Akhlak 3: Tasawuf dalam Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah: Tazkiyatun Nafs dan Akhlak Batin
Tasawuf merupakan salah satu dimensi penting dalam ajaran Islam yang berfungsi membina sisi batin seorang hamba agar selaras dengan akidah yang lurus dan syariat yang benar. Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, tasawuf tidak pernah dipisahkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak berdiri sendiri tanpa bimbingan ilmu dan adab.
Tasawuf bukanlah ajaran baru dalam Islam, melainkan bagian dari warisan keilmuan para ulama yang bertujuan menumbuhkan akhlak batin, membersihkan hati, dan menghadirkan kesadaran ihsan dalam seluruh aspek kehidupan.
Hakikat Tasawuf dalam Islam
Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa hakikat tasawuf adalah upaya untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), pengendalian hawa nafsu, dan pembinaan akhlak batin.
Tasawuf tidak identik dengan menjauh dari dunia, melainkan menata hati agar tidak diperbudak oleh dunia. Seorang muslim tetap menjalani kehidupan sebagaimana mestinya, namun hatinya terpaut kepada Allah dan akhirat.
Tazkiyatun Nafs sebagai Inti Tasawuf
Tazkiyatun nafs berarti membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit hati yang merusak iman dan amal. Penyucian jiwa ini merupakan proses panjang yang memerlukan kesungguhan, ilmu, dan bimbingan ulama.
Dalam kajian Aswaja, tazkiyatun nafs tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan ibadah yang benar. Shalat, puasa, zakat, dan dzikir bukan sekadar ritual, tetapi sarana pembinaan jiwa agar hati semakin bersih dan tenang.
Penyakit-Penyakit Hati yang Harus Dijauhi
Beberapa penyakit hati yang banyak dibahas dalam literatur tasawuf antara lain:
- Riya’, yaitu beramal karena ingin dipuji manusia
- Hasad, yaitu iri terhadap nikmat orang lain
- Ujub, merasa kagum berlebihan terhadap diri sendiri
- Takabbur, merasa lebih tinggi dari orang lain
Penyakit-penyakit ini dapat merusak amal lahir yang tampak baik, sehingga tasawuf berperan penting dalam menjaga keikhlasan dan kebersihan hati.
Akhlak Batin dalam Tasawuf Aswaja
Tasawuf Ahlussunnah wal Jama’ah menekankan pembinaan akhlak batin sebagai pondasi akhlak lahir. Akhlak batin yang baik akan melahirkan perilaku yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Ikhlas
Ikhlas berarti memurnikan niat semata-mata karena Allah. Dalam tasawuf, ikhlas dipandang sebagai ruh seluruh amal. Tanpa ikhlas, amal menjadi kering dan kehilangan nilainya di sisi Allah.
Sabar
Sabar tidak hanya dalam menghadapi musibah, tetapi juga dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat. Tasawuf mengajarkan kesabaran sebagai jalan menuju ketenangan jiwa dan kedewasaan spiritual.
Tawadhu
Tawadhu adalah sikap rendah hati yang lahir dari kesadaran bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Dalam tasawuf, tawadhu menjadi benteng dari kesombongan dan sumber kedamaian dalam hubungan sosial.
Tasawuf dan Syariat: Dua Jalan yang Tak Terpisahkan
Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, tasawuf tidak pernah bertentangan dengan syariat. Justru tasawuf berfungsi menyempurnakan pengamalan syariat agar tidak sekadar formalitas.
Para ulama selalu mengingatkan bahwa tasawuf tanpa syariat adalah kesesatan, sedangkan syariat tanpa tasawuf berpotensi melahirkan kekeringan spiritual. Keduanya harus berjalan seiring dalam membentuk kepribadian muslim yang seimbang.
Urgensi Tasawuf di Tengah Kehidupan Modern
Di tengah kehidupan modern yang serba materialistis, tasawuf menjadi penyeimbang yang menjaga manusia agar tidak terjebak dalam kekosongan batin. Tekanan hidup, persaingan, dan hiruk-pikuk dunia seringkali membuat manusia jauh dari ketenangan jiwa.
Tasawuf menawarkan jalan kembali kepada ketenangan melalui dzikir, muhasabah, dan pembinaan akhlak batin. Dengan demikian, tasawuf tetap relevan dan dibutuhkan sepanjang zaman.
Penutup
Tasawuf dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan jalan pembinaan akhlak batin yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, dan bimbingan ulama. Melalui tazkiyatun nafs, seorang muslim dibimbing untuk menjadi pribadi yang ikhlas, sabar, tawadhu, dan berakhlak mulia.
Dengan memahami tasawuf secara benar, seorang muslim tidak hanya menyempurnakan ibadah lahirnya, tetapi juga membangun kedekatan hati dengan Allah yang melahirkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kemuliaan akhlak.