
Menggapai Kesempurnaan Hari Raya: Sunnah, Kekeliruan, dan Bid’ah dalam Ibadah Shalat Ied dan Qurban
Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua hari raya agung dalam Islam. Keduanya dirayakan dengan ibadah khusus—Shalat Ied dan penyembelihan Qurban—yang seluruh tata caranya telah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Memahami sunnah Nabi dan menjauhi praktik yang muhdats (mengada-ada) adalah kunci meraih keberkahan dan kesempurnaan di hari-hari mulia ini.
I. Sunnah yang Mengawali dan Menyempurnakan Shalat Ied
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha memiliki sunnah-sunnah yang berbeda, terutama terkait waktu makan.
A. Sunnah Sebelum Berangkat Shalat Ied
- Mandi dan Berhias: Disunnahkan mandi sebelum berangkat, sebagaimana yang dianjurkan oleh para ulama, termasuk Imam An-Nawawi yang menyatakan kesepakatan ulama atas anjuran ini karena menjadi pertemuan banyak orang, mirip dengan Shalat Jumat. Umat Islam juga disunnahkan memakai pakaian terbaik (bukan harus baru, tetapi yang paling baik yang dimiliki) dan wewangian (khususnya bagi laki-laki).
-
Perbedaan Waktu Makan:
- Idul Fitri: Disunnahkan makan (sebaiknya kurma ganjil) sebelum berangkat Shalat Idul Fitri, sebagai penanda bahwa hari itu adalah akhir dari puasa. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas bin Malik, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah keluar pada hari Idul Fitri (ke tempat shalat) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil." (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).
- Idul Adha: Disunnahkan tidak makan sebelum shalat, dan baru makan setelah pulang dari shalat, dengan menyantap daging kurban (jika berkurban). Hadits Buraidah menyebutkan, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari raya Idul Adha melainkan setelah kembali dari shalat, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya." (HR. At-Tirmidzi).
- Takbir dan Jalan Kaki: Disunnahkan memperbanyak takbir saat menuju tempat shalat. Pada Idul Adha, waktu takbirnya lebih panjang, mencakup malam Arafah hingga hari-hari Tasyriq. Selain itu, Rasulullah ﷺ biasa berangkat shalat Ied dengan berjalan kaki dan pulang melalui jalan yang berbeda (tarkul thariq), seperti diriwayatkan Ibnu Umar, untuk memperluas syiar dan silaturahim.
B. Sunnah Saat Shalat Ied
- Tanpa Adzan dan Iqamat: Shalat Ied dilaksanakan tanpa adzan dan iqamat, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Abbas dan Jabir bin Samurah (HR. Muslim).
- Takbir Tambahan: Shalat Ied memiliki takbir tambahan, yaitu tujuh kali pada rakaat pertama (setelah takbiratul ihram) dan lima kali pada rakaat kedua (setelah takbir berdiri dari sujud). Mengenai mengangkat tangan saat takbir tambahan, ada perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama (seperti Imam Asy-Syafi'i dalam pendapatnya yang terkenal) menganjurkan mengangkat tangan, sementara sebagian lain (seperti Imam Malik) berpendapat tidak ada dalil shahih yang secara eksplisit menyebutkan hal itu. Namun, baik yang mengangkat atau tidak, ibadahnya tetap sah.
- Tidak Ada Shalat Qabliyah dan Ba'diyah: Tidak ada shalat sunnah qabliyah (sebelum) maupun ba'diyah (sesudah) Shalat Ied di lapangan (mushalla). Imam Ibnul Qayyim berkata: "Nabi maupun sahabat-sahabat beliau tidak pernah mengerjakan shalat apapun setelah mereka sampai di tempat shalat ('Ied), baik sebelum shalat ('Ied) maupun sesudahnya." (Zadul Ma’ad, 1/425). Jika Shalat Ied dilaksanakan di masjid, Shalat Tahiyatul Masjid tetap disunnahkan sebelum duduk.
II. Kekeliruan dan Bid’ah Seputar Hari Raya
Dalam merayakan hari raya, banyak kekeliruan dan praktik yang tidak memiliki landasan syar'i (bid’ah) yang perlu diwaspadai:
A. Kekeliruan Terkait Ibadah Shalat Ied
- Mengkhususkan Ibadah di Malam Ied: Berkeyakinan adanya syariat menghidupkan malam Idul Fitri atau Idul Adha dengan ibadah khusus (seperti Shalat Malam tertentu) yang tidak didasarkan pada dalil shahih termasuk kekeliruan. Hadits mengenai “siapa yang menghidupkan malam Ied, hatinya tidak akan mati” dinilai dhaif (lemah) oleh ulama hadits seperti Syaikh Al-Albani (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhaifah wal Maudhu'ah).
- Menganggap Shalat Ied di Masjid Lebih Utama: Meskipun boleh, sunnah Nabi adalah melaksanakannya di lapangan terbuka (mushalla) kecuali ada uzur (hujan lebat, dll.). Syaikh Masyhur Hasan Salman mencatat kekeliruan ini karena berpaling dari sunnah yang telah konsisten dilakukan Nabi ﷺ.
- Meninggalkan Shalat Fardhu: Begadang untuk merayakan malam Idul Fitri atau Idul Adha hingga meninggalkan Shalat Subuh berjamaah, atau bahkan melalaikan Shalat Fardhu lainnya karena kesibukan hari raya, adalah kesalahan yang serius karena Shalat Fardhu adalah rukun Islam yang wajib, jauh lebih utama daripada perayaan hari raya.
B. Kekeliruan Sosial di Hari Raya
- Tabarruj dan Campur Baur: Keluarnya wanita dalam keadaan tabarruj (berlebihan dalam berhias dan menampilkan perhiasan/aurat) dan memakai wewangian yang dapat menarik perhatian laki-laki asing adalah penyimpangan syariat. Demikian pula bercampur baur dan berdesak-desakan antara laki-laki dan wanita bukan mahram di tempat shalat atau tempat wisata adalah dosa yang dilarang.
- Mengkhususkan Ziarah Kubur di Hari Raya: Mengkhususkan waktu ziarah kubur pada Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha adalah praktik yang tidak memiliki dasar sunnah dan dikategorikan bid’ah. Syaikh Ali Mahfudz dan Syaikh Al-Albani menegaskan bahwa ziarah kubur disyariatkan kapan saja, tidak dikhususkan pada hari raya.
- Berjabat Tangan dengan Bukan Mahram: Saling berjabat tangan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram saat bersilaturahim adalah pelanggaran syariat yang harus dihindari.
III. Sunnah dan Kekeliruan dalam Ibadah Qurban (Idul Adha)
Ibadah Qurban memiliki aturan khusus yang harus dijaga kemurniannya:
- Waktu Penyembelihan: Waktu penyembelihan yang sah adalah setelah Shalat Idul Adha dan khutbahnya selesai, hingga akhir Hari Tasyriq (sebelum matahari terbenam pada 13 Dzulhijjah). Menyembelih sebelum shalat Ied, meskipun sudah beranjak pagi, tidak dianggap qurban melainkan sedekah biasa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Barangsiapa menyembelih sebelum shalat, maka ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa menyembelih setelah shalat dan dua khutbah, sungguh ia telah menyempurnakan ibadah kurban dan mendapat sunnah kaum Muslimin." (HR. Al-Bukhari).
- Larangan Mencukur Rambut/Kuku bagi Pekurban: Bagi orang yang berniat berkurban, disunnahkan tidak mencukur atau memotong kuku dan rambut sedikit pun sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih. Larangan ini berdasarkan hadits Ummu Salamah (HR. An-Nasa'i). Ini adalah sunnah yang sering dilalaikan.
- Membagikan Daging Kurban: Sunnahnya adalah membagi daging kurban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dimakan sendiri dan keluarga, sepertiga untuk dihadiahkan kepada kerabat dan tetangga (meskipun mampu), dan sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Imam Ahmad bin Hanbal menyukai pembagian ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas.
Dengan memahami dan menerapkan sunnah-sunnah ini, serta menjauhi bid’ah dan kekeliruan yang berkembang di masyarakat, umat Islam dapat merayakan Idul Fitri dan Idul Adha dengan ibadah yang sah, khusyuk, dan penuh makna, meneladani secara sempurna tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Fikih Ibadah Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan Qurban
- Sunnah Sebelum dan Saat Shalat Ied: (Mandi, Pakaian, Perbedaan Waktu Makan Ied Fitri vs Ied Adha, Takbir, Jalan Kaki, Takbir Tambahan, Tanpa Qabliyah/Ba'diyah)
- Ulama Rujukan: Imam An-Nawawi, Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Abbas, Jabir bin Samurah.
- Kekeliruan dan Bid’ah Hari Raya: (Mengkhususkan Ibadah Malam Ied, Meninggalkan Fardhu, Tabarruj/Campur Baur, Mengkhususkan Ziarah Kubur, Berjabat Tangan Bukan Mahram)
- Ulama Rujukan: Syaikh Al-Albani, Syaikh Masyhur Hasan Salman, Syaikh Ali Mahfudz.
- Sunnah dan Kekeliruan Qurban: (Waktu Penyembelihan, Larangan Potong Kuku/Rambut, Pembagian Daging)
- Ulama Rujukan: Imam Ahmad bin Hanbal.
Artikel Sumber :
- Amalan Sunnah Sebelum dan Setelah Salat IED
- 9 Sunah Seebelum dan Saat Sholat Idul Adha, Mudah Diamalkan!
- Panduan Shalat Idul Adha dan Idul Fitri
- Khotbah Jumat: 6 Kekeliruan dalam Merayakan Idul Fitri
- Penyimpangan Seputar Shalat Ied
- DUA PULUH KESALAHAN DALAM HARI RAYA IDUL FITRI
- 6 Sunnah Nabi di Hari Idul Fithri
- Sholat Idul Adha Atau Idul Fitri (PDF)
Sumber : Kajian Ulama (Sunnah)
Sebagai rujukan utama kajian Ahlussunnah wal Jama’ah, silakan baca:
Pilar Utama Kajian Ulama Aswaja - Landasan Ilmu Ahlussunnah Wal Jamaah