Imam Syafi’i dan Manhaj Ilmiah Memahami Quran Sunnah

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Mazhab Fiqih Syafi’i: Manhaj Ilmiah dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Imam Syafi’i dan Latar Belakang Mazhab Fiqih Syafi’i Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i merupakan salah satu imam besar dalam tradisi keilmuan Islam yang memiliki pengaruh sangat luas dalam perkembangan fiqih. Beliau lahir di Gaza pada tahun 150 H dan tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang kuat. Sejak kecil, Imam Syafi’i telah menunjukkan kecerdasan luar biasa, menghafal Al-Qur’an dan mendalami bahasa Arab secara mendalam.

Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, Imam Syafi’i dikenal sebagai ulama yang berhasil menyusun metode ilmiah dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Mazhab Syafi’i tidak lahir dari pendapat pribadi semata, tetapi dari proses ijtihad panjang yang dilandasi ilmu, adab, dan ketakwaan.

Perjalanan Keilmuan Imam Syafi’i

Imam Syafi’i berguru kepada banyak ulama besar pada masanya. Di antaranya, beliau menimba ilmu fiqih kepada Imam Malik bin Anas di Madinah dan mendalami pendekatan rasional dari murid-murid Imam Abu Hanifah di Irak. Perjalanan keilmuan ini membentuk Imam Syafi’i sebagai ulama yang mampu menggabungkan kekuatan nash dan pemahaman rasional secara seimbang.

Dalam tradisi Aswaja, keseimbangan antara dalil naqli dan pemahaman aqli merupakan ciri utama ulama mu’tabar. Imam Syafi’i menjadi teladan bagaimana perbedaan pendekatan fiqih dapat dipadukan dalam satu manhaj yang kokoh.

Manhaj Imam Syafi’i dalam Penetapan Hukum

Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Sumber Utama

Mazhab Syafi’i menempatkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama hukum Islam. Imam Syafi’i menegaskan bahwa Sunnah Nabi ﷺ merupakan penjelas Al-Qur’an dan tidak dapat dipisahkan darinya. Pemahaman ini menjadi fondasi penting dalam fiqih Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam kajian Aswaja, Sunnah tidak hanya dipahami sebagai riwayat, tetapi juga sebagai praktik nyata Rasulullah ﷺ yang diwariskan melalui para sahabat dan ulama. Imam Syafi’i menolak pemahaman yang memisahkan Al-Qur’an dari Sunnah dalam penetapan hukum.

Ijma’ dan Qiyas dalam Mazhab Syafi’i

Selain Al-Qur’an dan Sunnah, Imam Syafi’i menggunakan ijma’ dan qiyas sebagai metode ijtihad. Ijma’ dipahami sebagai kesepakatan para ulama mujtahid pada suatu masa, sedangkan qiyas digunakan ketika tidak ditemukan nash yang sharih, dengan tetap menjaga kesesuaian dengan prinsip syariat.

Pendekatan ini menunjukkan kehati-hatian Imam Syafi’i dalam berijtihad. Beliau menolak pendapat yang tidak memiliki dasar keilmuan yang jelas, sehingga mazhab Syafi’i dikenal disiplin dan sistematis dalam metodologi fiqih.

Peran Mazhab Syafi’i dalam Tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah

Mazhab Syafi’i memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara. Dalam tradisi keilmuan Aswaja di Nusantara, mazhab Syafi’i menjadi rujukan utama dalam ibadah dan muamalah karena keluwesan metodologinya serta kedalaman dalil yang digunakan.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memandang mazhab Syafi’i sebagai sarana menjaga kesinambungan ilmu dan adab dalam beragama. Mengikuti mazhab dipahami bukan sebagai fanatisme, melainkan sebagai bentuk ittiba’ kepada ulama mu’tabar.

Adab Bermazhab menurut Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dikenal sangat menjaga adab dalam perbedaan pendapat. Beliau pernah berkata bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap ini menjadi teladan utama dalam etika ikhtilaf Ahlussunnah wal Jama’ah.

Nilai adab inilah yang menjadikan mazhab Syafi’i tidak hanya sebagai sistem hukum, tetapi juga sebagai sarana pembinaan akhlak dan kedewasaan berpikir umat Islam.

Warisan Keilmuan Imam Syafi’i bagi Umat Islam

Karya-karya Imam Syafi’i, seperti Ar-Risalah dan Al-Umm, menjadi rujukan utama dalam ilmu ushul fiqih dan fiqih. Melalui karya-karya ini, beliau meletakkan dasar metodologi ijtihad yang hingga kini dipelajari di pesantren dan lembaga keilmuan Islam.

Dalam manhaj Aswaja, warisan Imam Syafi’i dipahami sebagai amanah keilmuan yang harus dijaga dengan adab, ketelitian, dan tanggung jawab. Mengamalkan mazhab Syafi’i berarti menjaga kesinambungan ilmu dan ketertiban beragama.

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Imam Syafi’i dan Manhaj Ilmiah Memahami Quran Sunnah". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.

Kajian Favorit