Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Hadits
Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber utama ajaran Islam yang memiliki kedudukan sangat mulia. Oleh karena itu, interaksi seorang muslim terhadap keduanya tidak cukup hanya dengan membaca atau menghafal, tetapi harus disertai dengan adab yang benar.
Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, adab terhadap Al-Qur’an dan Hadits merupakan bagian penting dari pengamalan ilmu. Ilmu tanpa adab akan menghilangkan keberkahan dan dapat menjerumuskan pada kesalahan pemahaman.
Makna Adab dalam Tradisi Keilmuan Islam
Adab berarti sikap hormat, tata krama, dan kesungguhan hati dalam berinteraksi dengan sesuatu yang mulia. Para ulama menempatkan adab di atas ilmu, karena adab menjadi pintu masuk bagi pemahaman yang benar.
Adab sebagai pondasi ilmu
Banyak ulama menegaskan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat tanpa adab. Hal ini berlaku terutama dalam mempelajari Al-Qur’an dan Hadits.
Adab lahir dan batin
Adab mencakup aspek lahir seperti sikap tubuh dan ucapan, serta aspek batin seperti keikhlasan, ketundukan, dan rasa takut kepada Allah ﷻ.
Adab terhadap Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan sebagai petunjuk hidup manusia. Oleh sebab itu, adab terhadap Al-Qur’an harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
Membaca dengan niat dan kesucian
Ulama menganjurkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci, dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar rutinitas.
Tadabbur dan pengamalan
Membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada lafaz, tetapi dilanjutkan dengan tadabbur dan pengamalan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Adab terhadap Hadits Nabi ﷺ
Hadits merupakan penjelas Al-Qur’an dan cerminan praktik Rasulullah ﷺ. Berinteraksi dengan hadits menuntut sikap hormat dan kehati-hatian.
Menghormati Rasulullah ﷺ
Menghormati hadits berarti menghormati Rasulullah ﷺ. Sikap meremehkan hadits sama dengan meremehkan sunnah Nabi.
Memahami sesuai kaidah ulama
Hadits harus dipahami berdasarkan penjelasan ulama, bukan ditafsirkan sembarangan tanpa ilmu hadits dan ushul fiqh.
Adab dalam Mengkaji dan Menyampaikan
Selain adab pribadi, Islam juga mengajarkan adab dalam mengkaji dan menyampaikan Al-Qur’an dan Hadits kepada orang lain.
Tidak tergesa-gesa dalam berfatwa
Ulama memperingatkan bahaya berbicara tentang agama tanpa ilmu, karena dapat menyesatkan diri sendiri dan orang lain.
Menyampaikan dengan hikmah
Dakwah dan pengajaran harus dilakukan dengan hikmah, kelembutan, dan mempertimbangkan kondisi mad’u.
Buah Adab terhadap Wahyu
Adab yang benar akan melahirkan pemahaman yang lurus, ketenangan hati, dan keberkahan ilmu.
Menumbuhkan ketakwaan
Interaksi yang beradab dengan Al-Qur’an dan Hadits akan memperkuat iman dan ketakwaan seorang muslim.
Penutup
Adab berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Hadits merupakan cermin keimanan seorang muslim. Dengan menjaga adab, umat Islam dapat memahami wahyu secara benar dan mengamalkannya sesuai tuntunan Ahlussunnah wal Jama’ah.