๐ค๐จ๐ฅ๐๐๐ก ๐จ๐ก๐ง๐จ๐ ๐ข๐ฅ๐๐ก๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ง๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐ก๐๐๐๐
Izin bertanya kiyai, apakah hukumnya berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia seperti untuk kedua orang tua dan lainnya.
๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ป
Oleh Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
Ulama bersepakat kebolehan menyembelih hewan qurban yang pahalanya untuk orang yang telah meninggal dunia bila itu adalah wasiat si mayit semasa hidupnya, artinya qurban itu kedudukannya untuk memenuhi wasiat tersebut.[1]
Namun mereka berbeda apabila tidak diwasiatkan, murni inisiatif dari anaknya atau orang lain yang masih hidup. Menurut mayoritas ulama tidak sah, sedangkan sebagian ulama berpendapat hal ini dibolehkan.
๐ญ. ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป
Kalangan Hanafiyah dan Hanabilah adalah yang berpendapat bahwa hal ini dibolehkan. Karena dua madzhab ini memandang qurban hukumnya adalah seperti sedekah yang mana sedekah pahalanya untuk mayit disepakati kebolehannya.[2]
Al Imam Kasani al Hanafi rahimahullah berkata :
ูุฅู ูุงู ุฃุญุฏ ุงูุดุฑูุงุก ู ู ู ูุถุญู ุนู ู ูุช ุฌุงุฒ
“Dan jika ada yang berqurban meskipun dengan cara berserikat salah satunya untuk orang yang meninggal dunia, maka hal itu dibolehkan.”[3]
Al Imam Buhuti al Hanbali rahimahullah berkata :
ุงูุชุถุญูุฉ (ุนู ู ูุช ุฃูุถู) ู ููุง ุนู ุญู. ูุงูู ูู ุดุฑุญู ูุนุฌุฒู ูุงุญุชูุงุฌู ููุซูุงุจ (ููุนู ู ุจูุง) ุฃู ุงูุฃุถุญูุฉ ุนู ู ูุช (ู) ุฃุถุญูุฉ (ุนู ุญู) ู ู ุฃูู ูุตุฏูุฉ ููุฏูุฉ
“Qurbannya orang yang sudah meninggal dunia bisa jadi lebih utama dari qurbannya orang yang masih hidup. Karena ketidakberdayaan mayyit dan dia lebih membutuhkan pahala. Pelaksanaan qurban atas mayit sama seperti pelaksanaan qurban orang yang hidup, dari sisi yang dimakan dagingnya, disedekahkan dan dihadiahkan.”[4]
Dalilnya :
Diantara dalil yang digunakan oleh kalangan yang membolehkan qurban untuk orang yang telah meninggal adalah riwayat berikut ini :
ุฃู ุนููุง ุฑุถู ุงููู ุนูู ูุงู ูุถุญู ุนู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุจูุจุดูู
“Bahwasanya sayidina Ali radhiyallahu’anhu pernah berqurban atas nama Nabi shalallahu’alaihi wassalam dengan menyembelih dua ekor domba.” (HR. Abu Daud)
๐ฎ. ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ผ๐น๐ฒ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป
Sedangkan umumnya para ulama mazhab Malikiyah dan Syafi’iyyah mengatakan tidak sah Qurban untuk orang yang telah meninggal dunia.[5]
Karena dalam pandangan ulama kelompok ini, berqurban untuk orang meninggal adalah bentuk mengalihkan amal ibadah kepada pihak lain yang dilarang oleh keumuman ayat surah an Najm ayat 39 :
َูุฃَْู َْููุณَ ِููุฅْูุณَุงِู ุฅِูุง ู َุง ุณَุนَู
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm : 39)
Al Khami al Maliki rahimahullah berkata :
ูุฃูู ูุง ูุถุญู ุนู ู ูุช
“Karena sesungguhnya tidak boleh berqurban untuk orang yang sudah meninggal.”[6]
Berkata al imam Nawawi rahimahullah :
ููุง ุชุถุญูุฉ ุนู ุงูุบูุฑ ุจุบูุฑ ุฅุฐูู ููุง ุนู ู ูุช ุฅู ูู ููุต ุจูุง
“Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat.”[7]
Al imam Ramli rahimahullah berkata :
ูุง ุชูุน ุฃุถุญูุชู ุนู ู ูุช
“Tidak boleh berqurban untuk mayit.”[8]
Khatib asy Syarbini rahimahullah berkata :
ููุง ุชุถุญูุฉ ุนู ุงูุบูุฑ ุจุบูุฑ ุฅุฐูู ููุง ุนู ู ูุช
“Tidak boleh berqurban untuk orang lain yang bukan karena izinnya, dan tidak boleh juga untuk orang yang sudah meninggal.”[9]
๐๐๐ก๐ช ๐๐๐๐๐๐ข๐๐ฃ๐ ๐๐๐ ๐ ๐ฃ๐๐๐ฉ ๐๐๐ง๐ฆ๐ช๐ง๐๐๐ฃ ๐๐ฉ๐ช ๐๐๐๐ข๐๐๐ก๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ ๐๐๐ง๐ฉ๐ ๐จ๐ ๐ฌ๐๐ง๐๐จ ๐ข๐๐จ๐ ๐๐ฅ๐ช๐ฃ ๐๐ช๐ ๐๐ฃ ๐ฌ๐๐จ๐๐๐ฉ ?
Kalangan Hanafiyah dan Hanabilah tentu saja membolehkan, lalu disusul ulama Malikiyah ikut membolehkan tapi dengan adanya kemakruhan, sedangkan madzhab Syafi’iyyah tetap mutlak tidak membolehkan Qurban untuk orang yang telah meninggal dunia yang tanpa wasiat.[10]
Wallahu a’lam.
_______________
[1] Al Mausu’ah Fiqhiyah al Kuwaitiyah (5/106).
[2] Darr al Mukhtar (5/229), Kasyaful Qina’ (3/18).
[3] Badai’ ash Shanai’ (5/72)
[4] Syarh al Muntaha al Iradat (1/612)
[5] Mughni al Muhtaj (4/292), al Mahalli ‘ala al Minhaj (4/255).
[6] At Tabshirah (7/3471)
[7] Minhaj ath Thalibin (3/333).
[8] Tuhfatul Muhtaj (8/144)
[9] Mughni al Muhtaj (6/137)
[10] Al Bada’i (5/72), Hasyiah Ibn Abidin (5/214), Hasyiah ad Dusuqi (2/122), Nihayatul Muhtaj (8/136), al Mughni ‘ala Syarh al Kabir (11/107).
Sumber FB Ustadz : Ahmad Syahrin Thoriq
