
Saya melihat ateisme saat ini kebanyakan bukan muncul karena alasan filosofis. Kebanyakan mereka tidak paham filsafat dan tidak mampu berpikir sedalam itu. Kalau dibantah secara filosofis-ontologis, maka nggak nyambung sebab bukan itu intinya.
Sejak dulu hingga sekarang, semua kritik folosofis-ontologis hanya berkutat soal qadimnya alam dan keberadaan kejahatan/penderitaan, hanya bungkus dan redaksinya yang berbeda-beda. Jawaban persoalan basi ini sudah tersedia sejak dulu, hanya perlu dipoles dengan istilah yang lebih "ramah" bagi orang modern sebab mereka tidak paham istilah lama.
Kebanyakan ateisme muncul karena masalah trauma psikologis, mirip dengan kasus feminis yang tidak percaya pada kebaikan laki-laki. Orang ateis modern tidak percaya Tuhan biasanya karena jenuh dan muak melihat tingkah orang sekitarnya yang mengaku bertuhan tetapi bejat atau tidak ramah. Lihat saja grup-grup ateis, isinya kebanyakan hanya hujatan pada tingkah orang beragama, yang secara aturan agama senidiri tidak bisa dibenarkan.
Faktor lain yang juga trauma psikologis adalah keputusasaan dan ketidakmampuan menghadapi beratnya hidup. Banyak orang menjadi ateis hanya karena merasa hidupnya tak tertolong dan doanya percuma. Dia tidak percaya Tuhan sebab ketika Tuhan dipanggil tetap saja tidak datang seperti datangnya Batman ketika Komisaris James Gordon menyalakan Bat-Signal.
Sebab itu, pendekatan akhlaq dan tasawuf yang menyentuh sisi perasaan menemukan peran strategisnya. Sejak dulu, suatu agama bertambah jumlah pengikutnya ketika pengikut yang ada mampu menjadi role model dalam kehidupan. Tapi menjadi role model ini berat sebab beragama tidak serta merta menjadikan seseorang menjadi orang suci sehingga sisi gelap dan kekurangan manusiawi tetap mudah dijadikan alasan penolakan.
Namun demikian, bagi kebanyakan kasus, pendekatan personal yang menyentuh tetap jadi solusi bagi kebanyakan kasus ateisme. Faktor ketenangan jiwa, kepribadian yang kuat dan managemen hati menjadi kelebihan agama yang sulit dimiliki ateis sebab ateisme menempatkan manusia hanya sebagai organisme pada umumnya yang kebetulan hidup. Nilai-nilai kebaikan hanya berlaku apabila manusia ditempatkan sebagai sosok intelek yang mampu melihat makna dan tujuan eksistensi, bukan sekedar tulang dibungkus daging yang hidup sementara lalu lenyap.
Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad