
MUKMININ DISATUKAN OLEH IMAN, DICERAI BERAIKAN OLEH DALIL
Beriman pada Rabb yang sama. Nabi yang sama. Kitab yang sama. Kiblat yang sama.
Tapi musuhan gegara niat dibaca sirr atau jahr. Musuhan tentang ada tidaknya qunut pada shalat shubuh. Basmalah dibaca jahr atau sirr. Dan ribuan ikhtilaf lainnya.
*^^^^*
Awalnya bertuhan pada Rabb yang sama sebelum dicerai beraikan : dalil cara membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Adanya azali atau nisbi. Apakah Bertahta. Duduk di atas Arsy. Tuhan Punya mata, kaki, telinga atau tangan : seperti yang dipahami kaum mujassimah.
Awalnya Shalat menghadap kiblat yang sama sebelum dipisahkan dalil apakah niat di lafadzkan atau cukup di batin. Apakah saat mengangkat tangan lurus dengan telinga dada atau kepala. Apakah basmalah dibaca sirr atau jahr.
Awalnya shalat shubuh yang sama sebelum dicerai beraikan dalil apakah shalat shubuh pakai qunut atau tidak. Apakah waktu shubuh mengikuti benang merah dan putih atau ngikut kokok ayam.
*^^^^*
Benarkah dalil-dalil telah memisahkan, mencerai beraikan dan membuat sesama mukmin musuhan gegara dalil. Sungguh ironis. Islam yang satu, tuhan yang satu, kitab yang satu, gegara dalil kita musuhan berdebat saling pegang urat leher.
Gegara dalil itu pula sesama mukmin saling menyesatkan, saling membid’ahkan, bahkan saling mengkaferkan dan membatalkan iman.
Jadi apa sebenarnya fungsi dalil itu. Dalil Para sahabat adalah nabi— semua selisih selesai di hadapan Nabi saw. Ketika ada yang ingin tau cara shalat : mereka datang menjumpai nabi, shalat di belakang nabi — selesai tanpa selisih.
*^^^*
Tapi sekarang beda : bagaimana mengetahui cara nabi shalat sementara Nabi saw sudah tiada ? kita lewat berbagai washilah — para imam fiqh mengajarkan berbagai fersi. Para imam ahlu hadits melakukan validasi dan verifikasi. Mentahqiq dan menshortir amalan-amalan yang di duga bukan berasal dari Nabi saw.
Masing-masing imam punya versi dan indikator yang berbeda: sahih menurut imam ahli hadits yang enam atau sembilan : Syihab az Zuhri, Malik bin Anas, Sufyan as Tsauri, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Thurmudzi, Ibnu Majjah, Nasai belum tentu sahih menurut Al Albani. Banyak hadits sahih menurut imam yang enam atau sembilan gugur dan bathil di tangan al Albani.
Shalat versi Imam Syafii Rahimahullah tentu tidak sama dengan cara yang di paparkan dalam kitab Shifat Shalat Nabi — perpecahan umat Islam dalam ihwal yang furuk makin terasa. Kita shalat pada Tuhan Yang Ahad dengan seribu cara - menurut selera yang kita yakini.
*^^
Shalat menjadi tujuan bukan washilah. Sejatinya tidak menyembah Tuhan, tapi menyembah shalat. Menyembah haji. Menyembah al Qur’an atau lainnya yang semisal. Spiritualitas menghilang digantikan struktur dan formalitas ibadah. Itulah formalisme agama. Keras dan memisahkan.
Para sahabat periwayat hadits hanya tau cara Nabi saw sujud, tapi tak tau apa yang dipikirkan Nabi saw saat sujud— tak tau isi hati Nabi saw saat beliau berdiri lama pada shalatnya. … spiritualitas yang hilang di telan struktur dan formalitas.
Sebab Gusti Allah tidak melihat bunyi bibirmu atau gerakan tangan dan kakimu tapi melihat hatimu … ‘.
@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
Direktur Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kyai Hadji Ahmad Dahlan
Sumber FB Ustadz : Nurbani Yusuf