Ketenangan hati merupakan salah satu kenikmatan yang didambakan setiap manusia. Kekuatan fisik, kecantikan rupa, kekayaan, dan berbagai kemewahan lahiriah tidak akan terasa sempurna tanpa ketenangan hati. Sebab, hati yang tenteram membuat seseorang mampu menikmati kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Sebaliknya, kegelisahan hati merupakan keadaan yang tidak diinginkan siapa pun. Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh ketenangan dan menghindarkan diri dari perasaan gelisah. Namun, kenyataan terkadang berkata lain. Kegelisahan tetap datang meskipun seseorang merasa telah rajin beribadah.
Pertanyaan pun muncul: mengapa hati masih gelisah padahal shalat telah dijaga, zikir telah dibaca, dan ibadah lainnya rutin dilaksanakan?
Dalam keadaan seperti ini, ibadah seakan-akan belum memberikan pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Ia belum sepenuhnya menjadi penenang ketika seseorang menghadapi musibah, konflik rumah tangga, tekanan pekerjaan, maupun kesulitan hidup lainnya.
Tentu, kegelisahan dapat muncul karena banyak faktor. Tulisan ini secara khusus mengajak pembaca melakukan evaluasi dari sisi spiritual dan sosial. Setidaknya, terdapat tiga kemungkinan yang perlu direnungkan, yaitu kualitas ibadah yang belum terjaga, kemaksiatan yang masih menutupi hati, dan hubungan sosial yang belum baik.
#nahdlatululama #nuonline #hati #gelisah #ibadah
Sumber FB : NU Online
