๐๐๐๐๐ฅ๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐๐จ๐๐๐ก ๐๐๐๐๐ก๐๐ก๐ฌ๐
Oleh Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
Diantara hal yang sangat tercela namun sayangnya menggejala di zaman kita hari ini adalah banyaknya orang yang lisannya begitu lincah berbicara tentang perkara yang dia sendiri tidak mengetahui ilmunya. Berbicara tanpa landasan ilmu termasuk hal yang sangat merusak bukan hanya kaitannya individu tapi juga masyarakat dan umat.
Terlebih jika pelakunya adalah orang yang ditokohkan, di mana pendukungnya atau kebanyakan orang mengira bahwa ucapannya tersebut adalah benar adanya sebab ketokohannya atau karena dia dianggap orang yang berpengetahuan.
Padahal orang berilmu sekalipun akan tahu di mana dia menempatkan diri, tak sembarang cuap-cuap, karena tentu dia sadar tak semua ilmu dia kuasai. Hal ini sebagaimana pepatah Arab mengatakan :
ููู ู ูุฏุงู ูุฑุณุงู
“Setiap medan itu ada pendekarnya masing-masing.”
Demikian juga disebutkan dalam sebuah riwayat, seorang ulama berkata :
ูุงู ุฅุจููุณ: ููุณ ุดูุก ุฃุดุฏ ุนูู ู ู ุนุงูู ุญููู ุฅู ุชููู ุชููู ุจุนูู ูุฅู ุณูุช ุณูุช ุจุญูู ููููู ุฅุจููุณ: ุฅุฐุง ุชููู ูููุงู ู ุฃุดุฏ ุนูู ู ู ุณููุชู
“Iblis berkata : ‘Tiada sesuatu yang lebih berat bagiku dari pada menghadapi orang berilmu nan bijaksana. Jika ia berbicara maka ia berbicara dengan ilmu dan jika ia diam maka ia diam dengan cara yang bijaksana. Iblis berkata lagi : ‘Jika ia berbicara maka itu lebih berat atasku daripada diamnya.”[1]
Berikut ini adalah pengingat dari ayat, hadits dan perkataan ulama agar setiap kita berhati-hati dalam berstatmen, berkomentar apalagi membedah sesuatu tanpa adanya landasan ilmu yang memadai.
Al Qur’an surah al Isra ayat 36 :
ََููุง ุชَُْูู ู َุง َْููุณَ ََูู ุจِِู ุนِْูู ٌ ۚ ุฅَِّู ุงูุณَّู ْุนَ َูุงْูุจَุตَุฑَ َูุงُْููุคَุงุฏَ ُُّูู ุฃَُٰููุฆَِู َูุงَู ุนَُْูู ู َุณْุฆًُููุง
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."
Hadits Nabawi, riwayat Bukhari dan Muslim :
ุฅَِّู ู ِْู ุฃَุดْุฑَุงุทِ ุงูุณَّุงุนَุฉِ ุฃَْู ُูุฑَْูุนَ ุงْูุนِْูู ُ، ََููุธَْูุฑَ ุงْูุฌَُْูู، ََْูููุซُุฑَ ุดُุฑْุจُ ุงْูุฎَู ْุฑِ، ََููุธَْูุฑَ ุงูุฒَِّูุง، َُْูููุชَِู ุงَّููุงุณُ ุจِุบَْูุฑِ ุนِْูู ٍ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyaknya orang yang minum khamr, dan banyaknya orang yang memberi fatwa tanpa ilmu."
Al Imam Sya’bi rahimahullah berkata :
ูุง ุฃุฏุฑู ูุตู ุงูุนูู
“Mengatakan aku tidak tahu adalah separuh ilmu.”[2]
Al imam Malik rahimahullah berkata :
ุฌูุฉ ุงูุนุงูู ูุง ุฃุฏุฑู ูุฅุฐุง ุฃุบูููุง ุฃุตูุจุช ู ูุงุชูู
“Benteng pertahanan orang yang berilmu adalah jawaban aku tidak tahu. Jika seandainya dia keliru mengucapkannya (padahal tahu tapi mengatakan tidak tahu) dia bisa dibenarkan.”[3]
Beliau juga berkata :
ู ู ุฅุฏุงูุฉ ุงูุนุงูู ุฃู ูุฌูุจ ูู ู ู ุณุฃูู
“Diantara tanda cacatnya seorang yang berilmu adalah dia mampu menjawab segala sesuatu.”[4]
Al Imam Ishaq bin Manshur rahimahullah berkata :
ุฅู ุงูุฐู ููุชู ุงููุงุณ ูู ูู ู ุง ูุณุชูุชููู ูู ุฌููู
“Sesungguhnya hanya orang gila yang bisa berfatwa untuk semua pertanyaan yang diajukan kepadanya.”[5]
Imam al Ghazali rahimahullah berkata :
ููู ูููุซ ู ู ุงูุฃูุฏู ู ู ูุง ูุฏุฑู ููู ุงูุฎูุงู ุจูู ุงูุฎูู
"Seandainya orang yang tidak tahu mau diam, maka akan sedikit terjadinya perselisihan di tengah-tengah masyarakat."[6]
Al Imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata :
ูููุฏ ูุชู ูุซูุฑ ู ู ุงูู ุชุฃุฎุฑูู ุจูุฐุง، ูุธู ุงู ู ู ูุซุฑ ููุงู ู ูุฌุฏุงูู ูุฎุตุงู ู ูู ู ุณุงุฆู ุงูุฏูู ููู ุฃุนูู ู ู ู ููุณ ูุฐูู. ููุฐุง ุฌูู ู ุญุถ
"Orang belakangan ini banyak yang terkecoh, mereka mengira bahwa siapa yang banyak bicara, suka debat dan gemar ribut adu mulut dalam masalah agama itu dianggap lebih alim dibanding orang yang tidak melakukannya. Jelas Ini kebodohan yang nyata !
