Iman kepada Allah dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Iman kepada Allah adalah fondasi paling mendasar dari aqidah Islam. Tanpa iman yang benar kepada Allah ﷻ, seluruh praktik ibadah dan pemahaman keagamaan seseorang akan kehilangan arah dan makna yang sejati. Iman kepada Allah bukan sekadar pengakuan lisan atau kebiasaan ritual, tetapi merupakan keyakinan mendalam yang meresap dalam hati dan tercermin dalam sikap serta perilaku seorang hamba sepanjang hidupnya.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, iman kepada Allah merupakan bagian pokok dari rukun iman yang harus diyakini secara penuh oleh setiap muslim, sebagaimana ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ dan diwariskan oleh para sahabat serta para ulama mu‘tabar. Iman kepada Allah berkaitan dengan pengakuan terhadap eksistensi-Nya, sifat-sifat-Nya yang sempurna, serta kesadaran total bahwa Dialah Allah Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Mengetahui, dan Maha Mengatur segala sesuatu di alam semesta.
Definisi Iman kepada Allah
Menurut para ulama klasik yang dirujuk di situs NU Online, iman secara umum adalah “pembenaran yang pasti terhadap perkara yang sesuai dengan realitas berdasarkan dalil-dalil yang kuat”. Pendekatan ini menegaskan bahwa iman tidak boleh dibangun atas asumsi atau tradisi semata, tetapi harus berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah serta penjelasan ulama yang meyakinkan. 1
Dalam konteks iman kepada Allah, keyakinan ini berarti percaya dengan yakin bahwa Allah ﷻ adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, mempunyai sifat-sifat sempurna dan terjaga dari segala kekurangan atau persamaan dengan makhluk. Keyakinan ini tidak boleh mengandung keraguan sedikit pun, karena apa pun yang meragukan tentang Allah dapat merusak struktur keimanan seseorang. 2
Mengenal Allah dengan Sempurna
Untuk memperkuat iman kepada Allah, seorang muslim tidak hanya perlu mengetahui bahwa Allah itu ada, tetapi juga memahami sifat-sifat-Nya yang layak bagi keagungan-Nya dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak. Pengetahuan ini disebut sebagai makrifatullah — yaitu mengenal Allah dengan yakin dan tanpa keraguan. 3
Makrifatullah menjadi kewajiban pertama dalam hidup seorang muslim, karena darinya semua kewajiban lain menjadi bermakna. Seseorang yang belum memahami siapa Allah dengan benar tidak mungkin dapat beribadah dengan tepat dan ikhlas. Pengenalan kepada Allah ini mencakup pemahaman tentang keesaan-Nya, kemahakuasaan-Nya, kemahatahuan-Nya, dan sifat-sifat sempurna lainnya yang tidak mungkin dimiliki oleh makhluk manapun. 4
Peran Ilmu Tauhid dalam Memperkuat Iman
Ilmu tauhid adalah disiplin ilmu yang secara khusus membahas keesaan Allah serta sifat dan perbuatan-Nya. Ilmu ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari aqidah dan sangat penting untuk dipelajari oleh setiap muslim. Ilmu tauhid tidak sekadar tentang pengetahuan akademis, tetapi merupakan sarana untuk menanamkan dan memperkuat iman kepada Allah. 5
NU Online menjelaskan bahwa ilmu tauhid adalah ilmu yang memampukan seseorang untuk menetapkan aqidah agama berdasarkan dalil yang meyakinkan. Tujuan utama belajar tauhid adalah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan dalil yang pasti, sehingga seseorang terhindar dari pemahaman aqidah yang menyimpang dan berbahaya. 6
Ilmu tauhid tidak menolak akal, tetapi menempatkan akal dalam posisi yang proporsional di bawah wahyu. Akal digunakan untuk memahami dalil, bukan untuk menafsirkan wahyu berdasarkan hawa nafsu atau prasangka sendiri. Dengan demikian pendekatan ilmu tauhid sangat sesuai dengan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengutamakan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. 7
Hubungan Iman kepada Allah dan Perilaku Taqwa
Iman kepada Allah tidak hanya berdampak pada pemahaman teologis, tetapi juga secara langsung memengaruhi perilaku sosial dan moral seseorang. Seseorang yang beriman kepada Allah dengan sungguh-sungguh akan memiliki rasa takut kepada-Nya dalam setiap tindakannya, menjauhi perbuatan dosa, serta senantiasa berusaha mencapai keridhaan Allah dalam hidupnya.
Selain itu, iman kepada Allah juga mendorong sikap belas kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia, karena seorang mukmin memahami bahwa setiap amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari akhir. Sikap moral yang terbangun dari iman inilah yang menjadi ciri utama kehidupan seorang muslim yang benar. 8
Iman kepada Allah dan Ketakwaan Sehari-hari
Ketakwaan adalah buah nyata dari iman kepada Allah. Orang yang bertakwa menyadari bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa pun yang dilakukan hamba-Nya. Kesadaran ini mendorong seorang muslim untuk menjaga lisan, perilaku, dan hatinya dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. 9
Ketakwaan bukan hanya muncul pada saat beribadah, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari, seperti berlaku jujur, amanah, dan adil. Iman kepada Allah menyatukan dimensi batin dan lahir dalam kehidupan sehingga seorang muslim tidak hanya beribadah fisik, tetapi juga menjadi pribadi yang mulia secara moral dan sosial. 10
Tantangan Iman kepada Allah di Era Kontemporer
Di tengah arus informasi yang deras, pemahaman tentang iman kepada Allah sering kali direduksi menjadi slogan atau simbol tanpa disertai pemahaman dalil dan hikmah. Banyak orang yang mengaku beriman, tetapi pemahamannya dangkal dan mudah dipengaruhi wahana opini atau stereotip populer yang tidak mencerminkan realitas iman dalam Islam.
Oleh karena itu, memahami iman kepada Allah harus dilandaskan pada ilmu yang sahih dan metode yang benar, bukan sekadar ikut-ikutan atau berdasarkan asumsi pribadi. Pendekatan ini sesuai dengan wawasan Ahlussunnah wal Jama’ah yang menekankan keseimbangan antara dalil dan akal dalam memahami aqidah. 11
Penutup
Iman kepada Allah adalah fondasi paling mendasar yang memengaruhi seluruh struktur iman dan amal seorang muslim. Iman ini harus diyakini dengan keyakinan yang mantap, tanpa keraguan, dan dipupuk melalui ilmu, amalan, serta ketakwaan yang konsisten. 12
Dengan memahami iman kepada Allah secara benar berdasarkan dalil dan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, seorang muslim mampu menjalani kehidupannya dengan penuh kesadaran, keseimbangan, dan adab dalam segala aspek kehidupan.
Bagian dari: Pilar Aqidah & Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah