Mengkhususkan Hari Raya Dengan Maaf

Mengkhususkan Hari Raya Dengan Maaf

Mengkhususkan Hari Raya Dengan Maaf

Di kala kita berhari raya masih ada saja saudara kita yang menyalahkan tradisi hari raya Idulfitri, yakni soal bermaafan. Kata Ustaz-ustaz mereka mengkhususkan satu amalan umum jika tidak disertai dalil maka bidah.

Sekalian saja kita tanya mana dalil larangan takhsis atau mengkhususkan amalan tertentu? Tidak ada dalil khusus. Paling mereka akan membawakan hadis umum berikut:

ﻻ ﺗﺨﺼﻮا ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﻘﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﻭﻻ ﺗﺨﺼﻮا ﻳﻮﻡ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﺼﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺑﻴﻦ اﻷﻳﺎﻡ

"Jangan kalian khususkan malam Jumat dengan ibadah malam tanpa malam lainnya. Dan jangan khususkan hari Jumat dengan puasa tanpa hari yang lain" (HR Muslim)

Hadis ini menurut jumhur ulama adalah sebatas makruh, tidak sampai haram. Berikut penjelasan ulama terkemuka Mazhab Syafi'i, yakni Imam Nawawi:

ﻭﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﺪﻻﻟﺔ اﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﻟﻘﻮﻝ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻣﻮاﻓﻘﻴﻬﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﻜﺮﻩ ﺇﻓﺮاﺩ ﻳﻮﻡ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ

Dalam hadis ini terdapat petunjuk yang jelas bagi pendapat mayoritas ulama Syafi'iyah dan yang sependapat, bahwa makruh berpuasa di hari Jumat saja (Syarah Muslim, 3/19)

Dalil larangan pengkhususan ini tidak disepakati oleh Ulama secara keseluruhan. Terbukti seorang ulama Mujtahid dari Madinah, Imam Malik membolehkan takhsis atau mengkhususkan puasa hari Jumat:

ﻭﻗﺎﻝ ﻳﺤﻴﻰ: ﻭﺳﻤﻌﺖ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻳﻘﻮﻝ: ﻟﻢ ﺃﺳﻤﻊ ﺃﺣﺪا ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻭاﻟﻔﻘﻪ. ﻭﻣﻦ ﻳﻘﺘﺪﻯ ﺑﻪ. ﻳﻨﻬﻰ ﻋﻦ ﺻﻴﺎﻡ ﻳﻮﻡ اﻟﺠﻤﻌﺔ. ﻭﺻﻴﺎﻣﻪ ﺣﺴﻦ . ﻭﻗﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻳﺼﻮﻣﻪ. ﻭﺃﺭاﻩ ﻛﺎﻥ ﻳﺘﺤﺮاﻩ

Yahya berkata bahwa Malik berkata: "Aku tidak mendengar seorang pun dari ahli ilmu dan fikih serta orang yang dijadikan panutan yang melarang puasa di hari Jumat. Puasa di hari Jumat adalah bagus. Aku melihat sebagian ulama berpuasa di hari Jumat dan ia selalu menjaganya (Al-Muwatha')

Anda tahu siapa maksud ulama yang puasa khusus di hari Jumat? Beliau adalah Muhammad bin Munkadir, seorang Tabiin yang hidup pada 51-130 H. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis darinya. Andaikan takhsis puasa di hari Jumat itu terlarang dan bidah maka tidak mungkin Imam Bukhari dan Muslim menerima hadis dari ahli bidah.

Dengan demikian boleh mengkhususkan satu amalan dalam Islam seperti bermaafan di hari raya. Lalu mana dalil Halal Bihalal atau saling bermaafan? Ada di video yang ditayangkan di TV9:  

______ 

Maaf Untuk Keluarga

Maaf Untuk Keluarga 

Anjuran di hari raya dijelaskan dalam hadis berikut:

ﻋﻦ  اﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ: «ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ اﻟﻌﻴﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻧﻠﺒﺲ ﺃﺟﻮﺩ ﻣﺎ ﻧﺠﺪ، ﻭﺃﻥ ﻧﺘﻄﻴﺐ ﺑﺄﺟﻮﺩ ﻣﺎ ﻧﺠﺪ، ﻭﺃﻥ ﻧﻈﻬﺮ اﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﻋﻠﻴﻨﺎ اﻟﺴﻜﻴﻨﺔ ﻭاﻟﻮﻗﺎﺭ»

Hasan bin Ali berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan kami saat hari raya untuk memakai pakaian terbaik dan minyak wangi terbaik. Juga menampakkan Takbir, serta tenang dan semangat" (HR Al Hakim dan Thabrani)

Saya minta maaf untuk istri dan anak-anak, sebab belum bisa membelikan baju baru seragam keluarga, kayak keluarga lainnya. Alhamdulillah mereka menerima dan memahami kondisi orangtuanya.

Substansi hari raya dijelaskan dalam maqalah:

ليس اْلعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ اْلجَدِيْدَ, وَلاَ لِمَنْ اَكَلَ اْلقَدِيْدَ, وَلَكِنَّ اْلعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ, وَخَافَ اْلوَعِيْدَ

"Hari raya itu bukanlah orang berbaju baru dan bukan orang yang makan dendeng yang enak, tetapi orang yang beridul fitri adalah bagi barangsiapa saja bertambah ketaatannya dan bertambah rasa takutnya kepada Allah."

Sumber FB Ustadz : Ma'ruf Khozin

©Terima kasih telah membaca kajian ulama ahlussunnah dengan judul "Mengkhususkan Hari Raya Dengan Maaf - Kajian Ulama". Semoga Allah senantiasa memberikan Ilmu, Taufiq dan Hidayah-Nya untuk kita semua. aamiin. by Kajian Ulama Aswaja ®