
Oleh : Rahmat Taufik Tambusai
Amalan Sunnah tidak mampu mengantarkan seseorang menjadi orang yang bertakwa, tetapi diantara ciri - ciri orang yang bertakwa adalah selalu mengerjakan amalan - amalan Sunnah.
Yang mampu mengantarkan seseorang kepada derajat takwa adalah dengan mengerjakan ibadah - ibadah wajib yang telah diwajibkan Allah dan menjauhi perbuatan haram yang telah diharamkan oleh Allah.
Dan orang yang bertakwa sangat ketat dalam melakukan amalan wajib, sangat keras menjauhi perbuatan haram dan sangat suka mengerjakan amalan Sunnah.
Adapun amalan Sunnah di hari raya idul Fitri selain dari pada sholat Sunnah idul Fitri dan mendengarkan khutbah, diantara nya :
1. Mandi sebelum menghadiri sholat idul Fitri.
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Dari Nafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar senantiasa mandi di hari Idul Fitri sebelum ia berangkat ke tempat sholat. (HR. Malik )
2. Memakai pakaian yang terbaik, sesuai dengan kemampuan.
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki baju jubah yang biasa beliau gunakan untuk Idul Fitri dan Idul Adha, dan pada hari Jum’at. (HR. Ibnu Khuzaimah)
3. Makan sebelum menghadiri sholat idul Fitri, berbeda dengan idul Adha, disunnahkan tidak makan sampai selesai mengerjakan sholat idul Adha.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat hari raya Idul Fitri, Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau memakan daging hewan kurbannya. (HR. Ahmad )
4. Mengucapkan takbir sepanjang perjalanan ke tempat sholat id diadakan, sampai menjelang sholat dilaksanakan.
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari idul Fitri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir. ( HR. Ibnu Abi Syaibah )
5. Mengucapkan taqabbalallah Minna wa minkum setiap berjumpa dengan kaum muslimin.
فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك
Dari Jubair bin Nufair, bahwasanya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berjumpa pada hari id, satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)
6. Pergi pulang dari sholat idul Fitri melalui jalan yang berbeda.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di hari idul Fitri beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang. (HR. Bukhari, no. 986)
Demikian beberapa Sunnah yang bisa dikerjakan pada hari raya idul Fitri, untuk mengokohkan ketakwaan kita kepada Allah, sehingga menyempurnakan pahala ibadah selama bulan Ramadhan.
Pasir pengaraian, Jumat 20 Maret 2026
Sumber FB Ustadz : Abee Syareefa