Iman kepada Kitab-Kitab Allah dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Iman kepada kitab-kitab Allah merupakan bagian pokok dari bangunan aqidah Islam. Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, iman kepada kitab-kitab Allah dipahami sebagai keyakinan yang pasti bahwa Allah ﷻ telah menurunkan wahyu-Nya kepada para rasul dalam bentuk kitab dan suhuf sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Keimanan ini tidak berhenti pada pengakuan historis semata, tetapi meniscayakan sikap hormat, penerimaan, dan pengamalan terhadap ajaran Allah sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan-Nya. Kitab-kitab Allah adalah bentuk rahmat dan bimbingan agar manusia tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.
Makna Kitab dalam Perspektif Aqidah Islam
Kitab Allah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada para rasul-Nya sebagai pedoman hidup. Dalam aqidah Islam, kalam Allah bersifat qadim dari sisi makna dan bukan makhluk, sementara lafaz yang dibaca dan ditulis berada dalam ranah makhluk sebagai sarana penyampaian.
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah menjaga keseimbangan dalam memahami sifat kalam Allah, dengan berpegang pada nash dan penjelasan para ulama tanpa terjebak pada penyerupaan ataupun penolakan. Sikap ini meneguhkan kemurnian iman sekaligus menjaga akal dari spekulasi yang melampaui batas.
Kitab-Kitab yang Wajib Diimani
Seorang muslim wajib mengimani seluruh kitab yang Allah turunkan, baik yang disebutkan secara rinci maupun yang tidak disebutkan namanya. Di antara kitab yang dikenal secara jelas adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Dawud, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Keimanan ini bersifat menyeluruh dan tidak parsial. Seorang muslim tidak dibenarkan mengingkari kitab-kitab sebelumnya, meskipun syariat yang berlaku bagi umat Islam saat ini adalah syariat yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Al-Qur’an sebagai Kitab Penutup
Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Al-Qur’an diyakini sebagai kitab terakhir yang menyempurnakan dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an berfungsi sebagai tolok ukur kebenaran ajaran terdahulu serta menjadi pedoman hidup yang berlaku hingga akhir zaman.
Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai ibadah, tetapi juga dipahami, dihayati, dan diamalkan. Kedudukannya sebagai sumber utama ajaran Islam menjadikannya pusat rujukan dalam aqidah, ibadah, dan akhlak.
Pemahaman ini berkaitan erat dengan pembahasan tentang sumber ajaran Islam yang lurus, sebagaimana diulas dalam: Sumber Hukum dalam Islam .
Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap Kitab-Kitab Terdahulu
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan sikap adil dan proporsional terhadap kitab-kitab sebelum Al-Qur’an. Kitab-kitab tersebut diyakini berasal dari Allah, namun umat Islam juga meyakini bahwa telah terjadi perubahan dan penyelewengan dalam penyampaian dan pemahaman sebagian ajaran terdahulu.
Oleh karena itu, Al-Qur’an dijadikan sebagai rujukan utama untuk menilai kebenaran ajaran-ajaran yang dinisbatkan kepada kitab-kitab sebelumnya. Sikap ini mencerminkan keseimbangan antara iman dan kehati-hatian ilmiah.
Iman kepada Kitab dan Pembentukan Kepribadian Muslim
Iman kepada kitab-kitab Allah membentuk kepribadian seorang muslim yang berpegang teguh pada petunjuk Ilahi. Kitab Allah menjadi sumber nilai, norma, dan etika dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial.
Seorang muslim yang beriman kepada kitab Allah akan menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran, bukan hawa nafsu atau tekanan sosial. Hal ini melahirkan sikap istiqamah, adil, dan bertanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan.
Nilai ini sejalan dengan pembahasan tentang karakter iman yang benar dalam: Iman dan Akhlak .
Kesalahan dalam Memahami Kitab Allah
Di antara kesalahan yang muncul adalah memisahkan iman kepada kitab dari pengamalan isinya. Membaca dan menghafal kitab Allah tanpa menjadikannya pedoman hidup bertentangan dengan hakikat iman dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kesalahan lain adalah menafsirkan kitab Allah secara bebas tanpa kaidah ilmu yang benar, sehingga melahirkan pemahaman menyimpang. Oleh sebab itu, tradisi keilmuan Islam menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an melalui bimbingan ulama dan disiplin ilmu yang mapan.
Iman kepada Kitab Allah di Era Kontemporer
Di tengah perkembangan zaman dan arus informasi yang cepat, iman kepada kitab Allah menjadi penopang utama agar umat Islam tidak kehilangan arah. Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip universal yang relevan sepanjang masa, sekaligus solusi moral bagi berbagai problem kehidupan.
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan agar umat Islam tetap berpegang pada kitab Allah tanpa terjebak pada ekstremisme maupun sikap meremehkan ajaran agama. Dengan demikian, iman kepada kitab Allah menjadi sumber keseimbangan antara keimanan dan realitas sosial.
Penutup
Iman kepada kitab-kitab Allah merupakan fondasi penting dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Keyakinan ini meneguhkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk, melainkan menurunkan wahyu sebagai cahaya dan rahmat.
Dengan iman kepada kitab Allah, seorang muslim diarahkan untuk hidup berdasarkan nilai Ilahi, menjaga adab dalam beragama, dan berkontribusi membangun masyarakat yang berakhlak dan berkeadilan.
Bagian dari: Pilar Aqidah & Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah