Mengungkap Standar Ganda Bid‘ah Salafi: Audio dan Shalawat Membongkar Fanatisme

Mengungkap Standar Ganda Bid‘ah Salafi: Audio dan Shalawat Membongkar Fanatisme

AUDIO LEBIH JUJUR DARI FANATISME

(Tentang Bid‘ah, Konsistensi, dan Shalawat yang Mendadak Halal)

#Prolog: Ketika Bid‘ah Lebih Ditentukan oleh Mulut Siapa

Ada satu pola menarik dalam polemik bid‘ah hari ini.

Bukan soal apa yang dibaca,

melainkan siapa yang membacanya.

Jika lafaz itu keluar dari mulut Aswaja:

~ bid‘ah, sesat, neraka standby.

Jika lafaz yang sama –bahkan lebih “kreatif”

keluar dari mimbar Salafi–Wahabi:

~ muqaddimah pidato, pembuka ceramah, basa-basi Arab.

Di titik inilah ilmu berhenti,

dan fanatisme mulai mengambil alih mikrofon.

#Pemetaan Tuduhan: Aswaja dalam Daftar Hitam “Bid‘ah”

Dalam pamflet, mimbar, dan kolom komentar,

amaliah Aswaja dipetakan rapi sebagai tersangka tetap:

Tahlilan, Maulidan, Yasinan: karena Nabi tidak menentukan format, waktu, dan teknisnya.

Talqin mayit, doa kolektif, itsa’ul al-tsawab: karena tidak ada contoh berjamaah yang eksplisit.

Shalawat non-ma’tsur (Badar, Nariyah, Munjiyat): karena dianggap “mengarang lafaz ibadah”.

Dzikir jahr, hadrah, istighotsah, haul, tawassul, tabarruk: dituduh khurafat, jalan menuju syirik, atau minimal bid‘ah dhalalah.

Hingga urusan yang lebih ekstrem:

Qunut Subuh, Tarawih 20 rakaat, adzan dua kali Jumat,

mengucap “Sayyidina”, bahkan mencium tangan guru.

Semua disatukan oleh satu rumus sederhana tapi brutal:

“Tidak ada contoh spesifik sama dengan bid‘ah sesat.”

Padahal, dalam metodologi Ahlussunnah, rumus ini cacat sejak lahir.

#Metodologi yang Disapu Bersih

Aswaja tidak membangun agama dengan satu kunci Inggris.

Ia bekerja dengan perangkat lengkap:

Bid‘ah hasanah

Maslahah mursalah

‘Urf shahih

Qiyas

Namun semua ini dianggap tidak ada,

karena tidak muat di poster dakwah hitam-putih.

Ironinya akan terasa pedih ketika kita masuk ke bab berikutnya.

#Dari Fatwa ke Fakta: Audio Tidak Bisa Diajak Husnuzhan

Sahabat @BaniAdam, @Heri Prass

saya tidak menjawab dengan asumsi,

tidak dengan niat yang ditebak-tebak,

dan tidak dengan “katanya”.

Saya bekerja dengan audio.

Karena rekaman lebih jujur daripada fanatisme.

Pertanyaan sederhana:

Apakah shalawat Badar dan Nariyah boleh diamalkan?

Jawaban Ustadz Yazid Jawwas (rekaman resmi):

TIDAK BOLEH. BID‘AH. ISLAM SUDAH SEMPURNA.

Selesai. Tegas. Hitam-putih.

Shalawat non-ma’tsur : bid‘ah.

Sekarang mari kita uji konsistensi.

#Bid‘ah yang Mendadak Fleksibel

Ustadz Fathi Yazid Jawwas,

dalam muqaddimah pidatonya,

membaca shalawat hasil racikan sendiri:

 الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

Bukan hadis.

Bukan lafaz ma’tsur.

Bukan nukilan sahabat.

Tapi anehnya,

ini tidak disebut bid‘ah.

Lebih ironis lagi:

fatwa ayahnya melarang shalawat karangan,

namun karangan ini justru dibaca;

meski secara simbolik,

bahkan tidak laku sampai ke anaknya sendiri.

Bid‘ah untuk umat,

kreativitas untuk keluarga.

#Pola Berulang, Bukan Khilaf Insidental

Ustadz Firanda melakukan hal yang sama:

 أصلي وأسلم على المبعوث رحمة للعالمين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بسنته إلى يوم القيامة

Sekali lagi:

lafaz shalawat,

struktur doa,

tanpa nash khusus.

Lalu kita sampai pada ironi pamungkas:

Jika Aswaja membaca shalawat non-ma’tsur;

bid‘ah

Jika Salafi membaca shalawat non-ma’tsur;

pembuka ceramah, kreativitas.

Lucu?

Tidak.

Ini menyedihkan secara metodologi.

#Dalih Klasik: Ketika Shalawat Disamarkan

Biasanya muncul kalimat pamungkas:

“Itu bukan shalawat, hanya kalimat pembuka yang diarabisasi.”

Maaf.

Ilmu tidak mengenal “niat darurat”.

Dalam disiplin ilmiah:

Yang dinilai adalah lafaz,

Bukan klaim pembela.

Jika bentuknya shalawat; dibahas sebagai shalawat.

Jika doa; dibahas sebagai doa.

Jika campuran; dibedah, bukan dibela.

Ilmu tidak bekerja dengan husnuzhan,

tapi dengan teks dan suara.

#Penutup Logis yang Tidak Bisa Dihindari

Saya tidak menyerang pribadi.

Saya menguji redaksi.

Jika sesuai hadis,

tunjukkan hadisnya.

Jika tidak ada,

jangan alergi pada kritik.

Karena masalahnya bukan pada shalawat,

melainkan pada standar ganda.

#Epilog: Bid‘ah yang Takut pada Cermin

Aswaja dituduh bid‘ah karena mengamalkan agama

dengan metodologi ulama.

Sementara sebagian Salafi merasa sunnah

karena melakukan hal yang sama;

tanpa berani menamainya.

Dan di titik ini,

audio telah berbicara lebih jujur

daripada seribu pembelaan.

Salam Jujur Metodologi.

Bukan abal-abal.

#merpenyairjalanan #UAF Ajir Ubaidillah 

Sumber FB :  Maesa Rahman

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Mengungkap Standar Ganda Bid‘ah Salafi: Audio dan Shalawat Membongkar Fanatisme". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit