
Asal Usul, Sanad Keilmuan, dan Kekuatan Mayoritas (Jumhur): Mengapa Ahlussunnah wal Jama'ah Menjadi Jalan Tengah Umat Islam 🌐
Identitas Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) bukan hanya sebuah label, melainkan manifestasi dari metodologi keagamaan yang mengakar kuat pada sumber utama Islam, diwariskan melalui sanad keilmuan, dan didukung oleh kekuatan mayoritas umat dari generasi ke generasi. Memahami Asal Usul Istilah Ahlussunnah Wal Jamaah adalah kunci untuk memahami mengapa manhaj ini selalu menjadi Jalan Tengah (Wasathiyyah) dan mengapa ia memiliki Kredibilitas Singkatan Aswaja yang tak tertandingi dalam sejarah Islam.
Artikel ini akan membedah tiga aspek fundamental Aswaja: asal-usul istilah, kredibilitas keilmuan dan tokoh sentralnya, serta peran mayoritas sebagai ciri pembeda.
Asal Usul Istilah dan Peran Mayoritas (Al-Jama'ah)
Secara bahasa, Ahlus Sunnah berarti pengikut tradisi Nabi Muhammad ﷺ. Sementara itu, Al-Jama'ah merujuk pada tiga hal yang saling berkaitan:
- Persatuan dan Kumpulan Sahabat: Al-Jama'ah merujuk pada apa yang disepakati dan dijalani oleh para sahabat Nabi, terutama Khulafaur Rasyidin.
- Mayoritas Umat (As-Sawadul Adzom): Merujuk pada kelompok terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Aswaja berlandaskan pada keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak akan membiarkan seluruh umat Nabi Muhammad ﷺ berkumpul dalam kesesatan. Prinsip ini sesuai dengan hadits tentang As-Sawadul Adzom Menurut Hadits dan Jumhur Ulama.
- Para Imam Mujtahid: Al-Jama'ah merujuk pada para ulama mujtahid dalam fikih dan akidah, yang diikuti oleh umat Islam.
Oleh karena itu, Mayoritas adalah Ciri Khas Ahlusunah Wal Jamaah adalah sebuah prinsip keagamaan, bukan sekadar statistik. Prinsip ini menegaskan pentingnya Ikuti Pendapat Jumhur (mayoritas ulama terpercaya) sebagai jalan keselamatan akidah, fikih, dan akhlak. Aswaja percaya, karena Ahlusunnah Wal Jama'ah adalah Mayoritas umat Islam di dunia, maka ia adalah representasi dari jalan yang benar dan selamat.
Tiga Kelompok Representasi Akidah dan Identitas Keilmuan
Meskipun istilah Ahlusunnah Bukan Firkah (bukan sekte baru), dalam sejarah akidah, ia diwakili oleh tiga pilar keilmuan yang kokoh, yang menjadi Identitas Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang diakui. Ketiganya adalah Tiga Kelompok Representasi Ahlussunnah wal Jama'ah yang secara fundamental sepakat dalam prinsip Tanzih dan keyakinan pokok:
- Asy'ariyah: Didirikan oleh Imam Abul Hasan Al-Asy'ari.
- Maturidiyah: Didirikan oleh Imam Abu Mansur Al-Maturidi.
- Atsariyah (Salafiyyah Hakikiyah): Akidah ulama hadits (seperti Imam Ahmad bin Hanbal) yang mengedepankan Tafwidh.
Kredibilitas Sanad dan Ulama Sentral
Kekuatan Aswaja terletak pada sanad (rantai transmisi keilmuan) yang sambung-menyambung hingga Rasulullah ﷺ. Kredibilitas ini dapat dilihat dari daftar Tokoh-Tokoh Besar Ulama Umat Islam yang secara terang-terangan menganut salah satu dari tiga mazhab ini.
Para ulama mu'tabar (terpercaya) yang karyanya menjadi rujukan utama umat adalah penganut akidah ini. Misalnya, Akidah Imam Nawawi adalah Asy'ariyah Tulen, demikian pula ulama-ulama besar lainnya seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Al-Ghazali. Amanah Ilmiah Aswaja terlihat dalam komitmen mereka untuk merujuk pada sanad.
Aswaja sangat menekankan bahwa Dari Siapa Kita Mengambil Ilmu Agama? adalah hal yang krusial. Ilmu harus diambil dari guru yang memiliki sanad, bukan sekadar interpretasi mandiri terhadap teks. Ini menjaga ilmu dari distorsi dan kekeliruan fatal. Penting juga membedakan antara Atsariyah sejati (ulama Hanbali tulen yang menjaga Tanzih) dengan klaim kelompok kontemporer, karena akidah Atsariyah sejati telah Diperebutkan oleh Ulama Hanbali Tulen dan Salafi Wahabi.
Manhaj Aswaja sebagai Jalan Tengah
Aswaja dikenal sebagai Ahlussunnah Berada di Jalan Tengah (Wasathiyyah). Sifat ini tidak hanya dalam akidah, tetapi juga dalam fikih dan etika.
Posisi Tengah dalam Akidah
Dalam akidah, Aswaja mengambil posisi netral antara ekstremitas. Jika Pencetus Ilmu Kalam Ahlussunnah (Imam Al-Asy'ari) berhasil membela nash (teks) menggunakan akal, maka secara umum manhaj Aswaja berdiri di antara dua kutub ekstrem:
- Ekstrem Kiri (Mu'tazilah): Mereka mendominasi akal, cenderung menafikan sifat-sifat Allah (Ta'thil), dan menolak mutasyabihat.
- Ekstrem Kanan (Mujassimah/Salafi Literal): Mereka memaknai nash secara literal tanpa kaidah, yang berisiko pada penyerupaan (Tasybih).
Posisi Tengah Aswaja adalah menggunakan akal untuk membela nash dan menetapkan sifat Allah dengan kaidah Tanzih (mensucikan) dari segala kekurangan.
Kriteria Mengikuti Ulama
Manhaj Aswaja membantu umat menentukan Kriteria Ulama Yang Diikuti adalah mereka yang menjaga tiga pilar keilmuan:
- Akidah: Asy'ariyah/Maturidiyah/Atsariyah Hakiki (yang menjaga Tanzih).
- Fikih: Salah satu dari Empat Mazhab.
- Tasawuf/Akhlak: Aliran Junaid Al-Baghdadi dan ulama mu'tabar.
Dengan kerangka ini, Aswaja memberikan jawaban konkret terhadap pertanyaan Dari Siapa Kita Mengambil Ilmu Agama?, yaitu dari guru yang memiliki sanad dan mengikuti Jumhur (mayoritas) ulama yang terpercaya. Inilah alasan mendasar mengapa Aswaja, dengan Kredibilitas Singkatan Aswaja yang kuat, menjadi manhaj yang paling aman, paling ilmiah, dan paling sesuai dengan wasiat Rasulullah ﷺ untuk mengikuti As-Sawadul Adzom.
Sumber : Kajian Ulama
Sebagai rujukan utama kajian Ahlussunnah wal Jama’ah, silakan baca:
Pilar Utama Kajian Ulama Aswaja - Landasan Ilmu Ahlussunnah Wal Jamaah