Makna Istiwa’ Allah di Atas Arsy Menurut Ulama Salaf

ISTIWA’ ALLAH DI ATAS ARSY

ISTIWA’ ALLAH DI ATAS ARSY

Imam Abu Abdillah, Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah al-Kinani al-Hamawi asy-Syafi’i, Badruddin (Wafat 733 H) rahimahullah berkata : “Jika hal itu telah tetap, maka barangsiapa yang menjadikan makna Istiwa (bersemayam) bagi Allah sesuai dengan apa yang dipahami dari sifat-sifat makhluk, lalu ia berkata: "Dia bersemayam dengan Zat-Nya" atau berkata: "Dia bersemayam secara hakiki", maka sungguh ia telah berbuat bid'ah dengan tambahan (kata) tersebut yang tidak ada ketetapannya dalam Sunnah maupun dari salah seorang imam yang diikuti.

Bahkan sebagian penganut mazhab Hambali generasi belakangan menambahkan (pernyataan) dengan berkata: "Istiwa adalah bersentuhannya Zat (Allah dengan Arsy), dan bahwa Dia berada di atas Arsy-Nya hingga memenuhi Arsy tersebut, serta Zat-Nya pasti memiliki batasan yang hanya Dia yang mengetahuinya." Ada pula yang lain berkata: "Dia bertempat di satu ruang dan tidak di ruang lainnya, dan tempat-Nya adalah keberadaan Zat-Nya di atas Arsy." Ia juga berkata: "Yang lebih menyerupai (kebenaran) adalah bahwa Allah bersentuhan dengan Arsy, dan Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya."

(Tanggapan Ibnu Jama’ah): “Ini merupakan kedustaan besar dari mereka—Maha Suci Allah dari hal tersebut—dan merupakan kebodohan terhadap ilmu bentuk alam semesta. Sebab, persentuhan (mumasah) mengharuskan adanya sifat kebendaan (jismiyyah), dan penyebutan "dua kaki" mengharuskan adanya penyerupaan dengan makhluk (tasybih).

Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal berlepas diri dari hal tersebut. Sesungguhnya riwayat yang dinukil dari beliau adalah bahwa beliau tidak pernah menetapkan arah (jihat) bagi Allah Ta'ala. Beliau senantiasa berkata bahwa Istiwa adalah sifat yang diterima (apa adanya tanpa visualisasi), dan itulah pendapat sebagian ulama Salaf—semoga Allah meridai mereka semua.”( Idhahul Dalil fi Qath'i Hujaji Ahlil Ta'thil, hlm. 107-108)

-selesai penukilan-

CATATAN ; Perlu untuk diketahui, bahwa Imam Ibnu Jama’ah adalah guru dari Imam Adz Dzahabi dan Ibnu Katsir. Di mana keduanya (Adz Dzahabi dan Ibnu Katsir) adalah murid dari Ibnu Taimiyyah.

Poin-Poin Penting dalam nukilan di atas :

•Kritik terhadap Penambahan Kata: Imam Ibnu Jama'ah menganggap penambahan kata "dengan Zat-Nya" (bi dzatihi) atau "secara hakiki" (haqiqatan) pada sifat Istiwa sebagai perkara baru (bid'ah) yang tidak ada dasarnya dari ulama Salaf.

•Penolakan Tajsim: Imam Ibnu Jama'ah menolak keras pendapat yang menyatakan Allah bersentuhan dengan Arsy atau memiliki batasan ruang, karena hal itu mengarah pada sifat kebendaan (jism).

•Pembelaan terhadap Imam Ahmad: Imam Ibnu Jama'ah menegaskan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak berkeyakinan bahwa Allah memiliki arah atau tempat, berbeda dengan klaim sebagian oknum penganut mazhabnya di masa kemudian.

(Abdullah Al Jirani) 

Sumber FB Ustadz Abdullah Al Jirani

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Makna Istiwa’ Allah di Atas Arsy Menurut Ulama Salaf". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit