Penyempurnaan Sunnah Puasa dan I’tikaf di Bulan Ramadhan

​Menggapai Kesempurnaan Ramadhan: Memurnikan Sunnah Puasa dan I'tikaf dari Bid'ah

​Menggapai Kesempurnaan Ramadhan: Memurnikan Sunnah Puasa dan I'tikaf dari Bid'ah

​Bulan Ramadhan adalah musim semi bagi orang-orang beriman, waktu di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci, dan setiap amal kebaikan dilipatgandakan. Ibadah puasa, sahur, berbuka, dan I’tikaf merupakan amalan utama di bulan ini yang memiliki tuntunan khusus dari Nabi Muhammad ﷺ. Namun, tidak jarang kita dapati praktik-praktik yang mengada-ada atau bid’ah yang justru mengotori kemurnian ibadah.

​Dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini, kaidah mendasar yang harus kita pegang adalah mengikuti sunnah dan meninggalkan setiap perkara baru dalam agama. Tujuan kita adalah ibadah yang diterima, bukan sekadar tradisi yang memuaskan perasaan.

​Sunnah-Sunnah Seputar Puasa (Sahur dan Berbuka)

​Terdapat amalan-amalan sunnah yang sangat ditekankan di bulan Ramadhan yang terkait langsung dengan ibadah puasa:

  1. Mengakhirkan Sahur: Sunnah yang utama adalah mengakhirkan makan sahur, yaitu mendekati waktu Subuh. Nabi ﷺ bersabda, "Senantiasa umatku dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa." Batas waktu yang disarankan adalah sekitar 15-20 menit sebelum adzan Subuh berkumandang, yang memberikan waktu untuk bersiap dan shalat. Sahur sendiri adalah berkah, dan dengan mengakhirinya, kita mendapatkan keberkahan waktu dan kekuatan fisik.
  2. Menyegerakan Berbuka: Wajib bagi seorang Muslim menyegerakan berbuka puasa setelah yakin matahari benar-benar terbenam, ditandai dengan berkumandangnya adzan Maghrib. Rasulullah ﷺ bersabda, "Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." Menunda berbuka puasa tanpa alasan yang syar'i adalah menyalahi sunnah.
  3. Berbuka dengan Kurma atau Air: Disunnahkan berbuka dengan ruthob (kurma basah), jika tidak ada maka tamar (kurma kering), dan jika tidak ada, cukup dengan air putih. Nabi ﷺ tidaklah berangkat shalat Maghrib melainkan setelah beliau berbuka puasa dengan beberapa butir kurma atau tegukan air.
  4. Memperbanyak Doa Ketika Berbuka: Waktu menjelang dan sesaat setelah berbuka adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Nabi ﷺ bersabda bahwa ada tiga golongan yang doanya tidak tertolak, salah satunya adalah orang yang berpuasa ketika ia berbuka. Doa yang dicontohkan beliau adalah "Dzahabazh Zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah."

​Bid’ah dan Kesalahan Umum Seputar Puasa

​Banyak praktik yang beredar di masyarakat yang sejatinya tidak memiliki dasar syar'i:

  1. Pelafalan Niat Secara Keras (Nawaitu Shouma Ghadin): Niat puasa Ramadhan cukup dilakukan di dalam hati pada malam hari sebelum fajar terbit. Melafazkan niat puasa dengan lisan secara rutin, apalagi dengan lafazh-lafazh yang panjang, adalah bid’ah. Niat adalah amalan hati dan bukan amalan lisan.
  2. Menetapkan Waktu Imsak: Menetapkan imsak (berhenti makan dan minum) sekitar 10 menit sebelum waktu Subuh tiba adalah kebiasaan yang tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, "Dan makan dan minumlah kalian hingga tampak, bagi kalian, benang putih terhadap benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." Pembatal puasa baru dimulai sejak terbitnya fajar (masuk waktu Subuh). Imsak hanya menambah kesulitan dan menyalahi sunnah mengakhirkan sahur.
  3. Membangunkan Sahur dengan Pengeras Suara: Menggunakan mikrofon masjid atau kentongan untuk membangunkan orang sahur secara berlebihan adalah praktik yang tidak pernah dilakukan di masa Nabi ﷺ. Selain tidak ada tuntunan, hal ini dapat mengganggu kenyamanan orang lain yang sedang tidur.
  4. Mendahului Ramadhan dengan Puasa Yaumusy Syak: Dilarang mendahului puasa Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya (dikenal sebagai Yaumusy Syak atau hari yang meragukan), kecuali bagi yang memiliki kebiasaan puasa sunnah di hari tersebut.
  5. Mandi Besar/Keramasan Menyambut Ramadhan (Padusan): Mengkhususkan mandi besar atau ritual tertentu di hari-hari menjelang Ramadhan sebagai syarat menyambutnya adalah bid’ah yang tidak memiliki dalil dari Nabi ﷺ.

​Sunnah-Sunnah dan Adab I’tikaf di Bulan Ramadhan

​I’tikaf (berdiam diri di masjid dengan niat beribadah) adalah sunnah, dan yang paling utama adalah di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar.

  1. Waktu Utama I’tikaf: Nabi ﷺ senantiasa ber-i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, bahkan pada tahun wafatnya beliau ber-i’tikaf selama dua puluh hari. Ini menunjukkan pentingnya amalan ini.
  2. Tujuan I’tikaf: Tujuan utama i’tikaf adalah memutus diri dari kesibukan duniawi untuk sepenuhnya fokus beribadah, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan merenung, demi meraih Lailatul Qadar.
  3. Tempat I’tikaf: I’tikaf harus dilakukan di masjid. Ulama berbeda pendapat mengenai jenis masjid, namun disepakati sah di masjid yang digunakan untuk Shalat Jumat.

​Hal-Hal yang Membatalkan dan Adab I’tikaf

  • Pembatal I’tikaf: I’tikaf batal jika seseorang keluar dari masjid tanpa adanya kebutuhan yang mendesak (hajat), melakukan hubungan suami istri, atau berniat keluar dan tidak kembali. Kebutuhan mendesak yang diperbolehkan adalah buang air, mengambil makanan, atau hal lain yang tidak dapat dilakukan di dalam masjid.
  • Sunnah Selama I’tikaf: Selama i’tikaf, disunnahkan untuk tetap dalam kesibukan ibadah. Diperbolehkan menyisir rambut, memotong kuku, dan keluar sebentar untuk keperluan darurat, bahkan istri boleh mengunjungi mu’takif (orang yang beri’tikaf) di masjid.

​Bid’ah dan Kesalahan Seputar I’tikaf

  1. Menjadikan I’tikaf Sebagai Ajang Silaturahmi/Ngobrol: Tujuan i’tikaf adalah penyendirian dalam ibadah. Mengubahnya menjadi ajang kumpul-kumpul, mengobrol, dan membahas urusan duniawi adalah tindakan yang dapat mengurangi bahkan merusak nilai ibadah i’tikaf itu sendiri.
  2. Mengkhususkan I’tikaf di Selain Masjid: I’tikaf tidak sah jika dilakukan di musholla atau surau yang tidak memenuhi syarat masjid syar'i (tempat yang didirikan untuk shalat lima waktu dan Shalat Jumat).
  3. Melakukan I’tikaf Tanpa Niat yang Jelas: Meskipun niat di hati, harus dipastikan bahwa i’tikaf dilakukan dengan niat ibadah kepada Allah, bukan sekadar tidur atau menghindari pekerjaan rumah.

​Dengan memahami sunnah-sunnah dan menghindari bid’ah, kita dapat menjalankan ibadah puasa dan i’tikaf di bulan Ramadhan dengan cara yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang dicontohkan oleh Nabi-Nya yang mulia, sehingga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi Ramadhan yang murni dan sempurna.

Fikih Ibadah (Puasa dan I’tikaf di Bulan Ramadhan)

Sunnah Puasa (Sahur, Berbuka), Bid'ah Puasa (Melafazkan Niat, Imsak, Padusan), Sunnah I’tikaf (Waktu dan Tujuan), Adab dan Pembatal I’tikaf, Bid'ah I’tikaf.

Artikel Sumber :

  1. ​Apa Saja 12 Amalan Sunah di Bulan Ramadhan dan Dalilnya?
  2. ​Apa Itu I'tikaf di Bulan Ramadhan? Ini Pengertian, Amalan, dan Keutamaannya
  3. ​Macam-Macam Bid'ah di Bulan Ramadhan
  4. ​14 Amalan yang Keliru di Bulan Ramadhan
  5. ​Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan
  6. ​Bid'ah-Bid'ah di Bulan Ramadhan dan Kesalahan Sebagian Orang Dalam Puasa
  7. ​Hadits Shahih Tentang I'tikaf Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
  8. ​Fiqih Ringkas I'tikaf (1)
  9. ​7 Kesalahan Umum yang Harus Dihindari Selama Ramadan
  10. ​Bid'ah-bid'ah di Bulan Ramadhan
  11. ​Beberapa Kesalahan dalam Pelaksanaan Puasa Ramadhan

​Sumber : Kajian Ulama (Sunnah)


© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Penyempurnaan Sunnah Puasa dan I’tikaf di Bulan Ramadhan". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit