Adzan dan Haji: Mengapa Kita Sering Menunda Panggilan Ibadah?

Adzan dan Haji: Mengapa Kita Sering Menunda Panggilan Ibadah?

Adzan dan Haji: Dua Panggilan Ibadah yang Menguji Kesungguhan Seorang Muslim

Mengapa ada orang yang setiap hari mendengar adzan, tetapi masih menunda salat? Mengapa ada orang yang sangat merindukan Ka'bah, tetapi belum mampu menunaikan haji?

Pertanyaan ini mengajak kita merenungkan hubungan antara panggilan untuk beribadah, kemampuan, niat, dan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Adzan dan haji memang memiliki karakteristik yang berbeda. Adzan memanggil kaum Muslimin untuk menunaikan salat, sedangkan haji merupakan ibadah yang diwajibkan sekali seumur hidup bagi Muslim yang memenuhi syarat kemampuan.

Keduanya mengajarkan satu hal penting: kesempatan beribadah hendaknya tidak disia-siakan.

1. Adzan: Panggilan Ibadah yang Datang Setiap Hari

Adzan berkumandang lima kali sehari, mengingatkan kaum Muslimin agar tidak melupakan kewajiban salat di tengah kesibukan dunia.

Panggilan ini terdengar di berbagai tempat, baik di kota maupun desa, di lingkungan orang kaya maupun orang miskin.

Namun, meskipun terdengar setiap hari, tidak semua orang menyambutnya dengan segera.

Ada yang langsung berwudu dan berangkat ke masjid. Ada yang menunda karena pekerjaan. Ada pula yang terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan waktu salat.

Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

(QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa menjalankan ibadah membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.

Karena itu, jangan sampai seringnya mendengar adzan membuat kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Setiap kali panggilan salat terdengar, sesungguhnya ada kesempatan untuk kembali mengingat Allah dan memperbaiki diri.

2. Haji: Ibadah yang Membutuhkan Kemampuan dan Kesungguhan

Berbeda dengan salat yang wajib dikerjakan setiap hari, haji memiliki persyaratan khusus, terutama kemampuan atau istithaah.

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”

(QS. Ali Imran: 97)

Ayat ini menegaskan bahwa haji merupakan kewajiban bagi orang yang mampu melaksanakannya.

Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan uang, tetapi juga mencakup aspek-aspek lain sesuai ketentuan syariat, seperti kesehatan, keamanan perjalanan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Haji juga membutuhkan persiapan, kesabaran, tenaga, waktu, dan pengorbanan.

Sebagian orang harus menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya. Ada pula yang sudah memiliki uang, tetapi masih harus menunggu antrean keberangkatan.

Di sisi lain, ada orang yang tinggal di Makkah, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, atau persyaratan resmi untuk berhaji.

Karena itu, kita tidak boleh menganggap bahwa setiap orang yang tinggal dekat Ka'bah pasti mudah berhaji, atau bahwa orang yang belum berhaji berarti tidak mendapat panggilan Allah.

Kondisi dan ujian setiap orang berbeda-beda.

Dekatnya tempat tinggal tidak selalu berarti mudahnya kesempatan, sedangkan jauhnya jarak tidak menghalangi seseorang untuk berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

3. Mengapa Haji Menjadi Salah Satu Rukun Islam?

Islam dibangun di atas lima perkara, sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam hadis sahih:

  1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
  2. Mendirikan salat.
  3. Menunaikan zakat.
  4. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  5. Menunaikan haji ke Baitullah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima perkara tersebut merupakan rukun Islam yang mendasar. Masing-masing memiliki kedudukan dan ketentuan tersendiri.

Syahadat menjadi dasar keimanan. Salat merupakan kewajiban harian. Zakat mengandung kewajiban harta bagi yang memenuhi syarat. Puasa Ramadan melatih ketakwaan dan pengendalian diri. Sementara itu, haji diwajibkan bagi orang yang memenuhi syarat kemampuan.

Tidak tepat jika kelimanya dianggap sebagai tingkatan yang harus diselesaikan satu per satu sebelum seseorang boleh melaksanakan haji. Seorang Muslim tetap wajib menunaikan haji ketika telah memenuhi syaratnya, meskipun ia masih perlu memperbaiki kualitas ibadahnya yang lain.

Namun, kelima rukun Islam itu juga mengingatkan kita agar membangun kehidupan beragama secara menyeluruh, bukan hanya bersemangat pada satu ibadah tetapi mengabaikan kewajiban lainnya.

Jangan sampai seseorang bersungguh-sungguh mengumpulkan biaya untuk pergi ke Tanah Suci, tetapi melalaikan salat atau mengabaikan hak orang lain.

Sebaliknya, jangan pula seseorang merasa cukup dengan menjalankan ibadah sehari-hari, lalu terus menunda haji padahal telah memenuhi syarat dan memiliki kesempatan untuk menunaikannya.

Setiap kewajiban memiliki tanggung jawab yang harus ditunaikan.

4. Tiga Sikap Manusia dalam Menyambut Kesempatan Beribadah

Jika direnungkan, ada beberapa sikap manusia ketika berhadapan dengan kesempatan beribadah.

