
๐๐๐๐๐ฅ๐ก๐ฌ๐ ๐๐๐ก๐๐ฅ๐๐ฆ๐ ๐ฆ๐๐๐๐๐๐จ๐๐๐๐ก
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq
Kisah pembebasan al Quds Yerusalem, oleh pahlawan legendaris Islam, Shalahuddin al Ayyubi rahimahullah bukanlah sekadar babak heroik dalam sejarah kepahlawanan, melainkan ia menjadi penanda dari kebangkitan total umat Islam.
Kemenangan yang diraih pada tahun 1187 M di pertempuran Hittin adalah puncak yang terlihat dari sebuah proses pemulihan spiritual, intelektual, dan sosial yang berlangsung secara sistematis selama hampir satu abad penuh, yang dipimpin oleh generasi ulama-ulama reformis kolektif, bukan oleh satu dua orang saja.
Shalahuddin sebenarnya bukanlah siapa-siapa seandainya generasi yang ada di zamannya tidak pernah ada. Karena Shalahuddin hanya bisa meraih gelarnya sebagai pembebas al Aqsha sebab ia hidup dan berjuang bersama generasi unggul di zamannya.
Dan generasi itu lahir karena dibentuk oleh gagasan-gagasan brilian dan hasil perjuangan tak kenal lelah dari dua generasi sebelumnya, yakni generasi al Imam al Ghazali dan generasi Syaikh Abdul Qadir al Jailani.
๐จ๐บ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ธ๐ถ๐
Sebelum kebangkitan itu terjadi, dunia Islam berada dalam kondisi yang amat memprihatinkan, penuh dengan penyakit internal yang membuat umat rapuh di hadapan musuh-musuhnya. Kekuatan-kekuatan eksternal seperti pasukan Salib hanya mampu menancapkan kuku penjajahannya atas sebagian wilayah kekhalifahan Islam tidak lain karena negara dan masyarakat Muslim sendiri seperti telah lumpuh total akibat perpecahan politik yang akut dan rusaknya integritas moral di segala lapisan.
Pada masa itu sebenarnya kekhalifahan Abbasiyah masih eksis dan diakui keberadaannya, hanya saja pemeritahannya telah kehilangan kekuasaan politik dan militer yang nyata, hanya tersisa sebagai lambang spiritual semata. Khalifah hanya dihadirkan pada acara "gunting pita" dan memberikan doa restu pelantikan diangkatnya seorang sultan atau raja.
Kontrol efektif berada di tangan kerajaan-kerajaan kecil dan faksi-faksi regional yang mereka saling berebut pengaruh. Kondisi ini memicu perpecahan politik yang akut antar wilayah-wilayah Islam yang menguras habis sumber daya negara. Para penguasa lebih fokus pada persaingan internal daripada persatuan menghadapi ancaman dari luar, yang secara langsung menyebabkan kelemahan militer dan runtuhnya kehidupan ekonomi. Hal ini diperparah dengan adanya korupsi dan persaingan kemewahan dunia diantara para penyelenggara negara.
Sedangkan di masyarakat fanatisme madzhab telah merajalela, menguras habis energi para ulama, fuqaha dan cendekiawan dalam perdebatan yang minim manfaat bahkan sia-sia yang justru memecah belah persatuan umat. Ilmu dan amal seperti terpisah jauh. Nilai-nilai spiritualitas terdistorsi, melahirkan praktik keagamaan yang dangkal yang kehilangan kedalaman esensi ajaran Islam yang sebenarnya.
Para ulama banyak terseret dalam perebutan duniawi sehingga mereka luput bahkan takut untuk menjalankan tugas dan fungsi utama mereka di tengah-tengah masyarakat, yakni menegakkan pilar amar ma’ruf nahi munkar.
Kondisi ini mengantarkan kita pada kesimpulan yang menyakitkan: bahwa musuh terberat umat saat itu sebenarnya bukanlah kekuatan pasukan Salib, melainkan kelemahan dan perpecahan yang bersumber dari internal umat Islam sendiri.
๐จ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ธ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป
Proses reformasi kolektif ini dimulai oleh para ulama yang dipelopori oleh al Imam Ghazali (w. 505 H). Beliau mengawali proyeknya dengan menggarap terlebih dahulu sisi paling fundamental yang menjadi sebab semua carut marut umat saat itu, yakni sisi pendidikan dan spiritual. Beliau menyadari bahwa perubahan harus dimulai dari hal yang paling mendasar dari dua hal tersebut, yakni menata kurikulum dan memperbaiki integritas intelektual.
