TGB Ingatkan Umat agar Hindari Fanatisme terhadap Ulama

TGB Ingatkan Umat agar Hindari Fanatisme terhadap Ulama

MATARAM - Ketua Umum PB NWDI Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi mengingatkan umat Islam agar tidak berlebihan dalam mengagumi seorang ulama, termasuk dalam menyikapi sosok Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Menurutnya, kekaguman terhadap seorang ulama tetap harus ditempatkan dalam koridor keilmuan dan tidak berubah menjadi sikap ta’assub atau fanatisme berlebihan.

“Kagum boleh, tapi jangan kelewat ta'assub,” tulis TGB di akun media sosialnya sembari melampirkan video pendek berisi pandangannya tentang Syekh Albani Senin, 31 Agustus 2026.

TGB kemudian mengutip pesan yang dinisbatkan kepada Imam Malik bin Anas mengenai sikap seorang Muslim terhadap pendapat para ulama.

كل يؤخذ من كلامه و يرد إلا صاحب هذا القبر

“Pendapat setiap orang bisa diterima atau ditolak kecuali penghuni makam ini,” ujar TGB, seraya menjelaskan bahwa ungkapan tersebut disampaikan Imam Malik sambil menunjuk ke makam Rasulullah SAW.

Dalam konteks polemik mengenai Syekh Albani, TGB dalam video berdurasi 2 menit 16 detik tersebut  juga menegaskan bahwa Albani merupakan salah satu ulama dalam khazanah keilmuan Islam, bukan satu-satunya rujukan yang tidak boleh dikritik.

“Syekh Albani adalah ‘alimun minal ulama. Satu dari sekian banyak ulama dalam Islam. Pendapatnya boleh diambil dan juga boleh ditinggalkan,” ujar TGB.

Menurut Rektor IAIH itu, mengkritisi pemikiran Albani merupakan sesuatu yang wajar dalam tradisi keilmuan Islam. Sebab, Albani sendiri dikenal sering memberikan kritik terhadap pandangan sejumlah ulama.

“Mengkritisi Albani adalah hal yang sangat biasa. Sebagaimana Albani juga sangat sering mengkritisi pandangan para ulama,” katanya.

Meski memberikan sejumlah catatan kritis, Ketua OIAA Indonesia itu tidak menafikan kapasitas keilmuan Albani. TGB mengakui bahwa Albani merupakan sosok yang tekun dalam melakukan penelitian hadis.

“Bagi saya, Albani adalah seorang ulama yang memang tekun meneliti hadis. Bahits. Dia suka meneliti hadis dari jalur periwayatan dan banyak hal yang lain. Tentu ada kelebihan dan kekurangannya,” kata TGB.

Dalam menentukan pilihan terhadap metode kajian hadis, TGB mengatakan dirinya memilih mengikuti pandangan para ahli hadis di Al-Azhar, termasuk gurunya, Syekh Musa Syahin Lasyin.

Doktor Tafsir Al Qur'an Universitas al Azhar Mesir itu mengungkapkan, ketika dirinya dan gurunya mendiskusikan serta mempelajari metode Albani secara mendalam, Syekh Musa Syahin Lasyin memberikan penilaian yang cukup tegas.

مَنْهَجُهُ لَا يُعْتَدُّ بِهِ

“Metodenya tidak valid alias bermasalah,” ujar TGB menerjemahkan pernyataan gurunya tersebut.

TGB yang juga cucu dari pahlawan nasional asal NTB TGKH. M. Zainuddin Abdul Abdul Madjid itu menjelaskan bahwa pilihan tersebut bukan berarti menafikan seluruh kerja ilmiah Albani, melainkan menunjukkan adanya perbedaan metodologis dalam memahami dan menilai hadis.

Menurut TGB, Al-Azhar memilih mengikuti metode para ulama hadis yang telah mendapatkan pengakuan luas dalam tradisi keilmuan Islam, seperti Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Hatim, Imam Abu Zur’ah, dan para imam hadis lainnya.

“Insyaallah, mereka semua itu jauh lebih paten ilmunya,” tegas TGB.

Pernyataan TGB tersebut sekaligus menjadi pengingat agar perbedaan pendapat di antara ulama tidak berubah menjadi fanatisme terhadap satu tokoh. Kekaguman terhadap seorang ulama, menurut garis besar pandangan TGB, tetap perlu disertai sikap kritis dan penghormatan terhadap keragaman tradisi keilmuan Islam.

Dengan demikian, seorang ulama dapat dihargai karena kontribusi dan keilmuannya, namun pendapatnya tetap terbuka untuk dikaji, diterima ataupun ditinggalkan. (Admin Fans Dr. TGB) 

Sumber Facebook : Fans Dr. TGB

© Terima kasih telah membaca Kajian Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan judul "TGB Ingatkan Umat agar Hindari Fanatisme terhadap Ulama". Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, taufiq, dan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
#albani #ulama
Lebih lamaTerbaru