Pertama: Mereka yang segera menyambut kesempatan

Ketika adzan terdengar, mereka berusaha segera menunaikan salat.

Ketika telah memenuhi syarat untuk berhaji, mereka melakukan persiapan sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku.

Mereka memahami bahwa kesempatan beribadah merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Kedua: Mereka yang ingin beribadah, tetapi belum mampu

Ada orang yang sangat ingin berhaji, tetapi penghasilannya belum mencukupi. Ada yang sedang sakit, memiliki tanggungan keluarga, atau menghadapi keadaan lain yang membuatnya belum mampu berangkat.

Mereka tetap dapat berdoa, memperbaiki ibadah, menabung sesuai kemampuan, dan berusaha tanpa memaksakan diri hingga menelantarkan kewajiban lain.

Allah mengetahui keadaan dan usaha setiap hamba.

Keinginan yang tulus untuk berbuat baik merupakan sesuatu yang patut dijaga. Namun, pahala tertentu tidak boleh dipastikan bagi seseorang tanpa dasar yang jelas dari syariat.

Ketiga: Mereka yang terus menunda meskipun mampu

Ada pula orang yang memiliki kesempatan, tetapi terus menunda ibadah tanpa alasan yang dibenarkan.

Salat ditunda karena kesibukan yang sebenarnya dapat diatur. Kewajiban harta diabaikan. Haji yang telah wajib ditunaikan terus ditangguhkan tanpa alasan yang sah.

Sikap seperti ini patut menjadi bahan introspeksi.

Kita tidak mengetahui akhir perjalanan hidup seseorang. Karena itu, jangan menunggu sampai usia lanjut untuk memperbaiki ibadah, dan jangan sengaja menunda kewajiban yang sudah harus ditunaikan.

5. Jangan Hanya Merindukan Ka'bah, tetapi Jaga Juga Ibadah Sehari-hari

Melihat Ka'bah melalui foto atau video mungkin menumbuhkan kerinduan untuk berkunjung ke Tanah Suci.

Bagi sebagian orang, kerinduan itu diwujudkan dengan menabung sedikit demi sedikit. Bagi yang lain, perjalanan menuju Baitullah masih menjadi impian yang belum dapat diwujudkan.

Kerinduan tersebut hendaknya menjadi dorongan untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk menilai bahwa seseorang lebih dicintai Allah daripada orang lain.

Seseorang yang sudah berhaji tidak otomatis lebih mulia dalam segala hal daripada orang yang belum berhaji. Demikian pula, orang yang tinggal di Makkah tidak boleh dinilai kurang beriman hanya karena belum melaksanakan haji.

Allah lebih mengetahui keadaan, niat, dan amal setiap hamba.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian Allah tidak didasarkan semata-mata pada penampilan atau kekayaan, melainkan pada hati dan amal.

Karena itu, jangan hanya merindukan kesempatan untuk beribadah di Tanah Suci. Jagalah pula salat, tunaikan kewajiban, perbaiki akhlak, dan berbuat baik kepada sesama.

Kesimpulan

Adzan dan haji sama-sama mengingatkan kita tentang pentingnya menyambut kesempatan beribadah.

Adzan mengajak kita menjaga salat setiap hari, sedangkan haji mengingatkan kita akan kewajiban besar yang harus ditunaikan ketika telah memenuhi syarat kemampuan.

Ada orang yang sudah mampu tetapi masih menunda. Ada yang sangat ingin berangkat tetapi belum mampu. Ada pula yang telah mendapatkan kesempatan untuk beribadah dan hendaknya mensyukurinya.

Kita tidak berhak memastikan siapa yang lebih dicintai Allah hanya berdasarkan tempat tinggal, kemampuan ekonomi, atau kesempatan berangkat ke Tanah Suci.

Yang dapat kita lakukan adalah memperbaiki niat, menjaga amal, berusaha sesuai kemampuan, dan tidak menyia-nyiakan kewajiban.

Jangan menunggu sampai berada di depan Ka'bah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sambutlah panggilan-Nya melalui ibadah yang telah diwajibkan kepada kita hari ini.

Doa

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang mampu menyambut panggilan-Mu dengan ketaatan. Istiqamahkan kami dalam salat, mudahkan kami menunaikan seluruh kewajiban, cukupkan rezeki kami dengan yang halal, dan karuniakan kesempatan berhaji ke Baitullah bagi kami yang belum menunaikannya.

Ya Allah, terimalah amal ibadah kami, ampunilah kekurangan kami, dan jangan jadikan kecintaan kami kepada Tanah Suci melalaikan kami dari kewajiban kepada-Mu dan hak sesama manusia.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Catatan sumber: Tulisan ini merupakan renungan yang disusun berdasarkan ayat Al-Qur'an dan hadis yang disebutkan. Pernyataan kiasan tentang “undangan Allah” bukan kutipan langsung dari Allah, Rasulullah ﷺ, ataupun Imam Al-Ghazali.

---- diolah AI - Kajian Ulama ----

Sumber inspirasi : Facebook Al Raeyan

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "Adzan dan Haji: Mengapa Kita Sering Menunda Panggilan Ibadah?". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#haji #kajianulama #umroh