
๐ง๐๐๐๐๐๐ก ๐ฆ๐๐๐๐ง ๐๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐ ๐ ๐จ๐๐ช๐๐ฌ๐๐ ๐๐๐ก ๐๐๐ ๐ฆ๐จ๐๐ฌ๐๐ก
Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq
Tidak ada akhlaq yang lebih mampu untuk menundukkan hati manusia selain sifat hilm. Akhlaq yang satu ini bukan sekadar kemampuan dalam menahan amarah, tetapi juga kelapangan jiwa untuk memaafkan, keteguhan akal untuk tidak dikuasai emosi, kedermawanan dalam memberi, serta kemuliaan hati yang memilih kelembutan padahal saat itu memiliki kemampuan untuk membalas. Karena itulah, sifat ini selalu menjadi ciri orang-orang besar sepanjang sejarah.
Sebagian ahli hikmah berkata:
ูู ูุฏุฑู ุงูู ุฌุฏ ุฃููุงู ุฐูู ูุฑู .. ุญุชู ูุฐููุง ูุฅู ุนุฒูุง ูุฃููุงู .. ููุดุชู ูุง ูุชุฑู ุงูุฃููุงู ู ุดุฑูุฉ .. ูุง ุตูุญ ุฐู ูููู ุตูุญ ุฃุญูุงู
"Suatu kaum tidak akan mencapai puncak kemuliaan, meskipun mereka berasal dari keturunan yang mulia, hingga mereka rela direndahkan di hadapan orang lain. Mereka dicaci, tetapi wajah mereka tetap berseri. Itu semua bukan sikap memberi maaf karena kehinaan, melainkan bentuk kemaafan yang lahir dari keluhuran sifat hilm."[1]
Di antara tokoh besar dalam sejarah Islam, Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu termasuk sosok yang sangat dikenal dengan keluasan sifat hilm-nya. Beliau bukan hanya menghiasi pribadinya dengan akhlaq yang agung ini, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana untuk memimpin manusia.
Sifat hilm dan kelapangan dada Mu'awiyah radhiyallahu’anhu telah menjadi buah bibir dan teladan yang masyhur sepanjang sejarah. Kisah-kisah tentang hal itu sangat banyak, bahkan dua orang ulama besar, yaitu al Hafizh Ibnu Abi ad Dunya dan al Hafizh Ibnu Abi 'Ashim, sampai menulis kitab khusus yang menghimpun riwayat-riwayat mengenai sifat hilm Mu'awiyah.
๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ณ๐ฎ๐ ๐ต๐ถ๐น๐บ๐ป๐๐ฎ
Dan berikut ini adalah di antara riwayat yang bisa kita angkat terkait keteladanan beliau dalam masalah ini.
๐ญ. ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฎ๐ณ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐น๐๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐๐ป๐๐ฎ
Ada seseorang yang mencaci maki Muawiyah radhiyallahu’anhu dengan kata-kata kasar yang menyakitkan. Namun beliau diam tidak menghiraukan. Lalu ada yang berkata kepadanya: "Mengapa engkau tidak menghukumnya?"
Mu'awiyah menjawab dengan santai:
ุฅูู ูุฃุณุชุญู ุฃู ูุถูู ุญูู ู ุนู ุฐูุจ ุฃุญุฏ ู ู ุฑุนูุชู
"Aku malu jika kesabaranku ternyata lebih tipis daripada satu kesalahan yang dilakukan oleh salah seorang rakyatku."[2]
๐ฎ. ๐ ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ฎ๐ป๐ฐ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฐ๐ฒ๐น๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ถ
Ada seseorang yang berkata kepada Mu'awiyah radhiyallahu’anhu, “Demi Allah, engkau harus berlaku lurus dalam memimpin kami, wahai Mu'awiyah. Jika tidak, kami akan meluruskanmu.'
Mu'awiyah bertanya, “Dengan apa kalian akan meluruskanku?”
Orang itu menjawab, “dengan senjata.”
Mu'awiyah pun menjawab,
ุฅุฐู ูุณุชููู
“Kalau begitu, kami akan berlaku lurus.”[3]
Ucapan tersebut menunjukkan ketenangan dan kelapangan jiwa beliau. Kalimat kasar bahkan bernada ancaman yang ditujukan kepadanya tidak dibalas dengan kemarahan, tetapi dengan jawaban yang menenangkan suasana.
Dalam riwayat lain ada seorang laki-laki berkata kepada Mu'awiyah, "Aku belum pernah melihat orang yang lebih hina darimu."
Mu'awiyah menjawab,
ุจูู، ู ู ูุงุฌู ุงูุฑุฌุงู ุจู ุซู ูุฐุง
"Ada, yaitu orang yang mau meladeni orang dengan ucapan seperti ini."[4]
Hal ini menunjukkan kebijaksanaan Mu'awiyah dalam menghadapi penghinaan. Alih-alih membalas dengan kata-kata kasar, ia mengingatkan bahwa kehinaan yang sesungguhnya bukan terletak pada orang yang dihina, melainkan pada orang yang menjadikan celaan sebagai akhlaknya.
๐ฏ. ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ถ๐ป๐ฎ๐ธ๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐น๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐๐ฎ๐ป
Diceritakan bahwa Mu'awiyah radhiyallahu’anhu sering sengaja menemui orang-orang yang beliau ketahui menyimpan kebencian terhadap dirinya untuk meminta pendapat mereka. Mereka pun berbicara sesuai kadar kebencian yang ada dalam hati mereka, bahkan tidak jarang melontarkan berbagai celaan kepada beliau.
Namun Mu'awiyah membalas semua itu dengan sifat hilm, kesabaran, dan kelapangan hati. Sikap tersebut lambat laun meluluhkan hati mereka, hingga akhirnya mereka berubah menjadi sahabat-sahabatnya yang setia. Ketika beliau meminta bantuan, mereka pun siap menolong, dan ketika beliau memanggil mereka untuk mendukung suatu urusan, mereka segera memenuhi panggilannya.[5]
Pernah terjadi perdebatan antara seorang laki-laki bernama Abu al Jahm dengan Mu'awiyah. Dalam perdebatan itu Abu al Jahm mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati Mu'awiyah. Mu'awiyah hanya menundukkan kepala sejenak, kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata,
ูุง ุฃุจุง ุงูุฌูู ، ุฅูุงู ูุงูุณูุทุงู، ูุฅูู ูุบุถุจ ุบุถุจ ุงูุตุจูุงู، ููุฃุฎุฐ ุฃุฎุฐ ุงูุฃุณุฏ، ูุฅู ููููู ูุบูุจ ูุซูุฑ ุงููุงุณ
"Wahai Abu al Jahm, berhati-hatilah terhadap penguasa. Sebab apabila ia marah, kemarahannya seperti kemarahan anak kecil; namun apabila bertindak, tindakannya seperti singa. Sedikit saja tindakan darinya dapat mengalahkan kekuatan banyak orang."
Setelah itu Mu'awiyah justru memerintahkan agar Abu al Jahm diberi sejumlah harta.[6]
๐ฐ. ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ต ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ถ๐ป๐ฎ๐ป๐๐ฎ
Di antara kisah memukau tentang sifat hilm dalam perkata ini adalah apa yang diriwayatkan dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu. di mana pernah ada orang Quraisy berkata, "Aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang mampu membuat Mu'awiyah marah."
Sebagian orang menjawab,"Ia akan marah jika ibunya disebut."
Mendengar hal itu, seorang yang bernama Malik bin Asma' al Muna al Qurasyi berkata, "Jika kalian memberiku imbalan, aku akan membuatnya marah."
Mereka pun menyetujuinya.
Pada musim haji ia mendatangi Mu'awiyah dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kedua matamu sangat mirip dengan mata ibumu."
Mu'awiyah menjawab dengan tenang, "Benar. Kedua mata itu adalah mata yang dahulu sangat memikat Abu Sufyan."
Setelah itu beliau memanggil pelayannya yang bernama Syaqran seraya berkata, "Siapkan diyat untuk Asma' al Muna atas kematian putranya ini. Sesungguhnya aku telah membunuhnya, sementara ia sendiri tidak menyadarinya."
Malik pun pulang sambil membawa hadiah yang dijanjikan kepadanya.
Setelah peristiwa itu, di kemudian hari ada yang berkata kepada Malik bin Asma al Muna: "Jika engkau berani mengatakan hal yang sama kepada Umar bin Zubair sebagaimana yang engkau katakan kepada Mu'awiyah, kami akan memberimu hadiah sejumlah sekian."
Ia pun mendatangi Umar bin az Zubair dan mengucapkan kalimat sebagaimana yang pernah ia katakan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Namun responnya berbeda, Umar bin Zubeir marah dan langsung memerintahkan pengawalnya agar ia dipukul hingga meninggal dunia.
Ketika berita itu sampai kepada Mu'awiyah, beliau berkata,
ุฃูุง ูุงููู ูุชูุชู
"Demi Allah, sebenarnya akulah yang telah membunuhnya."
Lalu beliau mengirimkan kepada ibu Malik uang tebusan atas kematian anaknya tersebut.[7]
๐ฑ. ๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ ๐ธ๐ฒ๐น๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ๐ป๐๐ฎ.
Suatu ketika keponakannya, Abdurrahman bin Abi al Hakam, mengadu kepadanya: "Si Fulan telah mencaci makiku."
Mu'awiyah berkata:
ุทุฃุทุฆ ููุง؛ ูุชู ุฑ؛ ูุชุฌุงูุฒู
"Rendahkan saja kepalamu terhadapnya. Dengan begitu, ucapannya akan berlalu dan tidak akan mengenaimu."[8]
๐ฒ. ๐ฆ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ฝ ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ
Sebuah riwayat dari al Miswar bin Makhramah, ia berkata: “Aku pernah datang sebagai utusan menemui Mu'awiyah. Ketika aku masuk menemuinya, Mu'awiyah berkata kepadaku:'Bagaimana dengan kebiasaanmu mencela para pemimpin, wahai Miswar?'
Aku menjawab,'Biarkanlah persoalan itu. Marilah kita berbicara tentang tujuan kedatanganku.'
Mu'awiyah berkata, 'Tidak. Tapi sampaikanlah terus terang apa yang ada dalam hatimu.'
Maka aku tidak menyisakan satu pun hal yang menurutku patut dikritik darinya, kecuali semuanya kusampaikan kepadanya. Lalu Mu'awiyah berkata, 'Tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa. Bukankah engkau sendiri mempunyai dosa-dosa yang engkau khawatirkan akan membinasakanmu jika Allah tidak mengampuninya?'
Aku menjawab, 'Ya.'
Mu'awiyah pun berkata, 'Lalu apa yang membuatmu merasa lebih berhak berharap ampunan Allah daripada diriku?”
Ia melanjutkan:
ููุงููู ูู ุง ุฃูู ู ู ุงูุฅุตูุงุญ ุจูู ุงููุงุณ ูุฅูุงู ุฉ ุงูุญุฏูุฏ ูุงูุฌูุงุฏ ูู ุณุจูู ุงููู ูุงูุฃู ูุฑ ุงูุนุธุงู ุงูุชู ูุญุตููุง ูุงูุชู ูุง ูุญุตููุง ุฃูุซุฑ ู ู ุง ุชูู، ูุฅูู ูุนูู ุฏูู ููุจู ุงููู ููู ุงูุญุณูุงุช ููุนูู ุนู ุงูุณูุฆุงุช
‘Dan demi Allah, tugas-tugas yang aku emban berupa memperbaiki hubungan di antara manusia, menegakkan hukum-hukum Allah, berjihad di jalan-Nya, serta berbagai urusan besar yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, jauh lebih banyak daripada urusan yang engkau emban. Dan aku berada di atas sebuah agama yang mana dalam agama ini Allah menerima amal-amal baik dan mengampuni kesalahan-kesalahan.’
Al Miswar berkata: "Aku merenungkan perkataannya itu, lalu aku menyadari bahwa ia telah membantahku dengan hujah yang kuat."
Maka sejak saat itu, setiap kali al Miswar menyebut nama Mu'awiyah, ia selalu mendoakannya dengan kebaikan.[9]
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ป ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ณ๐ฎ๐ ๐ต๐ถ๐น๐บ๐ป๐๐ฎ
Qabishah bin Jabir berkata:
ู ุง ุฑุฃูุช ุฃุญุฏุง ุฃุนุธู ุญูู ุง، ููุง ุฃูุซุฑ ุณุคุฏุฏุง، ููุง ุฃุจุนุฏ ุฃูุงุฉ، ููุง ุฃููู ู ุฎุฑุฌุง، ููุง ุฃุฑุญุจ ุจุงุนุง ุจุงูู ุนุฑูู ู ู ู ุนุงููุฉ
"Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih memiliki hilm, lebih besar kewibawaannya, lebih panjang kesabarannya, lebih lembut dalam menyelesaikan persoalan, dan lebih luas kebaikannya kepada manusia daripada Mu'awiyah."[10]
Dalam sebuah riwayat, ada seseorang yang berkata kepada Mu'awiyah: "Wahai Amirul Mukminin, alangkah besarnya sifat hilm yang engkau miliki."
Beliau menjawab:
ุฅูู ูุงุณุชุญูู ุฃู ูููู ุฌุฑู ุฃุญุฏ ุฃุนุธู ู ู ุญูู ู
"Sesungguhnya aku merasa malu jika kesalahan seseorang ternyata lebih besar daripada keluasan sifat hilm yang kumiliki."
Ibnu Abbas pernah berkata tentangnya:
ู ุง ุฃูุฑู ุญุณุจู ูุฃูุฑู ู ูุฏุฑุชู ูุงููู ู ุง ุดุชู ูุง ุนูู ู ูุจุฑ ูุท ููุง ุจุงูุฃุฑุถ ุถูุง ู ูู ุจุฃุญุณุงุจูุง ูุญุณุจู
"Demi Allah, putra Hindun itu benar-benar memiliki kemuliaan nasab dan keluhuran pribadi. Demi Allah, tidak pernah sekalipun ia mencaci kami di depan umum, dan ia juga tidak pernah merendahkan nasab kami, padahal ia mampu melakukannya."[11]
Beliau juga berkata:
ูุฏ ุนูู ุช ุจู ุง ูุงู ู ุนุงููุฉ ูุบูุจ ุงููุงุณ ูุงููุง ุฅุฐุง ุทุงุฑูุง ููุน ูุฅุฐุง ููุนูุง ุทุงุฑ
"Aku mengetahui rahasia mengapa Mu'awiyah selalu mampu mengungguli manusia. Ketika orang-orang lain tergesa-gesa bertindak, ia justru tenang. Sebaliknya, ketika mereka berhenti dan bersikap pasif, ia justru bergerak."[12]
Al imam Sya’bi rahimahullah berkata:
ูุงู ุฏูุงุฉ ุงูุนุฑุจ ุฃุฑุจุนุฉ ูุฃู ุง ู ุนุงููุฉ ูููุฃูุงุฉ ูุงูุญูู
"Tokoh-tokoh Arab yang terkenal dengan kecerdikannya ada empat orang. Adapun Mu'awiyah, maka keistimewaannya terletak pada sikap tenang dan sifat hilm-nya."[13]
Abdul Malik bin Marwan berkata:
ู ุง ุฑุฃูุช ู ุซูู ูู ุญูู ู ูุงุญุชู ุงูู ููุฑู ู
"Aku tidak pernah melihat seorang pun yang sebanding dengannya dalam sifat hilm, kelapangan dada, dan kemurahan hatinya."[14]
๐ก๐ฎ๐๐ฒ๐ต๐ฎ๐๐ป๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ถ๐น๐บ
Mu'awiyah radhiyallahu’anhu pernah berkata:
ูุง ูุจูุบ ุงูุฑุฌู ู ุจูุบ ุงูุฑุฃู ุญุชู ูุบูุจ ุญูู ู ุฌููู، ูุตุจุฑู ุดููุชู، ููุง ูุจูุบ ุงูุฑุฌู ุฐูู ุฅูุง ุจููุฉ ุงูุญูู
"Seseorang tidak akan mencapai kematangan dalam pertimbangan dan kebijaksanaan hingga sifat hilm-nya mampu mengalahkan kebodohannya, dan kesabarannya mampu mengalahkan hawa nafsunya. Dan seseorang tidak akan mencapai derajat itu kecuali dengan kekuatan sifat hilm."
Beliau juga pernah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih mampu membunuh kebodohan selain sifat hilm. Sebab dengan hilm itu, orang yang penyantun mampu mengalahkan kebodohan.”[15]
Suatu ketika Mu'awiyah radhiyallahu’anhu ditanya oleh seseorang: "Siapakah manusia yang paling layak menjadi pemimpin?"
Beliau menjawab:
ุฃุณุฎุงูู ููุณًุง ุญูู ُูุณุฃู، ูุฃุญุณููู ูู ุงูู ุฌุงูุณ ุฎًููุง، ูุฃุญูู ูู ุญูู ูุณุชุฌูู
"Orang yang paling lapang jiwanya ketika diminta, paling baik akhlaknya ketika berada di tengah-tengah manusia, dan paling besar sifat hilm-nya ketika diperlakukan dengan kebodohan."[16]
Beliau pernah menulis surat yang isinya:
ุงูู ุชุซุจุช ู ุตูุจ ุฃู ูุงุฏ ูููู ู ุตูุจุง ูุฅู ุงูุนุฌู ูุฎุทุฆ ุฃู ูุงุฏ ูููู ู ุฎุทุฆุง ูุฅูู ู ู ูุง ูููุนู ุงูุฑูู ูุถุฑู ุงูุฎุฑู ูู ู ูุง ุชููุนู ุงูุชุฌุงุฑุจ ูุง ูุฏุฑู ุงูู ุนุงูู
"Orang yang berhati-hati dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang biasanya akan benar, atau setidaknya sangat dekat kepada kebenaran. Sebaliknya, orang yang tergesa-gesa biasanya akan keliru, atau setidaknya sangat dekat kepada kekeliruan.
Barang siapa tidak dapat mengambil manfaat dari kelembutan, niscaya ia akan celaka karena sikap kasarnya. Barang siapa tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman, ia tidak akan mampu meraih kedudukan yang tinggi.”[17]
Beliau pernah berkata:
ูุงููู ูุง ุฃุญู ู ุงูุณูู ุนูู ู ู ูุง ุณูู ูู، ูุฅู ูู ููู ู ููู ุฅูุง ู ุง ูุณุชุดูู ุจู ุงููุงุฆู ุจูุณุงูู، ููุฏ ุฌุนูุช ุฐูู ูู ุฏุจุฑ ุฃุฐูู ูุชุญุช ูุฏู ู
"Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang terhadap orang yang tidak mengangkat pedang kepadaku. Jika yang kalian lakukan hanyalah sekadar melampiaskan ucapan yang melegakan hati kalian, maka aku telah meletakkan semuanya di belakang telingaku dan di bawah telapak kakiku."[18]
Wallahu a’lam.
Simak bahasan lainnya,
Pengertian hilm dan keutamaannya: https://astofficial.id/contents/877/sifat-hilm-akhlaq-yang-mengangkat-derajat
Teladan menakjubkan dalam sifat hilm: https://astofficial.id/contents/878/teladan-menakjubkan-dari-sifat-hilm
________________________________________
[1] Mausu’ah Ibni Abi Dunya (2/56)
[2] Mukhtashar Minhaj al Qashidin hlm. 183
[3] Tarikh Dimasyq (59/184)
[4] Al Bidayah wa an Nihayah (11/441)
[5] 'Uyunul Akhbar (1/71)
[6] Al Bidayah wa an Nihayah (11/440)
[7] Al Mahasin wal Masawi' (1/221)
[8]Al Bidayah wa an Nihayah (8/197)
[9] Al Bidayah wa an Nihayah (11/436)
[10] Al Bidayah wa an Nihayah (11/439)
[11] Tarikh Dimasyq (59/186)
[12] Siyar A’lam an Nubala’ (3/154)
[13] Tarikh al Khulafa’ hlm. 243
[14] Al Bisayah wa an Nihayah (11/439)
[15] Tarikh Dimasyq (59/186)
[16] Al Bidayah wa an Nihayah (11/442)
[17] Tarikh Dimasyq (59/189)
[18] Al Bidayah wa an Nihayah (11/432), al ‘Aqd l Farid (4/171)
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq