Makna Hijrah dalam Kehidupan Muslim Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah: Perubahan Menuju Ketaatan yang Berkelanjutan

Makna Hijrah dalam Kehidupan Muslim Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah: Perubahan Menuju Ketaatan yang Berkelanjutan

Hijrah merupakan salah satu konsep penting dalam Islam yang tidak terbatas pada peristiwa sejarah perpindahan Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah, hijrah memiliki makna yang luas dan relevan sepanjang zaman, yaitu proses meninggalkan keburukan menuju kebaikan serta berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah ﷻ.

Hijrah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Hijrah memiliki kedudukan yang mulia dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dan Sunnah banyak menyinggung keutamaan hijrah sebagai bukti keimanan dan kesungguhan seorang hamba. Namun, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa hijrah tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai perubahan penampilan atau simbol lahiriah.

Hijrah yang hakiki adalah perubahan hati, niat, dan amal. Perpindahan fisik tanpa perubahan akhlak dan ketaatan tidak mencerminkan hakikat hijrah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Makna Hijrah Menurut Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah memandang hijrah sebagai proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Hijrah bukanlah tindakan instan, melainkan perjalanan panjang dalam memperbaiki diri dengan bimbingan ilmu dan adab.

Hijrah harus dibangun di atas pemahaman agama yang benar agar tidak terjebak pada sikap berlebihan, fanatisme, atau bahkan menyalahkan sesama muslim. Perubahan diri yang benar justru melahirkan sikap rendah hati, lembut, dan penuh kasih sayang.

Hijrah antara Perubahan Lahir dan Batin

Perubahan lahiriah seperti cara berpakaian, gaya hidup, dan kebiasaan sosial merupakan bagian dari hijrah, namun bukan satu-satunya tolok ukur. Ahlussunnah wal Jama’ah menekankan bahwa perubahan batin berupa perbaikan niat, keikhlasan, dan akhlak harus menjadi prioritas utama.

Hijrah yang hanya berhenti pada simbol luar tanpa disertai perubahan akhlak berpotensi melahirkan sikap merasa paling benar dan mudah menghakimi orang lain. Hal ini bertentangan dengan tujuan hijrah itu sendiri.

Hijrah dan Akhlak Sosial Seorang Muslim

Hijrah sejati tercermin dalam hubungan sosial. Seorang muslim yang berhijrah seharusnya semakin santun dalam berbicara, jujur dalam bermuamalah, dan peduli terhadap sesama. Akhlak sosial menjadi bukti nyata keberhasilan hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, hijrah tidak menjauhkan seseorang dari masyarakat, tetapi justru mendorongnya untuk menjadi pribadi yang membawa manfaat dan kedamaian.

Tantangan Hijrah di Era Modern

Era modern menghadirkan tantangan tersendiri bagi kaum muslimin yang ingin berhijrah. Arus informasi yang cepat, media sosial, dan berbagai ideologi asing dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap agama. Tanpa bimbingan ilmu, hijrah bisa disalahpahami dan berujung pada sikap ekstrem.

Oleh karena itu, hijrah harus dibarengi dengan proses belajar kepada ulama yang lurus manhajnya, agar perubahan yang dilakukan tetap berada di atas jalan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Hijrah dengan Ilmu dan Bimbingan Ulama

Para ulama menegaskan bahwa hijrah tanpa ilmu dapat menimbulkan kerusakan. Ilmu berfungsi sebagai cahaya yang membimbing langkah seorang muslim dalam proses hijrah. Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan mana yang wajib, sunnah, dan mana yang sekadar budaya.

Bimbingan ulama juga menjaga agar hijrah tidak berubah menjadi sikap keras, mudah mengkafirkan, atau memecah belah umat. Hijrah yang benar justru memperkuat persatuan dan ukhuwah Islamiyah.

Hijrah sebagai Proses Seumur Hidup

Hijrah bukanlah fase sementara, melainkan proses seumur hidup. Setiap muslim dituntut untuk terus memperbaiki diri, meninggalkan dosa, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah, hijrah tidak pernah berhenti selama manusia masih hidup.

Kesadaran ini menjadikan hijrah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, bukan sebagai identitas sosial yang dibanggakan.

Penutup: Hijrah Menuju Kematangan Iman dan Akhlak

Makna hijrah dalam kehidupan muslim adalah perjalanan menuju kedewasaan iman dan kemuliaan akhlak. Dengan memahami hijrah secara benar, seorang muslim dapat menjalani perubahan hidup yang seimbang, penuh ketenangan, dan tetap berada di atas manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pilar Sosial, Keluarga & Kehidupan Muslim Hijrah, keluarga, tarbiyah, dan kehidupan sosial muslim
Pilar Utama Kajian Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Landasan kajian Islam berbasis manhaj Aswaja
© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Makna Hijrah dalam Kehidupan Muslim Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah: Perubahan Menuju Ketaatan yang Berkelanjutan". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit