❌ SYAIKH WAHABI SEBUT ALLAH SAKIT
Barusaja saya dapat screenshot kitab dari Kyai Abdul Wahab Ahmad . Screenshot ini diambil dari kitab Syaikh Ibnu Utsaimin (Ulama besar Wahabi Saudi).
Kita semua tahu bahwa kaum Wahabi adalah kaum tekstualis yang berpegang pada makna dzahir teks-teks Al Qur'an dan Al Hadits;
๐ Kalau dzahir teks menyebut Allah punya ูุฏ maka mereka meyakini Allah punya tangan. Kenapa? Karena makna dzahir teks ูุฏ adalah tangan.
๐ Kalau dzahir teks menyebut Allah punya ุนูู maka mereka meyakini Allah punya mata. Kenapa? Karena makna dzahir teks ุนูู adalah mata.
๐ Kalau dzahir teks menyebut Allah punya ุณุงู maka mereka meyakini Allah punya betis. Kenapa? Karena makna dzahir teks ุณุงู adalah betis.
๐ Kalau dzahir teks menyebut Allah ููุฒู maka mereka meyakini Allah turun dari atas ke bawah. Kenapa? Karena makna dzahir teks ููุฒู adalah turun secara berpindah dari atas ke bawah.
Dan seterusnya.
Oleh sebab itu, kalau kaum Wahabi konsisten pada sikap berpegang pada makna dzahir teks, semestinya mereka juga akan mensifati Allah dengan sifat lupa. Kenapa? Karena makna dzahir teks ูุณู adalah lupa.
Didalam Al Qur'an disebutkan:
ูุณูุง ุงููู ููุณููู
"Mereka lupa pada Allah, maka Dia (Allah) lupa pada mereka"
Tapi, tentu saja Dadan Lesmana Rio Febrian Aswaja Tobat Abdullah Abdul Talib Abdul Rahman dkk akan menolak jika Allah disifati dengan sifat lupa. Kenapa? Karena mereka tidak konsisten didalam berpegang pada makna dzahir teks Al Qur'an dan Al Hadits.
Seandainya mereka konsisten berpegang pada makna dzahir, semestinya mereka meyakini Allah punya sifat LUPA, tapi sifat LUPA yang tidak sama dengan sifat LUPA nya makhluk.
Mereka perlu belajar bagaimana bersikap konsisten seperti yang dilakukan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin yang berkata:
ูููู ูุคุฐููู ุงุจู ุขุฏู ุงู ููุญู ุจู ุงูุฃุฐู . ูุงูุฃุฐูุฉ ุซุงุจุชุฉ ููุฌุจ ุนูููุง ุงุซุจุงุชูุง . ุงู ุงููู ุงุซุจุชูุง ูููุณู . ููุณูุง ุงุนูู ู ู ุงููู ุจุงููู . ูููููุง ููุณุช ูุฃุฐูุฉ ุงูู ุฎููู .
Artinya: "Firman Allah 'Bani Adam MENYAKITI-KU' maksudnya adalah RASA SAKIT menimpa-KU. Maka, sifat Sakit adalah ada (bagi Allah) dan wajib bagi kita untuk menetapkan adanya. Sesungguhnya Allah telah menetapkan sifat Sakit pada diri-Nya. Kita tidak lebih tahu daripada Allah tentang Allah. Akan tetapi sifat Sakit ini tidaklah sama seperti sifat sakitnya makhluk" (Kitab Majmu' Fatawa Wa Rasa'il Utsaimin, Juz 10 halaman 827)
Mereka pun bingung. Jika mereka konsisten, maka akan terjebak pada mensifati Allah dengan sifat kekurangan yang tidak pantas. Mau tidak konsisten, berarti mereka telah menolak makna dzahir.
Maha Suci Allah dari sifat-sifat kekurangan seperti lupa, sakit, dan sebagainya.
Sumber FB Ustadz : Saiful Anwar
16 Januari 2022 pada 19.12 ·