Beliau dan rekan-rekannya secara revolusioner mengakhiri dominasi filsafat dan tasawuf yang terlalu ekstrem hingga melahirkan perilaku beragama semaunya tanpa batas aturan dan juga menentang sikap jumud dalam bermadzhab yang punya efek sebaliknya, yakni membelenggu kebebasan berfikir.
Al imam Ghazali rahimahullah lewat karya monumentalnya Ihya Ulumiddin berusaha mereintegrasikan dua ilmu yang saat itu dipandang seperti selalu bertentangan, yakni ilmu fikih yang dianggap ilmu lahiriah dengan ilmu perbaikan jiwa seperti tasawuf yang dikategorikan ilmu bathiniyah.
Tujuannya dari proyek perbaikan ini adalah untuk melahirkan kembali generasi yang yang bukan hanya cerdas akalnya dan memiliki keahlian dalam fan ilmu yang dimiliki, tetapi juga generasi yang ikhlas hatinya, mulia akhlaqnya dan wara jiwanya sebagai prasyarat fundamental untuk menjadikan mereka agen-agen perubahan dan perbaikan dalam Islam.
Lebih lanjut, beliau menghidupkan kembali kewajiban amar ma'ruf nahi munkar sebagai tanggung jawab komunal bagi ulama untuk berani mengkritik kezaliman di setiap lapisan sosial khususnya yang ada pada para penguasa. Melalui jaringan Madrasah Nizamiyyah, relasi dan murid-muridnya, kerangka pembaharuan ini mulai menyebar luas di kalangan intelektual, dan fungsionaris negara.
๐๐ฒ๐๐ถ๐ป๐ฎ๐บ๐ฏ๐๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ธ ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป
Strategi dan pemikiran generasi al Ghazali ini kemudian diimplementasikan dan disebarluaskan secara massif melalui jaringan spiritual dan pendidikan oleh generasi setelahnya, Syaikh Abdul Qadir al Jailani (w. 561 H). Beliau mengambil teori perbaikan dan mengubahnya menjadi gerakan massa yang terorganisir melalui pusat-pusat dakwah dan madrasah yang tersebar luas.
Keberhasilan generasi ini terletak pada kemampuan mereka untuk melakukan pembentukan karakter secara institusional yang menyeluruh. Jika tadinya baru pada tataran teori, konsep dan pemikiran, di masa ini sudah menyentuh pada tahapan praktek nyata di lapangan.
Pendidikan yang diterapkannya sangatlah intensif, melatih para murid dengan disiplin ilmu yang ketat, dikombinasikan dengan latihan spiritual yang mendalam, yang menghasilkan para pembawa panji yang kokoh dalam akidah, ilmu dan ketrampilan. Jaringan madrasah ini terlibat aktif dalam berbagai proyek nyata perbaikan umat mulai dari perlawanan ideologis terhadap ekstremisme seperti Syiah Batiniah dan sufi sufi yang menyimpang, juga keterlibatan nyata mereka memberikan solusi dan membantu kesulitan ekonomi yang melilit Masyarakat kala itu.
Berkat kerja keras ulama regional dan lokal yang mengadopsi semangat reformasi ini—seperti para ulama dari madrasah al 'Adawiyyah dan As Suhrawardiyyah—gerakan tersebut berhasil menjangkau lapisan masyarakat terendah, dari pedesaan hingga gurun, sehingga pemulihan terjadi secara komunal dan menyeluruh.
๐ฃ๐๐ป๐ฐ๐ฎ๐ธ ๐ฆ๐ถ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ด๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐๐บ๐ฎ๐
Generasi yang dididik di bawah pengaruh dua imam reformis ini akhirnya menghasilkan pemimpin politik yang sesuai dengan tuntutan zaman: Nuruddin Zanki dan kemudian Shalahuddin al Ayyubi. Mereka adalah pemimpin yang mampu memahami bahwa kekuasaan sejati umat bersumber dari ilmu dan integritas spiritual, bukan pada angkatan bersenjata dan kekuatan ekonomi semata.
Dan mereka kemudian mengintegrasikan nilai-nilai luhur ini kedalam system baku dalam mengatur pemerintahan dan masyarakatnya.
