
Saya kira yang akan naik darah membaca tulisan saya beberapa hari ini adalah atheis. Eh, yang muncul malah Wahabi.
Beberapa hari ini saya berdiskusi dengan seorang atheis yang sebelumnya muslim, namun tidak mendapatkan pemahaman pas tentang wujud Allah. Allah yang dipahaminya masih terikat hukum ruang dan waktu: berfisik, berubah, bahkan memiliki emosi. Maka saya mengajaknya mengenal kembali konsep ketuhanan melalui kurikulum akidah yang benar, Ahlussunnah wal Jamaah: Asy'ariyah-Maturidiyah.
Pembahasan tentang Allah dimulai dengan menyingkirkan segala keserupaan antara Allah dan makhluk, dengan sifat-sifat salbiyah, yang merupakan intisari dari surat Al-Ikhlas.
Lain dengan Wahabi yang menjadikan hadis jariyah (budak perempuan) yang menunjuk langit saat ditanya "di mana Allah" sebagai salah satu dalil utama bahwa Allah bertempat di langit. Padahal riwayat-riwayat tentang peristiwa tersebut memiliki perbedaan matan yang serius, dan perlu dikaji secara dirayah, bukan sekadar dilihat sanadnya, yang tidak mutawatir juga.
Riwayat lain justru punya makna lebih kuat dan selaras dengan syarat iman: syahadatain. Nabi ﷺ bertanya kepada jariyah itu tentang pengakuannya kepada Allah dan Rasulullah. Inilah hakikat iman, bukan dengan menjawab bahwa Allah berada di langit.
Kalau standar iman adalah mengatakan “Allah di langit”, berarti Lionel Messi juga muslim dong? Ya ngaco lah.
Herannya lagi, Wahabi ini seolah sudah didapuk menjadi polisi akidah, menghakimi akidah mayoritas umat, padahal mereka sendiri tidak mampu menjawab: apa perbedaan wujud Allah yang mereka yakini dengan wujud Zeus, jika keduanya sama-sama dipahami sebagai sesuatu yang terikat ruang dan waktu?
Sudahlah begitu, dengan PD-nya mereka mengklaim bahwa kita akan kebingungan saat ditanya “di mana Allah?”
Oi ngab! Yang takut debat karena selalu kalap itu kalian, kok malah menuduh kami pula yang bingung. Ayo, siapa di antara kalian yang siap berdialog terbuka dengan saya, dan tanyakan pertanyaan itu. Ada yang berani? I don't think so.
Pada akhirnya, orang yang bacaannya bertambah dan kualitas nalarnya meningkat, tak akan lama bertahan dalam manhaj ini.
22 Agustus 2026
__________________

Berdebat dengan penganut agama lain itu lebih mudah daripada berdebat dengan Wahabi, dan berdebat dengan Wahabi itu lebih mudah daripada dengan ateis. Dan Wahabi, dengan konsep tauhidnya, tidak akan mampu membendung paham ateisme secara logis.
Bagaimana tidak?
Allah yang mereka yakini itu berada dalam arah dan tempat, mengalami perbuatan yang bersifat temporal (terikat waktu), punya tangan dan wajah yang dipahami sebagai sifat fisikal, serta punya emosi. Imajinasi Tuhan seperti ini adalah sasaran empuk ateis. Jika konsep teologisnya seperti ini, lalu apa prinsip rasional yang membedakan konsepsi tersebut dari konsep dewa-dewa antropomorfis seperti Zeus?
Alhamdulillah, Allah izinkan saya menyauk ilmu dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah lintas zaman, sehingga Allah yang saya yakini terbebas dari keterbatasan waktu (qidam dan baqa'), tempat (qiyamuhu binafsihi), kesamaan dengan yang lain (mukhalafatuhu lil-hawaditsi), dan satu mutlak (wahdaniyah), tidak dibatasi oleh apa pun, sebagaimana intisari Surah al-Ikhlas, yang menjadi jawaban Nabi Muhammad saat diminta oleh orang-orang Yahudi untuk menjelaskan Allah.
***
Bakodak dengan lulusan jurusan Akidah wal Falsafah Universitas al-Azhar Kairo, Ustadz Wahyudi Rahman, Lc. M.Ag. ( Wahyudi Rahman ) di depan masjid Jami' Parabek, di dekat makam Syaikh Ibrahim Musa Parabek, yang memilikikarya tulis berjudul Hidajah, membahas tentang konsep logis beriman melalui sifat wajib yang 20, sifat mustahil, serta sifat jaiz bagi Allah
21 Agustus 2026
_________________

Beberapa hari ini saya berdiskusi dengan seorang atheis yang berasal dari keluarga agamis: keluarga dan lingkungan satu partai Islam dan cukup familiar dengan beberapa nama pergerakan Islam internasional.
Namun, dalam diskusi tentang Tuhan, ia tampaknya belum pernah berhadapan dengan bangunan teologi Ahlussunnah wal Jamaah yang dikembangkan secara sistematis oleh para ulama besar seperti Imam Asy'ari hingga Imam Sanusi.
Jangan-jangan, sebelum ia meninggalkan agama, konsep Tuhan yang ia terima memang belum pernah sampai kepada pembahasan teologi Islam yang mendalam. Sebab apabila Tuhan dipahami sebagai suatu sosok yang berada di dalam ruang dan waktu, BERFISIK, memiliki batas, dan menjadi bagian dari rantai sebab-akibat alam, maka wajar jika kemudian ia bertanya: apa yang menyebabkan Tuhan itu ada?
Dengan konsep seperti itu, Tuhan Islam yang dia pahami tidak akan terlihat berbeda secara fundamental dari Zeus, Ra, Enlil, Krishna, Brahma, dan berbagai konsepsi ketuhanan lainnya. Hanya menjadi satu entitas dalam rantai kausalitas yang panjang.
Padahal, teologi Ahlussunnah memulai pembahasannya dari nazhar, yang mengantarkan kepada kesimpulan tentang adanya al-Mūjid atau The Originator — dan inilah yang berkaitan dengan pembahasan sifat nafsiyyah, yakni al-wujūd.
Selanjutnya, klaim ketuhanan diuji dengan sifat-sifat salbiyyah: Allah tidak menyerupai makhluk, tidak membutuhkan tempat, tidak terikat ruang dan waktu, tidak tersusun, dan tidak membutuhkan sebab.
Allah bukan mata rantai pertama dalam rantai sebab-akibat. Allah adalah Pencipta seluruh rantai sebab-akibat itu.
Karena itu, bisa jadi sebagian argumen yang ia gunakan untuk menolak “Tuhan” memang dapat membantah konsep ketuhanan lain, tetapi tak akan bisa membantah konsep ketuhanan Islam dalam rumusan kokoh Asy'ariyyah-Maturidiyyah.
Saya mohon doa dari para sahabat, semoga Allah memberikan saya kemampuan untuk menyampaikan agama ini dengan sebaik-baiknya.
Dan mari kita doakan saudara kita ini agar Allah buka hatinya, sehingga kita bisa masuk surga bersama.
***
Ini saudara muslim kita dari Prancis, berjumpa saat mendaki Jabal Nur, menuju Gua Hira. Saya memang selalu mengusahakan berziarah ke Gua Hira setiap ke Tanah Suci, sejak haji 2018 lalu, hingga kini menjadi muthawif Umroh Bareng Maharrani . Ini safar umroh syawal lalu.
20 Agustis 2026
Sumber FB Ustadz : Fakhry Emil Habib