
Mujassimah Memang Tidak Amanah Sejak Dahulu
Imam Tajuddin as-Subki mencatat:
«ุทุจูุงุช ุงูุดุงูุนูุฉ ุงููุจุฑู ููุณุจูู» (2/ 19):
«َููุฏ ูุตู ุญَุงู ุจุนุถ ุงูู ุฌุณู ุฉ ِูู ุฒَู َุงَููุง ุฅَِูู ุฃَู ูุชุจ ุดุฑุญ ุตَุญِูุญ ู ُุณูู ููุดَّْูุฎ ู ุญูู ุงูุฏّูู ุงََِّّููููู َูุญุฐู ู ู ََููุงู ุงََِّّููููู ู َุง ุชููู ุจِِู ุนََูู ุฃَุญَุงุฏِูุซ ุงูุตَِّูุงุช َูุฅِู ุงََِّّููููู ุฃุดุนุฑู ุงูุนููุฏุฉ»
"Kondisinya sampai sebagian mujassimah di zaman kita (abad ke-8 H) menulis syarah Shahih Muslim karya Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dan membuang perkataan imam Nawawi dan penjelasannya terhadap hadis-hadis sifat, karena sesungguhnya an-Nawawi berakidah Asy'ari."
Jadi tidak perlu heran bila mujassim zaman kita ini sering juga memanipulasi karya ulama Asy'ariyah dengan berbagai cara. Ada yang membuat syarah yang menyimpang dari maksud penulisnya, ada yang mengubah judul bab dan semacamnya agar orang awam tertipu. Memang begitulah DNA mereka sejak zaman dahulu.
Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad
18 Juli 2021