Salah satu contohnya Shalahuddin mendirikan Madrasah Shalahiyah di berbagai kota besar Islam, beliau rahimahullah menjadikan pendidikan reformis ini sebagai proyek nasional dan institusi negara. Beliau memastikan bahwa kurikulum yang telah dicanangkan oleh dua generasi sebelumnya menjadi tulang punggung pelatihan prajurit dan juga pejabat negara.
Secara sistematis, para ulama dari generasi reformis ini diangkat untuk menduduki posisi-posisi kunci sebagai hakim, penasihat, dan komandan militer, sehingga mengintegrasikan otoritas spiritual dengan otoritas politik menjadi satu kesatuan yang kuat dan efektif.
Sehingga apa yang kita saksikan dari kemenangan demi kemenangan generasi ini pada hakikatnya adalah kemenangan kolektivitas ulama yang berhasil mengikat umat dalam kekuatan persatuan iman.
Dari sejarah pembebasan al Quds ini kita bisa menyadari bahwa kebangkitan sejati tidak mungkin didapatkan dari pahlawan tunggal yang datang secara tiba-tiba, atau berupa hasil kerja instan beberapa kelompok. Itu semua hanya mungkin terwujud dari upaya pembaharuan yang dilakukan secara kolektif yang melibatkan nyaris semua komponen umat, dalam sebuah mega proyek yang bertahap dan berkesinambungan.
Dan generasi Shalahuddin berhasil meraih tujuannya, karena mereka telah lebih dahulu memenangkan pertempuran melawan kelemahan internal, kebodohan, dan perpecahan di dalam diri umat Islam sebelum melawan musuh dari luar.
Simak dalam kajian special ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ด๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐ฆ๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ต๐๐ฑ๐ฑ๐ถ๐ป :https://astofficial.id/zoom/86
Wallahu a'lam

๐ฆ๐๐ฃ๐๐ฅ๐ง๐ ๐๐ก๐ ๐๐๐ก๐๐ฅ๐๐ฆ๐ ๐ฆ๐๐๐๐๐๐จ๐๐๐๐ก ๐๐๐ก ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐ ๐ค๐จ๐๐ฆ ๐๐๐ฅ๐๐๐จ๐ง ๐๐๐ ๐๐๐๐
(ููุฐุง ุธูุฑ ุฌูู ุตูุงุญ ุงูุฏูู ูููุฐุง ุนุงุฏุช ุงููุฏุณ)
Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Sang penulis menegaskan lewat karyanya bahwa kebangkitan umat tidak dimulai dari istana-istana melainkan dari madrasah-madrasah. Bukan dari angkatan perang tapi dari pendidikan.
Maka sudah pasti pembebasan sejati dimulai dari mengubah apa yang ada dalam diri melalui perbaikan pemikiran, pemurnian nilai-nilai ajaran dan pembangunan kesadaran kolektif hingga membuat umat mampu memikul proyek peradabannya sekali lagi.
Sosok hebat seperti Shalahuddin tidak menciptakan kemenangan sendirian, melainkan kemenangan itu diciptakan oleh satu generasi yang terintegrasi yang terdiri dari para ulama, pendidik, aktivis dan reformis. Dan generasi Shalahuddin al Ayyubi dibangun pondasinya secara berkesinambungan nyaris oleh tiga generasi, di mulai dari masa al Ghazali, dilanjutkan oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani dan disempurnakan oleh generasi Nuruddin Zanki.
Maka barangsiapa yang bercita-cita dan berupaya mengembalikan al Quds kepangkuan kaum Muslimin, maka harus turut terlibat dalam proyek melahirkan kembali generasi seperti yang pernah ada di masa Shalahuddin. Yang bahan baku utamanya adalah iman, ilmu, persatuan dan menggali potensi diri.
ูุง ููุถุฉ ุจูุง ุฅุตูุงุญ ุชุฑุจูุฉ ููุง ุชุญุฑูุฑ ุจูุง ูุนู ููุง ู ุณุชูุจู ูุฃู ุฉ ุชูุณู ููุงููู ุงูุชุงุฑูุฎ ูุณูู ุงูุชุบููุฑ.
Tidak akan ada kebangkitan tanpa adanya perbaikan pendidikan, dan tidak akan ada pembebasan tanpa adanya kesadaran. Dan tidak ada masa depan bagi umat yang melupakan hukum-hukum sejarah dan sunnah-sunnah perubahan.”
•┈┈•••○○❁༺ⒶⓈⓉ༻❁○○•••┈┈•
Sumber FB Ustadz :;Ahmad Syahrin Thoriq