๐ง๐๐๐๐๐ฅ ๐๐๐ก ๐๐๐ฅ๐๐๐๐ก ๐๐ฃ๐๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐จ๐ฆ ๐๐๐ฅ๐๐ฅ๐๐ก๐๐๐ก ?
Maaf kiyai izin bertanya, ketika kita mengucapkan takbir, baik itu takbiratul ihram atau takbir ketika perpindahan dalam gerakan shalat, apakah harus bersamaan dengan gerak atau boleh tidak bersamaan ? Ada juga yang memanjangkan takbir sedemikian rupa. Mohon jawabannya.
๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ป
Oleh Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
Ada beberapa hadits yang dzahirnya menunjukkan ada tiga pilihan cara bertakbir dengan gerakan shalatnya, khususnya dalam takbiratul ihram dengan gerakan mengangkat tangannya, yakni sebagai berikut.
๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ : ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ธ๐ฏ๐ถ๐ฟ ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ต๐๐น๐ ๐ธ๐ฒ๐บ๐๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป.
ุฅِุฐَุง ุตََّูู َูุจَّุฑَ، ุซُู َّ ุฑََูุนَ َูุฏَِْูู
“Jika beliau shalallahu’alaihi wassalam shalat maka beliau bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya.” (HR. Muslim)
๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ : ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ต๐๐น๐ ๐ธ๐ฒ๐บ๐๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ธ๐ฏ๐ถ๐ฟ.
ุฑََูุนَ َูุฏَِْูู ุญَุชَّู ุชََُูููุง ุญَุฐَْู ู َِْููุจَِْูู، ุซُู َّ َูุจَّุฑَ
“Beliau shalallahu’alaihi wassalam mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir.” (HR. Muslim)
๐๐ฒ๐๐ถ๐ด๐ฎ : ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ธ๐ฏ๐ถ๐ฟ.
َูุฑََูุนَ َูุฏَِْูู ุญَِูู َُููุจِّุฑُ ุญَุชَّู َูุฌْุนََُููู َุง ุญَุฐَْู ู َِْููุจَِْูู
“Maka beliau shalallahu’alaihi wassalam mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga beliau menyejajarkan kedua tangannya dengan kedua pundaknya.” (HR. Bukhari)
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐น๐ฎ๐บ๐ฎ
Dalam memahami hadits-hadits di atas ulama mazhab berbeda pendapat, yakni dalam memandang apakah ada yang afdhal dari tiga cara tersebut dalam masalah takbiratul ihram.
Sebagian mengatakan tidak ada, semua cara di atas bisa diamalkan sebagai pilihan, sedangkan yang kelompok ulama yang lain menyatakan, meski semuanya boleh, tapi ada yang lebih utama untuk dilakukan dari yang lain. Berikut rinciannya :
A. Madzhab Hanafi
Dalam tuntunan shalat madzhab Hanafi, ketika takbiratul ihram yang dilakukan adalah mengangkat tangan duluan lalu mengucapkan lafadz takbir. Berkata al imam Az Zaila’i rahimahullah :
ูุงูุฃุตุญ ุฃูู ูุฑูุน ุฃููุง، ุซู ููุจุฑ؛ ูุฃู ูู ูุนูู ููู ุงููุจุฑูุงุก ุนู ุบูุฑ ุงููู ุชุนุงูู
“Yang shahih (dalam pendapat Hanafiyah) Adalah mengangkat kedua tangan duluan kemudian bertakbir. Karena dalam perbuatan seperti ini untuk menghilangkan keagungan dari selain Allah ta’ala.”[1]
B. Madzhab Maliki
Dalam Madzhab Malikiyah dijelaskan bahwa mengangkat tangan adalah ketika sudah bertakbir. Berkata Abu Bakar bin Hasan al Kasynawi al Maliki :
ุฑูุน ุงููุฏูู ุนูุฏ ุงูุดุฑูุน ูู ุชูุจูุฑุฉ ุงูุฅุญุฑุงู ููุท ุญุชู ุชูุงุจู ุงูุฃุฐููู ุฃู ุงูู ููุจูู
“Mengangkat tangan itu ketika berlangsungnya takbiratul ihram saja hingga sejajar dengan kedua telinga atau kedua pundak.”[2]
C. Madzhab Syafi’i
Kalangan Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa ada lima cara yang bisa digunakan. Ini merupakan pecahan dari tiga point di atas, namun yang afdhal adalah bersamaan suara takbir dengan gerakan. Berkata al imam Nawawi rahimahullah kaitannya dengan takbiratul ihram :
ููุฃุตุญุงุจูุง ููู ุฃูุฌู ุฃุญุฏูุง ูุฑูุน ุบูุฑ ู ูุจุฑ ุซู ูุจุชุฏุฆ ุงูุชูุจูุฑ ู ุน ุฅุฑุณุงู ุงููุฏูู ูููููู ู ุน ุงูุชูุงุฆู ูุงูุซุงูู ูุฑูุน ุบูุฑ ู ูุจุฑ ุซู ููุจุฑ ููุฏุงู ูุงุฑุชุงู ุซู ูุฑุณููู ุง ูุงูุซุงูุซ ูุจุชุฏุฆ ุงูุฑูุน ู ู ุงุจุชุฏุงุฆู ุงูุชูุจูุฑ ููููููู ุง ู ุนุง ูุงูุฑุงุจุน ูุจุชุฏุฆ ุจูู ุง ู ุนุง ููููู ุงูุชูุจูุฑ ู ุน ุงูุชูุงุก ุงูุฅุฑุณุงู ูุงูุฎุงู ุณ ููู ุงูุฃุตุญ ูุจุชุฏุฆ ุงูุฑูุน ู ุน ุงุจุชุฏุงุก ุงูุชูุจูุฑ ููุง ุงุณุชุญุจุงุจ ูู ุงูุงูุชูุงุก ูุฅู ูุฑุบ ู ู ุงูุชูุจูุฑ ูุจู ุชู ุงู ุงูุฑูุน ุฃู ุจุงูุนูุณ ุชู ู ุงูุจุงูู
“Dan menurut mazhab shahabat-shahabat kami (Syafi’iyyah) ada beberapa cara :
1. Mengangkat kedua tangan dahulu lalu memulai takbir sedangkan kedua tangan sudah mulai turun, dan selesai turunnya bersamaan dengan selesai takbir.
2. Mengangkat tangan tanpa bertakbir, lalu bertakbir dalam keadaan kedua tangannya diam atau berhenti kemudian melepaskan keduanya.
3. Memulai mengangkat tangan lalu mulai bertakbir, dan menyelesaikannya bersamaan (yakni hingga tangan disedekapkan)
4. Memulai keduanya bersamaan dan mengakhiri takbir bersamaan dengan selesai turunnya kedua tangan.
5. Dan ini yang paling benar, memulai mengangkat bersamaan dengan permulaan takbir, dan tidak ada penentuan perihal model mengakhiri keduanya (takbir dan mengangkat kedua tangan). Jadi, jika ia selesai bertakbir sebelum selesainya mengangkat tangan atau sebaliknya maka ia tinggal menyempurnakan yang tersisa dari salah satunya.[3]
Jadi pendapat yang terpilih dalam madzhab ini adalah lafadz takbir bersamaan dengan dimulainya gerakan tangan hingga selesai.[4]
D. Madzhab Hanbali
Madzhab Hanbali dalam hal ini serupa dengan kalangan Syafi’iyyah.[5] Berkata al Imam Ibnu Qudamah al Madisi rahimahullah :
ููููู ุงุจุชุฏุงุก ุฑูุนู ุนูุฏ ุงุจุชุฏุงุก ุชูุจูุฑู، ูุงูุชูุงุคู ุนูุฏ ุงูุชูุงุฆู
“Dan hendaknya memulai mengangkat tangan ketika dimulainya pengucapan lafadz takbir. Dan berhenti saat telah selesainya ucapan takbir.”[6]
๐ง๐ฎ๐ธ๐ฏ๐ถ๐ฟ ๐ถ๐ป๐๐ถ๐พ๐ฎ๐น (๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ผ๐๐ถ๐๐ถ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐)
Terjadi perbedaan pendapat juga di kalangan ulama dalam masalah mengucapkan takbir intiqal, yakni apakah lafadz takbir ini dipanjangkan agar bersesuaian dengan gerakan shalat seperti ketika akan sujud dan ketika akan bangkit ke raka’at selanjutnya ataukah cukup dibaca pendek.
๐ญ. ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐๐๐ป๐ป๐ฎ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐ฝ๐ฎ๐ป๐ท๐ฎ๐ป๐ด
Mayoritas ulama madzhab dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan pendapat yang kuat dari madzhab Syafi’iyyah adalah menyatakan disunnahkan untuk mengiringi gerakan shalat dengan bacaan takbir dan dzikirnya.[7] Kalangan ini berdalil dengan hadits berikut :
ูุงู ุฅِุฐَุง َูุงู َ ุฅَِูู ุงูุตََّูุงุฉِ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َُูููู ُ ุซُู َّ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َูุฑَْูุนُ
“Dahulu jika Nabi mendirikan shalat beliau bertakbir saat berdiri kemudian bertakbir saat ruku’.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dari Abu Salamah bahwa ia berkata tentang Abu Hurairah :
َูุงَู َُููุจِّุฑُ ِูู ُِّูู ุตََูุงุฉٍ ู َِู ุงْูู َْูุชُูุจَุฉِ َูุบَْูุฑَِูุง َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َُูููู ُ، ุซُู َّ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َูุฑَْูุนُ، ุซُู َّ َُُูููู: ุณَู ِุนَ ุงَُّููู ِูู َْู ุญَู ِุฏَُู، ุซُู َّ َُُูููู: ุฑَุจََّูุง َََููู ุงْูุญَู ْุฏُ َูุจَْู ุฃَْู َูุณْุฌُุฏَ، ุซُู َّ َُُูููู: ุงَُّููู ุฃَْูุจَุฑُ ุญَِูู َِْูููู ุณَุงุฌِุฏًุง، ุซُู َّ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َูุฑَْูุนُ ุฑَุฃْุณَُู، ุซُู َّ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َูุณْุฌُุฏُ، ุซُู َّ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َูุฑَْูุนُ ุฑَุฃْุณَُู، ุซُู َّ َُููุจِّุฑُ ุญَِูู َُูููู ُ ู َِู ุงْูุฌُُููุณِ ِูู ุงุซَْูุชَِْูู
“Abu Hurairah) selalu bertakbir di setiap shalat wajib maupun shalat sunnah, dia bertakbir ketika berdiri, bertakbir ketika ruku' kemudian mengucapkan; "Sami'allaahu liman hamidah" Lalu mengucapkan; "Rabbana walakal hamdu " yaitu sebelum sujud.
Setelah itu dia mengucapkan; "Allahu akbar" ketika tersungkur sujud, bertakbir ketika bangun dari sujud, bertakbir ketika sujud (kedua), bertakbir ketika bangun dari sujud, bertakbir ketika bangun dari duduknya pada raka'at kedua, yang demikian itu di lakukannya pada setiap raka'at hingga selesai shalat...” (HR. Abu Dawud)
Al imam al ‘Aini al Hanafi ketika menjelaskan hadits di atas berkata :
ุฏููู ุนูู ู ูุงุฑูุฉ ุงูุชูุจูุฑ ููุฐู ุงูุญุฑูุงุช، ูุจุณุทู ุนูููุง
“Ini adalah dalil untuk membersamakan antara takbir dengan gerakan, dan memanjangkan atasnya lafadz.”[8]
Al imam Nawawi rahimahullah juga berkata :
ูุฐุง ุฏููู ุนูู ู ูุงุฑูุฉ ุงูุชูุจูุฑ ููุฐู ุงูุญุฑูุงุช ูุจุณุทู ุนูููุง ููุจุฏุฃ ุจุงูุชูุจูุฑ ุญูู ูุดุฑุน ูู ุงูุงูุชูุงู ุฅูู ุงูุฑููุน ููู ุฏู ุญุชู ูุตู ุญุฏ ุงูุฑุงูุนูู … ููุจุฏุฃ ุจุงูุชูุจูุฑ ุญูู ูุดุฑุน ูู ุงูููู ุฅูู ุงูุณุฌูุฏ ููู ุฏู ุญุชู ูุถุน ุฌุจูุชู ุนูู ุงูุฃุฑุถ… ููุดุฑุน ูู ุงูุชูุจูุฑ ููููุงู ู ู ุงูุชุดูุฏ ุงูุฃูู ุญูู ูุดุฑุน ูู ุงูุงูุชูุงู ููู ุฏู ุญุชู ููุชุตุจ ูุงุฆู ุง
“Keterangan Abu Hurairah bahwa ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika turun sujud, kemudian bertakbir ketika bangkit…’ ini menunjukkan bahwa takbir itu mengiringi gerakan-gerakan tersebut. Dan dilakukan sepanjang gerakan perpindahan tersebut.
Takbir dimulai ketika seseorang mulai bergerak untuk ruku’, dipanjangkan sampai dia di posisi ruku’ dia mulai takbir ketika hendak turun sujud, lalu dipanjangkan, hingga dia letakkan dahinya di tanah dan takbir bangkit dari tasyahud awal dimulai ketika bergerak, dipanjangkan hingga tegak berdiri sempurna. [9]
Al Imam Subki Asy Syafi’i rahimahullah berkata :
ูุฐุง ุงูุญุฏูุซ ุฏููู ุนูู ู ูุงุฑูุฉ ุงูุชูุจูุฑ ููุฐู ุงูุญุฑูุงุช ูุจุณุทู ุนูููุง ููุจุฏุฃ ุจุงูุชูุจูุฑ ุญูู ูุดุฑุน ูู ุงูุงูุชูุงู ุฅูู ุงูุฑููุน ููู ุฏّู ุญุชู ูุตู ุญุฏّ ุงูุฑุงูุนูู
“Hadits ini menjadi dalil untuk membersamakan antara takbir dengan gerakan, dan memanjangkan atasnya lafadz. Di mulai bertakbir ketika mulai bergerak hingga ruku’ dan dipanjangkan sampai ke batasan orang yang ruku’ secara sempurna.”[10]
Imam Al ‘Imrani al Yamani Asy Syafi’i rahimahullah juga berkata, “Disunnahkan memulai takbir ketika akan turun sujud hingga akhir takbir adalah saat awal sujud ... disunnahkan memanjangkan takbirnya agar tidak lepas dari dzikir sebagaimana dalam perbuatan shalat yang lain.”[11]
๐ฎ. ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐๐๐ป๐ป๐ฎ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ธ
Sedangkan sebagian kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak ada kesunnahan memanjangkan mad (yang biasanya hingga mencapai tujuh harakat bahkan lebih). Dari Syafi’iyyah diantaranya adalah al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah, beliau berkata :
ูุฏูุงูุฉ ูุฐุง ุงูููุธ ุนูู ุงูุจุณุท ุงูุฐู ุฐูุฑู ุบูุฑ ุธุงูุฑุฉ
“Lafadz hadits ini tidaklah menunjukkan adanya anjuran memanjangkan dzikir (takbir intiqal).”[12]
Berkata al imam Ibnu Qudamah al Hanbali :
ููุณุชุญุจ ุญุฐู ุงูุณูุงู ، ููู ุฃูุง ูู ุฏ ุจุทููู
“Dan disunnahkan untuk memendekkan salam, yakni tidak memanjangkannya.”[13]
Dalil pendapat tidak perlunya memanjangkan dzikir seperti takbir, salam dan lainnya dengan tujuan membersamai gerakan adalah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata :
ุญَุฐُْู ุงูุณََّูุงู ِ ุณَُّูุฉٌ
“Memendekkan salam adalah sunnah.” (HR. Abu Dawud)
Juga hadits Nabi yang berbunyi :
ุงูุชَّْูุจِูุฑُ ุฌَุฒْู َูุงูุชَّุณِْููู ُ ุฌَุฒْู ٌ
“Takbir itu pendek, salam juga pendek.” (Hr. Tirmidzi)
Kalangan Hanabilah menafsirkan kata “Hadzfu as salam” dari ucapan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu itu dengan makna tidak memanjangkan bacaannya. Sebagaimana dinukil dari Abdullah bin Mubarak rahimahullah beliau berkata :
ู ุนูุงู ุฃู ูุง ูู ุฏ ู ุฏุง
“Maknanya adalah tidak memanjangkan madnya.”[14]
Sedangkan kalangan Syafi’iyyah membantah balik dengan menyatakan bahwa kedua dalil di atas tidak bisa dijadikan hujjah karena lemah bahkan hadits kedua tidak ada asalnya. Uniknya yang membantah adalah Ibnu Hajar Sendiri, yang notabene mendukung pendapat “bacaan takbir tidak dipanjangkan.
Subhanallah, disinilah kita mendapatkan pelajaran berharga, betapa jujur dan adilnya orang-orang dulu dalam mengemban amanah ilmu.Tidak seperti kebanyakan kita hari ini, mentang-mentang kalau dari kelompoknya, salah benar tetap dibela dan dicarikan dalih pembenarannya.
Berkata al imam al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani :
ูุง ุฃุตู ูู ุจูุฐุง ุงูููุธ، ูุฅูู ุง ูู ููู ุฅุจุฑุงููู ุงููุฎุนู ุญูุงู ุงูุชุฑู ุฐู ุนูู، ูู ุนูุงู ุนูุฏ ุงูุชุฑู ุฐู ูุฃุจู ุฏุงูุฏ ูุงูุญุงูู ู ู ุญุฏูุซ ุฃุจู ูุฑูุฑุฉ ุจููุธ "ุญุฐู ุงูุณูุงู ุณูุฉ" ููุงู ุงูุฏุงุฑูุทูู ูู ุงูุนูู: ุงูุตูุงุจ ู ูููู، ููู ู ู ุฑูุงูุฉ ูุฑุฉ ุจู ุนุจุฏ ุงูุฑุญู ู ููู ุถุนูู ุงุฎุชูู ููู
Lafadz ini tidak ada asalnya. Dia sebenarnya adalah ucapan al imam Ibrahim an Nakha’i yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi. Dan makna (hadits lainnya) dari Abu Hurairah ‘memendekkan salam itu sunnah’ telah berkata al imam Daraquthni dalam al Ilalnya : hadits ini Mauquf, diriwayatkan dari Qurrah bin Abdirrahman dan dia lemah serta diperselisihkan.”[15]
Demikian. Wallahu a’lam.
_____________
[1] Tabyin al Haqaiq (1/109)
[2] Ashal al Madarik (1/215)
[3] Syarah Shahih Muslim (4/94)
[4] Fiqih al Islami wa Adillatuhu (2/870)
[5] Ibid
[6] Al Mughni li Ibni Qudamah (1/358)
[7] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (13/208)
[8] Syarah Sunan Abi Dawud li ‘Aini (4/20)
[9] Syarah Shahih Muslim (7/64
[10] Syarh Sunan Abi Daud li Subki (5/271)
[11] Al Bayan fii Madzhab Imam Asy Syafi'i (2/215)
[12] Fath al Bari (2/273)
[13] Al Mughni li Ibn Qudamah (1/399)
[14] Syarah Muntaha al Iradat (2/165)
[15] At Talkhis (1/225)
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
