُ شَمْسُ الدِّينِ أَبُو العَوْنِ مُحَمَّدُ بنُ أَحْمَدَ بنِ سَالِمٍ السَّفَّارِينِيُّ (المتوفَّى سَنَةَ 1188 هـ)، ردَّ عليهم في أكثرَ من موضعٍ، منها ما في رسالتِه "الأَجْوِبَةُ النَّجْدِيَّةُ". ومنها قولُه في جوابِ سُؤالٍ رُفِعَ إليه من نَجْدٍ: "ما قَوْلُ عُلَماءِ المُسْلِمِينَ وهَدَاةِ المُرْشِدِينَ في رَجُلٍ تَفَقَّهَ في مَذْهَبِ إمامِه، ثم زَعَمَ بعدَ ذلكَ أنَّ العَمَلَ غيرُ جائزٍ بِكُتُبِ الفِقْهِ؛ لأنَّها مُحْدَثَةٌ، وإنَّما الواجبُ ...". (يُنظر: جوابُ العلاَّمةِ السَّفَّارِينِيِّ على مَن زَعَمَ أنَّ العَمَلَ غيرُ جائزٍ بِكُتُبِ الفِقْهِ لأنَّها مُحْدَثَةٌ، ص 21 - 31).
خامساً: الشَّيخُ سُلَيْمانُ بنُ عَبْدِ الوهَّابِ (المتوفَّى سَنَةَ 1208 هـ)، شَقيقُ مُحَمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ، كان قاضياً لبلَدِه حَرِيمْلاءَ، وقد ألَّفَ كتاباً في الرَّدِّ عليه بعنوان: "فَصْلُ الخِطَابِ في الرَّدِّ على مُحَمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ". وقد آَزَعَجَ الوهَّابِيَّةَ هذا الرَّدُّ كثيراً، وحاوَلوا نَفْيَهُ أو ادِّعاءَ رُجوعِ صاحِبِهِ عنهم.
لقد كَتَبَ الشَّيخُ سُلَيْمانُ بنُ عبدِ الوهَّابِ كتاباً لأهلِ العيبنَةِ في كَشْفِ دَعْوَةِ أَخِيهِ، وأرسلَهُ مع سُلَيْمانَ بنِ خَواطِرَ، فأَمَرَ مُحَمَّدُ بنُ عبدِ الوهَّابِ بِقَتْلِ ابنِ خَواطِرَ، وكَتَبَ رسالةً لأهلِ العَينَةِ يَرُدُّ بِها على أَخِيهِ الشَّيخِ سُلَيْمانَ.
قالَ العلاَّمةُ ابنُ حُمَيْدٍ في ترجمةِ والِدِ مُحَمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ: "وكذلكَ ابنُهُ سُلَيْمانُ أَخُو الشَّيخِ مُحَمَّدٍ كان مُنافِياً لهم في دَعْوَتِهِ، ورَدَّ عليه رَدّاً جَيِّداً بالآياتِ والأَثَرِ؛ لكونِ المَرْدودِ عليه لا يَقْبَلُ سِواهُما، ولا يَلْتَفِتُ إلى كَلامِ عالِمٍ مُتَقَدِّمٍ أو مُتَأَخِّرٍ كائِناً مَن كانَ، غيرَ الشَّيخِ تَقِيِّ الدِّينِ ابنِ تَيْمِيَّةَ وتِلْمِيذِهِ ابنِ القَيِّمِ؛ فإنَّهُ يَرَى كِلَيْهِما نَصّاً لا يَقْبَلُ التَّأْوِيلَ، ويَصُولُ بِهِ على النَّاسِ، وإنْ كانَ كَلامُهُما على غَيْرِ ما يَفْهَمُ. وسَمَّى الشَّيخُ سُلَيْمانَ رَدَّهُ على أَخِيهِ: فَصْلُ الخِطَابِ في الرَّدِّ على مُحَمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ". (يُنظر: "السُّحبُ الوابلةُ"، جُزْءُ 2، ص 677).
سادساً: الإمامُ العلاَّمةُ شَيْخُ الحنابلةِ في زَمَانِهِ بَلْ شَيْخُ الإسْلامِ مُحَمَّدُ بنُ فَيْرُوزَ الأَحْسَائِيُّ التَّمِيمِيُّ (المتوفَّى سَنَةَ 1216 هـ). قالَ ابنُ فَيْرُوزَ في تَقْدِيمَتِهِ لِكِتابِ عبدِ اللهِ بنِ داوُدَ "الصَّواعِقُ والرُّودُ"، ذاكِراً قَرابَتَهُ لابنِ عبدِ الوهَّابِ، زامِناً له بما لا مَزِيدَ عليه: "أَذْكُرُ في هذه الأَوْراقِ شَيْئاً مِن نَشأَةِ الطَّاغِيَةِ المُرْتَابِ، المُحْيِي مِن دَرَسَ مِن أَباطِيلِ مُسَيْلَمَةَ الكَذَّابِ، إذْ هُوَ لِعَدُوِّ اللهِ إبْلِيسَ أَشَدُّ الخَلْقِ شَبَهاً لَهُ في إبْرازِ الباطِلِ في قالَبِ الحَقِّ بِأَعْظَمِ تَلْبِيسٍ. وإِنِّي أَعْلَمُ الناسِ بِهِ إذِ المُخْبِرُ لِي عنهُ أَبِي رَحِمَهُ اللهُ، وهو أَقْرَبُ الناسِ له إذْ هو ابنُ خالَتِهِ وابنُ خالِهِ، وبَلَدُهُما ومَكانُهُما واحِدٌ، وأَبُوهُ مِن أَكابِرِ مَشايِخِ أَبِي في عِلْمِ الفِقْهِ، وأَبِي أَسَنُّ مِنْهُ بِسَبْعِ سِنِينَ". وذَكَرَ لي رَحِمَهُ اللهُ تعالى عنْهُ حينَ سَأَلْتُهُ عنْهُ ويَكْتُبُ رَدّاً عليه، فكانَ مِمَّا قالَ لي عنْهُ: "هذا في عُنْفُوانِ أَمْرِهِ وَقْتَ قِراءَتِنا على أَبِيهِ، يَفِرُّ مِن كُتُبِ الأَحْكامِ أَعْظَمَ فِرارٍ، حتَّى إنَّهُ يَسْتَهْزِئُ بالمُشْتَغِلِينَ على أَبِيهِ، ويقولُ: راحَ ناسَهُ تَحْتَ إبْطِهِمْ (يَعْنِي بِهِ الكِتابَ)، وكانَ مُشْتَغِلاً بِكُتُبِ الحِكايَاتِ وأَحْوالِ الخارِجِينَ مِن أَرْبابِ الفِتَنِ، وكَثِيراً ما يَلْهَجُ بِأَخْبارِ مَنْ تَزْعُمُوا أنَّ النُّبُوَّةَ صِناعَةٌ وحِرْفَةٌ مِنَ الحِرَفِ ...". (يُنظر: "الصَّواعِقُ والرُّعودُ"، ص 27 - 33).
سابعاً: العلاَّمةُ عَبْدُ اللهِ بنُ دَاوُدَ الزُّبَيْرِيُّ التَّمِيمِيُّ (المتوفَّى سَنَةَ 1225 هـ)، ومِن تَلامِذَةِ ابنِ فَيْرُوزَ، له كِتابٌ كبيرٌ في الرَّدِّ عليهم وهو "الصَّواعِقُ والرُّعودُ في الرَّدِّ على ابنِ سعُودٍ"، وهو مِن أَهَمِّ الكُتُبِ في البابِ.
ويَمِيزُ هذا الكِتابُ أنَّ ابنَ دَاوُدَ مِن بَلَدِهِمْ، وتَتَلْمَذَ عليهم، ووَفَدَ على ابنِ عبدِ الوهَّابِ، واطَّلَعَ على أُمورٍ لم يَطَّلِعْ عليها كَثِيرٌ مِمَّنْ رَدَّ عليهم. وقد ذَكَرَ في كِتابِهِ - كما أنَّهُ رَدَّ عليهم - بِكَلامِ ابنِ تَيْمِيَّةَ وتِلْمِيذِهِ ابنِ القَيِّمِ وابنِ مُفْلِحٍ، فَعَرَضَهُمْ بِأَئِمَّةِ الحَنابِلَةِ.
ثامناً: عُثْمَانُ بنُ مَنْصُورٍ التَّمِيمِيُّ (المتوفَّى سَنَةَ 1282 هـ)، قاضِي سُدَيْرٍ، لَهُمْ كُتُبٌ في الرَّدِّ على الوهَّابِيَّةِ، وقد ضَلَّلَ ابنَ عبدِ الوهَّابِ وجَعَلَهُ مِنَ الخَوارِجِ، ومَدَحَ بَعْضَ خُصومِهِمْ. قالَ عبدُ الرَّحْمَنِ بنُ حَسَنٍ: "أَمَّا بَعْدُ فإنَّهُ قدْ وجَدْنا في كُتُبِ عُثْمَانَ بنِ مَنْصُورٍ بِخُطُوطِهِ أُمُوراً تَتَضَمَّنُ الطَّعْنَ على المُسْلِمِينَ وتَضْلِيلَ إمامِهِمْ لِشَيْخِ الإسْلامِ مُحَمَّدِ بنِ عبدِ الوهَّابِ فيما دَعا إلَيْهِ مِنَ التَّوْحِيدِ وإظْهارِ ما يَعْتَقِدُهُ في أَهْلِ هذِهِ الدَّعْوَةِ مِنْ أنَّهُمْ خَوارِجٌ، تَنْزِلُ الأحاديثُ التي ورَدَتْ في الخَوارِجِ عليهم". (يُنظر: "الدُّرَرُ السَّنِيَّةُ"، جزءُ 11، ص 533).
تاسعاً: الشَّيخُ العلاَّمةُ مُفْتِي مَكَّةَ مُحَمَّدُ بنُ عَبْدِ اللهِ بنِ حُمَيْدٍ (المتوفَّى سَنَةَ 1295 هـ)، وعَداوَتُهُ لَهُمْ أَشْهَرُ مِنْ أَنْ تُذْكَرَ، وقد مَلأَ كِتابَهُ في تَراجِمِ الحَنابِلَةِ "السُّحْبُ الوابِلَةُ" ذَمّاً لَهُمْ وتَشْنِيعاً عليهم ومَدْحاً لِخُصومِهِمْ، حتَّى إنَّهُ لَمْ يُتَرْجِمْ لابنِ عبدِ الوهَّابِ وعامَّةِ أَتْباعِهِ في الحَنابِلَةِ، وبَيَّنَ سَبَبَ ذلكَ وهو أنَّهُ لا يَراهُمْ حَنابِلَةً أَصْلاً. قد صَرَّحَ في بَعْضِ التَّراجِمِ بأنَّهُمْ يَنْتَسِبُونَ إلَيْهِ في ظاهِرِ دَعْواهُمْ تَسَتُّراً، وإلَّا فَهُمْ يَدَّعُونَ الاجْتِهادَ ولا يُقَلِّدُونَ إماماً (هذا لَفْظُهُ)، ووَصَفَهُمْ بالخَوارِجِ. (يُنظر: "السُّحْبُ الوابِلَةُ"، جزءُ 2، ص 630، وجُزْءُ 3، ص 973).
عاشراً: الشَّيخُ مُصْطَفَى بنُ أَحْمَدَ بنِ حَسَنٍ الشَّطِّيُّ، مُفْتِي الحَنابِلَةِ بِدِمَشْقَ (المتوفَّى سَنَةَ 1348 هـ)، لَهُ كِتابٌ في الرَّدِّ عليهم وهو "النُّقُولُ الشَّرْعِيَّةُ في الرَّدِّ على الوهَّابِيَّةِ".
خاتمة:
وإذا كُنَّا لَنْ نَقْبَلَ كَلامَ كُلِّ هؤُلاءِ العُلَماءِ في ابنِ عبدِ الوهَّابِ، ونَتَّهِمُهُمْ بالجَهالَةِ بِحالِهِ، أو تَصْدِيقِ الشَّائعاتِ عنْهُ، أو الحَسَدِ أو الغَيْرَةِ – كما هي رُدودُ الوهَّابِيَّةِ غالِباً – معَ اخْتِلافِ مَذاهِبِهِمْ وبَلَدانِهِمْ، ومِنْهُمْ كِبارُ أَصْحابِ المَذاهِبِ الأَرْبَعَةِ، ومِنْهُمْ مَنْ عاصَرَ ابنَ عبدِ الوهَّابِ وخَبِرَ حالَهُ، ووَفَدَ عليه وتَتَلْمَذَ عليه وعلى أَتْباعِهِ، ومِنْهُمْ مَنْ كانَ مِن بَلَدِهِ، ومِنْهُمْ مَنْ كانَ مِن أَقارِبِهِ، فَلْنَهُدِمْ بِناءً على هذا الفَهْمِ عِلْمَ الجَرْحِ والتَّعْدِيلِ، ولْنُسْقِطْ كُلَّ ثِقَةٍ بِما يُذْكَرُ عنِ المَذاهِبِ والفِرَقِ.
والعَجِيبُ أنَّ السَّلَفِيَّةَ الوهَّابِيَّةَ لا يُصَدِّقُونَ هؤُلاءِ العَشَراتِ مِنَ العُلَماءِ في طَعْنِهِمْ في ابنِ عبدِ الوهَّابِ وأَتْباعِهِ، وهُمْ جَمْعٌ يَمْتَنِعُ في العادَةِ تَواطُؤُهُمْ على الكَذِبِ والجَهْلِ بِحالِهِ والخِداعِ. ثُمَّ هُمْ يَقْبَلُونَ كَلامَ الوهَّابِيَّةِ فيهم، ويَذُمُّونَهُمْ ويَسْتَطِيلُونَ في أَعْراضِهِمْ، معَ أنَّ الوهَّابِيَّةَ – وإنْ كَثُرُوا – شَيْءٌ واحِدٌ؛ لأنَّهُمْ نَفْسُ الفِرْقَةِ ويَنْطَلِقُونَ مِن نَفْسِ المَنْطَلَقِ، بِخِلافِ خُصومِهِمِ الذينَ ذَمُّوهُمْ فَهُمْ ذَوُو مَذاهِبَ مُخْتَلِفَةٍ.
الشيخ محمد عبدالحليم المعصراوى
#صوت_الأزهريين
Sumber FB Ustadz : Danang Kuncoro Wicaksono