ูููุณ ุงูุนูู ุจูุซุฑุฉ ุงูุฑูุงูุฉ ููุงุจูุซุฑุฉ ุงูู ูุงู. ููููู ููุฑ ููุฐู ูู ุงูููุจ ูููู ุจู ุงูุนุจุฏ ุงูุญู ุจูู ูุฒ ุจู ุจููู ูุจูู ุชูุจุงุทู
Ilmu itu bukanlah tentang siapa yang paling banyak cerita dan bicara. Tapi ilmu itu adalah cahaya yang dengannya seseorang bisa memahami kebenaran, lalu (dengan ilmu itu) dia mampu membedakan antara yang haq dan yang batil." [7]
Al Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata :
ู ู ุชููู ุจุบูุฑ ููู ุฃุชู ุจุงูุนุฌุงุฆุจ
“Barangsiapa berbicara tentang sesuatu yang bukan bidangnya, maka ia akan memunculkan banyak keanehan.”[8]
Wallahu a’lam.
_________
[1] Thuyuriyat (3/880)
[2] Musnad ad Darini (1/276)
[3] Siyar A’lam Nubala (8/77)
[4] Jami’ fi Sunan hal. 151
[5] Jami’ li ulum imam Ahmad (5/129)
[6] Qawaid al Hadits min Funun Musthalah al Hadits hal 390
[7] Bayan fi Fadh ilmu Salaf ‘ala Khalaf hal. 57
[8] Fathul Bari (3/584)
9 September 2024
๐ฆ๐๐๐ง ๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฆ๐ข๐๐จ๐ฆ๐
Oleh Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
Pada saat terjadi kejatuhan negeri Andalusia yang pertama, kaum Muslimin masih berhasil kembali bangkit dan bisa bertahan sampai 400 tahun kemudian.
Hal ini berkat dari perjuangan gigih tiga ulama besar pada masa itu, yakni al imam Abul Walid al Baji, Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Hazm rahimahumullah.
Ada beberapa strategi perjuangan yang dilakukan trio ulama kebanggaan umat tersebut. Diantaranya adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm :
"Andalus hanya mungkin bisa bangkit dari keterpurukannya jika orang-orang mulai memperbanyak diam, kecuali dalam perkara Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Masalah di tengah-tengah kita menjadi runyam, karena terlalu banyak orang yang suka berbicara namun justru bungkam saat harus menyampaikan kebenaran dan menolak kebatilan."
Apa yang dikatakan oleh Ibnu hazm ini sejalan dengan perkataan sayidina Ali radhiyallahu'anhu :
ูู ุณูุช ู ู ูุงูุนูู ุณูุท ุงูุฎูุงู
"Andai yang tak punya ilmu mau diam; niscaya akan selesai banyak perselisihan."
Dan apa yang dikatakan oleh al imam Ghazali rahimahullah :
ูู ุณูุช ู ู ูุง ูุฏุฑู ّููู ุงูุฎูุงู ุจูู ุงูุฎูู.
"Seandainya orang yang tidak tahu mau diam, maka akan sedikit terjadinya perselisihan di tengah² masyarakat."
Jika kita renungkan, masalah yang dihadapi oleh umat hari ini jauh lebih parah lagi. Bukan hanya sekedar banyaknya orang yang gemar bicara hal yang ia tidak kuasai, lalu diam terhadap kemunkaran. Tapi lihatlah, bahkan seringnya Amar Makruf Nahi Munkar dicegah dan difitnah, pelakunya dibully bahkan sampai di Bui.
Semoga segera lahir generasi imam Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Abu Walib al Baji untuk zaman ini.
25 September 2024
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq

